Kisah Baba Rafi Pernah Hampir Bangkrut, Kini Melantai di Bursa Saham
Muhajirin
Jum'at, 22 Juli 2022 - 19:55 WIB
Presiden Direktur PT Sari Kreasi Boga Tbk, Eko Pujianto (tengah) dan jajaran direksinya (Dok RAFI)
Presiden Direktur (Presdir) PT Sari Kreasi Boga Tbk (RAFI), Eko Pujianto, berhasil membuktikan usaha tidak akan mengkhianati hasil. Pada 2017 lalu, RAFI sudah berada di ujung tanduk kebangkrutan. Namun kini, pengelola waralaba Kebab Turki Baba Rafi itu menggelar penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO).
Pada tahun 2017, Baba Rafi pecah kongsi karena perceraian Hendy Setiono dengan istrinya Nilamsari Sahadewa. Maka kemudian kepemilikan Baba Rafi dipecah jadi dua yakni PT Baba Rafi Internasional dimiliki oleh Hendy Setiono dan PT Sari Kreasi Boga dimiliki oleh Nilamsari.
Singkat cerita, PT Sari Kreasi Boga sempat hampir bangkrut. Lalu Eko Pujianto membawa sejumlah investor untuk mengakuisisi perusahaan tersebut.
“Dari 2017 sudah di ujung tanduk. Kantor di kawasan Fatmawati, dari tiga lantai setengah jadi satu lantai. Enggak bisa bayar sewanya. Jadi harus pindah ke kantorku, nebeng. Dari tiga setengah lantai ke satu ruangan,” kata Eko kepada LANGIT7.ID, Kamis (21/7/2022).
Baca Juga: Inflasi AS Melambung Tinggi, Ini Dampaknya Bagi Ekonomi Indonesia
Sejak saat itu, Eko ditunjuk menjadi Presiden Direktur untuk membenahi laju perusahaan tersebut. Waktu itu dia tidak memegang saham sama sekali, karena ditunjuk secara profesional dan agar tidak ada campur aduk kepentingan.
Pada tahun 2017, Baba Rafi pecah kongsi karena perceraian Hendy Setiono dengan istrinya Nilamsari Sahadewa. Maka kemudian kepemilikan Baba Rafi dipecah jadi dua yakni PT Baba Rafi Internasional dimiliki oleh Hendy Setiono dan PT Sari Kreasi Boga dimiliki oleh Nilamsari.
Singkat cerita, PT Sari Kreasi Boga sempat hampir bangkrut. Lalu Eko Pujianto membawa sejumlah investor untuk mengakuisisi perusahaan tersebut.
“Dari 2017 sudah di ujung tanduk. Kantor di kawasan Fatmawati, dari tiga lantai setengah jadi satu lantai. Enggak bisa bayar sewanya. Jadi harus pindah ke kantorku, nebeng. Dari tiga setengah lantai ke satu ruangan,” kata Eko kepada LANGIT7.ID, Kamis (21/7/2022).
Baca Juga: Inflasi AS Melambung Tinggi, Ini Dampaknya Bagi Ekonomi Indonesia
Sejak saat itu, Eko ditunjuk menjadi Presiden Direktur untuk membenahi laju perusahaan tersebut. Waktu itu dia tidak memegang saham sama sekali, karena ditunjuk secara profesional dan agar tidak ada campur aduk kepentingan.