LANGIT7.ID, Jakarta - Langkah Presiden Joko Widodo (Jokowi) terbang ke Ukraina dan Rusia dalam rangka mengemban misi perdamaian diapresiasi oleh berbagai kalangan. Kepergian presiden tersebut dianggap sebagai langkah yang tepat.
Pengamat Militer, Nuning Kertopati mengatakan keputusan presiden untuk mendamaikan kedua negara itu sangat baik. Sebab konflik antara Ukraina dan Rusia menyebabkan dampak domino di bidang ekonomi dan krisis pangan di seluruh dunia.
"Bila dibiarkan perang Ukraina versus Rusia ini berlarut, dikhawatirkan terjadi krisis pangan dan energi akibat ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina. Selain itu akan membuat angka kemiskinan makin bertambah," ujar Nuning kepada
Langit7, Selasa (28/6/2022).
Baca Juga: Kunjungan Jokowi ke Rusia dan Ukraina Diharap Mampu Redam KonflikNuning menjelaskan, ada beberapa hal yang harus dipelajari oleh Presiden Jokowi dan Menlu Retno Marsudi dalam usaha mendamaikan kedua negara. Pertama, memelajari perang yang terjadi di Balkan saat ini masuk dalam kategori 'perang asimetris' dari perspektif ilmu Pertahanan.
"Rusia adalah kekuatan yang superior dan Ukraina adalah kekuatan yang inferior. NATO berusaha menancapkan kekuasaannya di Ukraina yang secara geografis berbatasan langsung dengan Rusia," katanya.
Kedua, perbandingan kekuatan militer dan anggaran perang jelas dimiliki Rusia. "Di atas kertas Rusia pasti ingin melaksanakan perang dalam waktu secepat-cepatnya sementara Ukraina pasti melancarkan perang berlarut, karena intervensi NATO," ucapnya.
Baca Juga: Cegah Konflik Rumah Tangga, Ustadz Ginanjar: Utamakan KomunikasiKetiga, fakta bahwa 40 persen gas eropa asal Rusia, 35 persen paladium AS (bahan baku semikonduktor) asal Rusia, 67 persen Neon AS (Bahan baku semikonduktor) juga asal Ukraina.
"Jadi efek dominonya yang paling penting adalah harga pangan impor naik diikuti kenaikan barang-barang lokal plus biaya logistik melonjok plus harga BBM menanti subsidi yang lebih besar," tuturnya.
Menurut dia, dengan mempelajari peta kekuatan tersebut diharapkan pemerintah Indonesia dapat merumuskan konsep perdamaian yang dapat diwujudkan.
"Kita jangan sampai meleset dalam memprediksi siapa yang memenangkan perang tersebut. Sejarah menunjukkan bahwa kekuatan superior seperti Rusia ternyata kalah di Afghanistan, Amerika Serikat juga kalah di Vietnam dan Afghanistan," tuturnya.
Baca Juga: Pemprov DKI Cabut Izin Usaha Seluruh Outlet Holywings(zhd)