LANGIT7.ID, Jakarta - Presiden Direktur (Presdir) PT Sari Kreasi Boga Tbk (RAFI), Eko Pujianto, berhasil membuktikan usaha tidak akan mengkhianati hasil. Pada 2017 lalu, RAFI sudah berada di ujung tanduk kebangkrutan. Namun kini, pengelola waralaba Kebab Turki Baba Rafi itu menggelar penawaran umum saham perdana (
Initial Public Offering/IPO).
Pada tahun 2017, Baba Rafi pecah kongsi karena perceraian Hendy Setiono dengan istrinya Nilamsari Sahadewa. Maka kemudian kepemilikan Baba Rafi dipecah jadi dua yakni PT Baba Rafi Internasional dimiliki oleh Hendy Setiono dan PT Sari Kreasi Boga dimiliki oleh Nilamsari.
Singkat cerita, PT Sari Kreasi Boga sempat hampir bangkrut. Lalu Eko Pujianto membawa sejumlah investor untuk mengakuisisi perusahaan tersebut.
“Dari 2017 sudah di ujung tanduk. Kantor di kawasan Fatmawati, dari tiga lantai setengah jadi satu lantai. Enggak bisa bayar sewanya. Jadi harus pindah ke kantorku, nebeng. Dari tiga setengah lantai ke satu ruangan,” kata Eko kepada LANGIT7.ID, Kamis (21/7/2022).
Baca Juga: Inflasi AS Melambung Tinggi, Ini Dampaknya Bagi Ekonomi Indonesia
Sejak saat itu, Eko ditunjuk menjadi Presiden Direktur untuk membenahi laju perusahaan tersebut. Waktu itu dia tidak memegang saham sama sekali, karena ditunjuk secara profesional dan agar tidak ada campur aduk kepentingan.
Pengusaha muda asal Wonogiri itu mengawali langkah pembenahan dengan melakukan
back to basic. Misal, pemegang saham yang tadinya menerima gaji penuh dipangkas. Setelah itu, dia menganalisa peluang keuntungan dari bisnis tersebut.
Dari hasil analisa tersebut, Eko menyimpulkan bisnis penyedia bahan baku kebab itu masih menguntungkan. Dari situ pula dia melakukan restrukturisasi atau merampingkan tubuh perusahaan.
Karyawan dengan pekerjaan sedikit diberi pilihan, diberi surat mandat untuk menjadi tim
marketing. Itu salah satu cara untuk menaikkan omset. Pilihannya hanya dua, masuk tim
marketing atau mengundurkan diri.
Langkah Eko untuk merampingkan perusahaan bisa dibilang berhasil. Banyak karyawan yang memilih resign. Dari 300 orang, tersisa sekira 50 orang.
Baca Juga: Belajar dari Coca-Cola, Hadirkan Inovasi Bisnis Tak Kasatmata
Setelah analisa
back to basic, Eko lalu pelan-pelan mencari potensi keuntungan. Dia membangun relasi dan berkolaborasi, termasuk bekerjasama dengan beberapa selebritas. Eko juga memperbaharui semua outlet yang sudah ada.
“Nah, waktu itu sukses, bikin eksis lagi. Terus aku nguatin divisi belakang. Jadi, jenis bisnisnya ditambah, sebelumnya kan cuma buka outlet. Tapi ini supporting dari pusat ke
outlet berkaitan dengan bahan baku itu kurang. Jadi mindset
owner sebelumnya yang penting buka
outlet. Kadang sudah buka, bahan baku tidak ada,” kata Eko.
Saat pandemi mewabah pada 2020 lalu, mau tidak mau Eko harus membuat strategi baru. Sebab, kala itu pemilik modal rata-rata menahan diri untuk berinvestasi. Dia lalu membuat strategi stokis bahan baku di setiap kota besar.
Dengan adanya sistem stokis itu,
outlet-outlet makin terkontrol. Dia menunjuk penanggung jawab setiap stokis agar lebih termonitoring. Tak hanya itu, bahan baku pun tidak banyak yang bocor.
“Kan dulu belanja langsung ke pusat, kecil-kecil langsung ke pusat, repot juga. Akhirnya dengan adanya stokis itu kita kirim barang gelundungan ke stokis, stokis yang ngecer yang kecil-kecil,” kata Eko.
Baca Juga: 4 Cara Fokus Berwirausaha, Penting untuk Konsisten dan DisiplinDi sisi lain, stokis itu juga mencari
market, seperti ke toko-toko kelontong dan resto tradisional. Hal itu ternyata berhasil menaikkan omset. Eko juga pelan-pelan membangun jalur distribusi dan channel penjualan.
“Alhamdulillah, karena kita punya titik-titik distributor itu, akhirnya kita dibantu distributor. Mereka kan jualan bahan baku, otomatis kalau mereka mau banyak, mereka harus bantu kita nyari outlet, karena dia punya kepentingan bahan baku di situ,” tutur Eko.
Upaya-upaya Eko dan timnya berbuah manis. Kini, PT Sari Kreasi Boga Tbk menggelar penawaran umum saham perdana (
Initial Public Offering/IPO) dengan kode emiten RAFI. Rencananya, calon emiten ini akan melepas 948 juta saham atau 30,1 persen dari total saham perusahaan.
Perusahaan akan membuka penawaran di harga Rp120-Rp130 per saham. Artinya, perusahaan berpotensi meraup dana Rp113,7 miliar sampai Rp123,2 miliar. Masa
book building perseroan pada 18 Juli-22 Juli 2022.
Perusahaan juga akan menerbitkan waran dengan rasio 2:1 dengan harga
exercise Rp163. PT Investindo Nusantara Sekuritas akan bertindak sebagai penjamin emisi efek dan partisipan admin dalam IPO tersebut.
Baca Juga: Panduan Investasi Saham untuk Gen Z dan Milenial
Kini PT Sari Kreasi Boga Tbk merupakan perseroan terbatas yang tidak sekadar menjual Kebab Baba Rafi, tapi bergerak di bidang penjualan bahan baku dan waralaba makanan dan minuman. Sejumlah waralaba makanan dan minuman yang dimiliki dan dikelola perusahaan yakni Kebab Turki Babarafi, Container Kebab by Babarafi, Smokey Kebab, Sueger, Kebab Kitchen, Babarafi Cafe, Ayam Utuh, Jellyta, Raffi Express, dan Ayam Pul.
Per 2021, RAFI memiliki 969 outlet mitra waralaba yang tersebar di seluruh kota besar yang ada di Indonesia.
(jqf)