Vaksinasi Covid-19 Tidak Berdampak Gangguan Menstruasi
Garry Talentedo Kesawa
Sabtu, 07 Agustus 2021 - 10:04 WIB
Ilustrasi gangguan menstruasi. Foto: Langit7.id/ iStock
Gangguan menstruasi bisa muncul karena berbagai sebab. Misalnya, stres dan kelelahan hingga kondisi medis yang mendasarinya seperti fibroid dan endometriosis. Pemberian dosis vaksin Covid-19 dinyatakan aman bagi wanita dan tidak berdampak pada gangguan menstruasi.
Badan Obat-obatan Eropa (EMA) sudah melakukan penelitian terkait dengan kemungkinan terjadinya gangguan menstruasi akibat vaksinasi Covid-19. Menurut EMA, tidak ada kaitan sebab-akibat antara vaksin Covid-19 dan gangguan menstruasi.
EMA telah meneliti kasus-kasus gangguan menstruasi yang dilaporkan setelah vaksinasi dan meminta lebih banyak data dari pengembang vaksin untuk memeriksa masalah tersebut. Pada Jumat (6/8),EMA merekomendasikan trombositopenia imun (trombosit darah rendah), pusing, dan tinitus (telinga berdenging) untuk dimasukkan sebagai kemungkinan reaksi yang ditimbulkan oleh vaksin dosis tunggal Johnson & Johnson (J&J).
EMA menekankan manfaat vaksin J&J masih lebih besar dari risikonya. Mereka menambahkan bahwa 1.183 kasus pusing dan lebih dari 100 kasus tinitus telah dianalisis untuk mencapai kesimpulan itu. J&J belum memberikan tanggapannya.
Bulan lalu, EMA memasukkan gangguan degenerasi saraf langka, Guillain-Barr syndrome (GBS), sebagai kemungkinan efek samping dari suntikan J&J. Perusahaan yang berbasis di AS itu telah berjuang memasok vaksinnya ke Uni Eropa.
EMA juga menambahkan GBS sebagai kemungkinan efek samping vaksin AstraZeneca. Laporan tentang hal itu masih dipantau, kata EMA Jumat. Vaksin J&J dan AstraZeneca dikembangkan dengan teknologi yang serupa, namun menggunakan versi virus flu yang berbeda untuk membangun kekebalan tubuh. Sumber: Antaranews.com
Badan Obat-obatan Eropa (EMA) sudah melakukan penelitian terkait dengan kemungkinan terjadinya gangguan menstruasi akibat vaksinasi Covid-19. Menurut EMA, tidak ada kaitan sebab-akibat antara vaksin Covid-19 dan gangguan menstruasi.
EMA telah meneliti kasus-kasus gangguan menstruasi yang dilaporkan setelah vaksinasi dan meminta lebih banyak data dari pengembang vaksin untuk memeriksa masalah tersebut. Pada Jumat (6/8),EMA merekomendasikan trombositopenia imun (trombosit darah rendah), pusing, dan tinitus (telinga berdenging) untuk dimasukkan sebagai kemungkinan reaksi yang ditimbulkan oleh vaksin dosis tunggal Johnson & Johnson (J&J).
EMA menekankan manfaat vaksin J&J masih lebih besar dari risikonya. Mereka menambahkan bahwa 1.183 kasus pusing dan lebih dari 100 kasus tinitus telah dianalisis untuk mencapai kesimpulan itu. J&J belum memberikan tanggapannya.
Bulan lalu, EMA memasukkan gangguan degenerasi saraf langka, Guillain-Barr syndrome (GBS), sebagai kemungkinan efek samping dari suntikan J&J. Perusahaan yang berbasis di AS itu telah berjuang memasok vaksinnya ke Uni Eropa.
EMA juga menambahkan GBS sebagai kemungkinan efek samping vaksin AstraZeneca. Laporan tentang hal itu masih dipantau, kata EMA Jumat. Vaksin J&J dan AstraZeneca dikembangkan dengan teknologi yang serupa, namun menggunakan versi virus flu yang berbeda untuk membangun kekebalan tubuh. Sumber: Antaranews.com
(jak)