Kisah Hijrah Mantan Asisten Koki Hotel yang Kini Buka Warkop
Fajar adhitya
Rabu, 04 Agustus 2021 - 17:45 WIB
Kisah hijrah mantan asisten koki hotel yang kini buka warkop. (Foto: Langit7.id).
Seorang pria bernama Suhamad (43) alias Emod merupakan pemilik usaha warung kopi (warkop) di wilayah Duren Jaya, Bekasi Timur. Dia memiliki pengalaman menarik ketika memutuskan hijrah dari tempat lamanya bekerja sebagai asisten koki hotel di bilangan Sarinah, Jalan Wahid Hasyim Jakarta.
Awal berkarier pada 1996, Emod hanya diminta bantuan sebagai karyawan bagian dapur (kitchen). Tugasnya tak lain hanya mencuci piring, membereskan tempat masak dan menyiapkan berbagai keperluan koki. Namun karena tak pernah mengeluh, satu tahun kemudian dia diangkat menjadi cook helper atau asisten juru masak.
Emod menceritakan, ketika itu dia mengalami masa-masa jaya. Mulai dari gaji tetap yang cukup besar kala itu sampai kesehariannya yang berfoya-foya. Tapi di balik kemeriahan hura-hura itu, dia merasakan hampa. Ada rasa jenuh yang tak tahu datang dari mana meski sudah hidup berkecukupan.
"Saat itu saya masih bujang. Jadi punya uang cuma untuk senang-senang. Saya kenal dunia malam, lingkungan hedonis hingga pergaulan-pergaulan yang negatif. Saya jauh sekali dari agama," kata Emod kepada Langit7, Rabu (4/8/2021).
Selama lima tahun bekerja, pada 2001 Emod memutuskan untuk keluar. Dia ingin hijrah dari kehidupan gemerlapnya itu. Karena tidak punya bekal apa-apa, bapak empat anak ini akhirnya kerja serabutan. Menurut dia, yang penting bisa menemukan kedamaian. Saat itu dia mengaku tidak tahu kalau jalannya harus 'masjid'.
Pemilik Warkop Asyakur ini pun akhirnya beralih profesi menjadi sopir pribadi seorang manajer di perusahaan properti. Ketika menjadi driver inilah dia mulai tergerak untuk beribadah. Karena banyak waktu luang menunggu bos pulang atau minta diantar ke suatu tempat, Emod pun pelan-pelan belajar lagi shalat.
"Ketika shalat ini saya merasa lebih tenang. Batin saya lebih damai, bahkan saya berani menolak ajakan teman-teman lama yang mentraktir saya kembali lagi (ke dunia malam)."
Awal berkarier pada 1996, Emod hanya diminta bantuan sebagai karyawan bagian dapur (kitchen). Tugasnya tak lain hanya mencuci piring, membereskan tempat masak dan menyiapkan berbagai keperluan koki. Namun karena tak pernah mengeluh, satu tahun kemudian dia diangkat menjadi cook helper atau asisten juru masak.
Emod menceritakan, ketika itu dia mengalami masa-masa jaya. Mulai dari gaji tetap yang cukup besar kala itu sampai kesehariannya yang berfoya-foya. Tapi di balik kemeriahan hura-hura itu, dia merasakan hampa. Ada rasa jenuh yang tak tahu datang dari mana meski sudah hidup berkecukupan.
"Saat itu saya masih bujang. Jadi punya uang cuma untuk senang-senang. Saya kenal dunia malam, lingkungan hedonis hingga pergaulan-pergaulan yang negatif. Saya jauh sekali dari agama," kata Emod kepada Langit7, Rabu (4/8/2021).
Selama lima tahun bekerja, pada 2001 Emod memutuskan untuk keluar. Dia ingin hijrah dari kehidupan gemerlapnya itu. Karena tidak punya bekal apa-apa, bapak empat anak ini akhirnya kerja serabutan. Menurut dia, yang penting bisa menemukan kedamaian. Saat itu dia mengaku tidak tahu kalau jalannya harus 'masjid'.
Pemilik Warkop Asyakur ini pun akhirnya beralih profesi menjadi sopir pribadi seorang manajer di perusahaan properti. Ketika menjadi driver inilah dia mulai tergerak untuk beribadah. Karena banyak waktu luang menunggu bos pulang atau minta diantar ke suatu tempat, Emod pun pelan-pelan belajar lagi shalat.
"Ketika shalat ini saya merasa lebih tenang. Batin saya lebih damai, bahkan saya berani menolak ajakan teman-teman lama yang mentraktir saya kembali lagi (ke dunia malam)."