Jokowi Kunjungi Ukraina dan Rusia, Ini Analisa Pengamat Militer
Jaja Suhana
Selasa, 28 Juni 2022 - 08:05 WIB
Ilustrasi. Foto: Langit7.id/iStock.
Langkah Presiden Joko Widodo (Jokowi) terbang ke Ukraina dan Rusia dalam rangka mengemban misi perdamaian diapresiasi oleh berbagai kalangan. Kepergian presiden tersebut dianggap sebagai langkah yang tepat.
Pengamat Militer, Nuning Kertopati mengatakan keputusan presiden untuk mendamaikan kedua negara itu sangat baik. Sebab konflik antara Ukraina dan Rusia menyebabkan dampak domino di bidang ekonomi dan krisis pangan di seluruh dunia.
"Bila dibiarkan perang Ukraina versus Rusia ini berlarut, dikhawatirkan terjadi krisis pangan dan energi akibat ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina. Selain itu akan membuat angka kemiskinan makin bertambah," ujar Nuning kepadaLangit7, Selasa (28/6/2022).
Baca Juga:Kunjungan Jokowi ke Rusia dan Ukraina Diharap Mampu Redam Konflik
Nuning menjelaskan, ada beberapa hal yang harus dipelajari oleh Presiden Jokowi dan Menlu Retno Marsudi dalam usaha mendamaikan kedua negara. Pertama, memelajari perang yang terjadi di Balkan saat ini masuk dalam kategori 'perang asimetris' dari perspektif ilmu Pertahanan.
"Rusia adalah kekuatan yang superior dan Ukraina adalah kekuatan yang inferior. NATO berusaha menancapkan kekuasaannya di Ukraina yang secara geografis berbatasan langsung dengan Rusia," katanya.
Kedua, perbandingan kekuatan militer dan anggaran perang jelas dimiliki Rusia. "Di atas kertas Rusia pasti ingin melaksanakan perang dalam waktu secepat-cepatnya sementara Ukraina pasti melancarkan perang berlarut, karena intervensi NATO," ucapnya.
Pengamat Militer, Nuning Kertopati mengatakan keputusan presiden untuk mendamaikan kedua negara itu sangat baik. Sebab konflik antara Ukraina dan Rusia menyebabkan dampak domino di bidang ekonomi dan krisis pangan di seluruh dunia.
"Bila dibiarkan perang Ukraina versus Rusia ini berlarut, dikhawatirkan terjadi krisis pangan dan energi akibat ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina. Selain itu akan membuat angka kemiskinan makin bertambah," ujar Nuning kepadaLangit7, Selasa (28/6/2022).
Baca Juga:Kunjungan Jokowi ke Rusia dan Ukraina Diharap Mampu Redam Konflik
Nuning menjelaskan, ada beberapa hal yang harus dipelajari oleh Presiden Jokowi dan Menlu Retno Marsudi dalam usaha mendamaikan kedua negara. Pertama, memelajari perang yang terjadi di Balkan saat ini masuk dalam kategori 'perang asimetris' dari perspektif ilmu Pertahanan.
"Rusia adalah kekuatan yang superior dan Ukraina adalah kekuatan yang inferior. NATO berusaha menancapkan kekuasaannya di Ukraina yang secara geografis berbatasan langsung dengan Rusia," katanya.
Kedua, perbandingan kekuatan militer dan anggaran perang jelas dimiliki Rusia. "Di atas kertas Rusia pasti ingin melaksanakan perang dalam waktu secepat-cepatnya sementara Ukraina pasti melancarkan perang berlarut, karena intervensi NATO," ucapnya.