Krisis Sri Lanka Makin Parah, Kendaraan Pribadi Dilarang Isi Bensin
Ummu hani
Rabu, 29 Juni 2022 - 17:41 WIB
Antrean panjang kendaraan roda dua di sebuah SPBU di Sri Lanka. (Foto: Langit7.id/iStock)
Pemerintah Sri Lanka menyetop sementara penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk kendaraan yang dianggap tidak penting selama dua minggu ke depan. Kebijakan ini dilakukan sebagai upaya pemerataan BBM sesuai kebutuhan di saat krisis yang melanda negara di Asia Selatan itu.
Kendaraan tidak penting yang dimaksud adalah mobil dan motor pribadi. Artinya, pemerintah hanya mengizinkan kendaraan umum, seperti bus, kereta, dan transportasi layanan boleh mengisi bahan bakar.
Baca Juga:Timeline Kebangkrutan Sri Lanka Akibat Gagal Bayar Utang
Kepala penelitian minyak dan gas di Investec, Nathan Piper mengatakan Sri Lanka menjadi negara pertama yang mengambil langkah drastis untuk menghentikan penjualan bahan bakar kepada masyarakat biasa. "Sejak krisis minyak pada 1970-an, ketika bahan bakar dijatah di AS dan Eropa mereka membatasi bahan bakar untuk mengurangi permintaan," kata Nathan seperti dilansir BBC, Rabu (29/6/2022).
Menteri Tenaga dan Energi Sri Lanka, Kanchana Wijesekera mengatakan Sri Lanka juga meminta bantuan ke produsen energi utama Rusia dan Qatar dalam upaya untuk mengamankan pasokan minyak murah. "Kami melakukan segala yang kami bisa untuk mendapatkan stok baru, tetapi kami tidak tahu kapan itu akan terjadi," ucap Wijesekera.
Baca Juga:Dubes RI: Evakuasi WNI di Sri Lanka Belum Jadi Pilihan Utama
Seperti diketahui, Sri Lanka sedang mengalami krisis ekonomi hingga mengalami kebangkrutan karena gagal bayar utang luar negeri (ULN) sebesar USD51 miliar atau sekitar Rp754 triliun. Akibatnya, Sri Lanka mengalami kekurangan kebutuhan pokok, salah satunya pasokan BBM.
Kendaraan tidak penting yang dimaksud adalah mobil dan motor pribadi. Artinya, pemerintah hanya mengizinkan kendaraan umum, seperti bus, kereta, dan transportasi layanan boleh mengisi bahan bakar.
Baca Juga:Timeline Kebangkrutan Sri Lanka Akibat Gagal Bayar Utang
Kepala penelitian minyak dan gas di Investec, Nathan Piper mengatakan Sri Lanka menjadi negara pertama yang mengambil langkah drastis untuk menghentikan penjualan bahan bakar kepada masyarakat biasa. "Sejak krisis minyak pada 1970-an, ketika bahan bakar dijatah di AS dan Eropa mereka membatasi bahan bakar untuk mengurangi permintaan," kata Nathan seperti dilansir BBC, Rabu (29/6/2022).
Menteri Tenaga dan Energi Sri Lanka, Kanchana Wijesekera mengatakan Sri Lanka juga meminta bantuan ke produsen energi utama Rusia dan Qatar dalam upaya untuk mengamankan pasokan minyak murah. "Kami melakukan segala yang kami bisa untuk mendapatkan stok baru, tetapi kami tidak tahu kapan itu akan terjadi," ucap Wijesekera.
Baca Juga:Dubes RI: Evakuasi WNI di Sri Lanka Belum Jadi Pilihan Utama
Seperti diketahui, Sri Lanka sedang mengalami krisis ekonomi hingga mengalami kebangkrutan karena gagal bayar utang luar negeri (ULN) sebesar USD51 miliar atau sekitar Rp754 triliun. Akibatnya, Sri Lanka mengalami kekurangan kebutuhan pokok, salah satunya pasokan BBM.