LANGIT7.ID, Jakarta - Milenial identik dengan gaya hidup boros. Itu tak lepas dari preferensi milenial menghabiskan uang untuk traveling hingga perilaku konsumtif lain, sehingga sekadar membeli rumah sendiri tak bisa.
Banyak milenial yang kurang peduli soal jaminan finansial di masa depan. Maka itu, Founder @kuliahsaham, Firman Siregar, menilai sangat penting mengedukasi milenial agar mau berinvestasi, hingga tak hanya bersenang-senang pada masa muda tapi juga masa tua nanti.
Baca Juga: Lawan Flexing dan Investasi Bodong, Firman Siregar Gagas @KuliahSaham untuk Edukasi Publik
Ada banyak jenis investasi yang tersedia mulai dari investasi saham, reksadana, obligasi, deposito, dan lain sebagainya. Menurut Firman, investasi yang memiliki
return paling tinggi adalah saham. Meski begitu, berinvestasi di sektor saham bukan sebuah kewajiban.
"Tidak ada kewajiban harus investasi di saham, karena tiap orang pasti punya profil risiko masing-masing, prinsip dasar investasi itu
high risk high return. Kalau kita tidak siap dengan risiko yang besar, kita investasi di sektor lain entah itu di deposito, ke obligasi dan sebagainya yang risikonya jauh lebih kecil," kata Firman kepada LANGIT7.ID, Senin (21/2/2022).
Jika siap menghadapi risiko dan berharap potensi
return yang besar, maka bisa memilih investasi saham. Hanya perlu menyesuaikan dengan profil risiko masing-masing.
Terkait investasi saham, Firman menyebut ada beberapa keuntungan yang bisa didapatkan. Pertama, segi return. Saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) didirikan pada 1983, harga saham masih Rp100,00. Namun hari ini sudah mencapai Rp6.800-an.
Pertumbuhan rata-rata investasi saham per tahun mencapai 11,5 persen sejak 1983. Angka 11,5 persen itu merupakan angka rata-rata. Dalam 10 tahun terakhir, pertumbuhan investasi saham mencapai 15 persen per tahun.
Dari sana bisa disimpulkan saham memiliki return paling besar dibandingkan instrumen investasi lain. Misal deposito yang hanya sekira 2-3 persen per tahun. Obligasi (surat utang) sekarang 4-6 persen per tahun. Pertumbuhan emas juga tak sebesar saham.
Kedua, saham bisa memberikan 2 jenis return yakni dividen (laba bagi hasil) dan
capital gain (selisih harga jual dengan harga beli).
Ketiga, investasi saham bisa dimulai dari dana kecil. Investasi saham sudah bisa dengan modal Rp100.000,00, bahkan harga saham paling murah di ISHG ada Rp5.000,00.
Keempat, saham bisa ditransaksikan setiap hari selama jam market buka. Itu merupakan salah satu instrumen yang likuid. Saat beli saham likuid, kapan pum butuh dana, bisa langsung jual saham.
"Beda kalau properti atau tanah, butuh uang besok, cari pembeli susah, karena enggak banyak orang yang mentransaksikan. Tapi Kalau saham bersifat likuid," kata Firman.
Hal yang Perlu Dilakukan Sebelum Investasi SahamFirman menjelaskan, ada beberapa hal yang mesti dilakukan sebelum berinvestasi saham. Pertama, harus memastikan atau mengerti instrumen saham, mengenal cara menganalisis, dan cara kinerja pergerakan saham seperti apa.
Jika sudah belajar dasar-dasar investasi saham, sudah bisa langsung buka rekening efek. Pembuatan rekening efek sekaran pun sudah mudah dan gratis. Bahkan sudah
full online. Jadi, tidak perlu datang ke kantor ISHG untuk mengisi formulir dan tanda tangan basah.
"Setelah daftar online atau buka rekening efek nanti akunnya jadi, tinggal deposit aja," kata Firman.
Kedua, sudah bisa transaksi jual beli saham. Investasi saham dan trading butuh jam terbang. Jadi, sambil berjalan harus menambah wawasan dan pengetahuan dalam berinvestasi dan trading saham.
"Enggak apa-apa sekarang mulai dulu aja dengan pengetahuan yang teman-teman punya, sambil buat akun saham, sambil trading, sambil investasi, sambil juga pengetahuan ditambah, semakin jam terbang juga tumbuh. Nah, semakin jam terbang tumbuh, nanti bisa tambah modal lagi, atau deposit lagi," ucap Firman.
Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Investasi SahamFirman menyebut ada tiga prinsip yang perlu diperhatikan saat berinvestasi saham yakni mengerti metode dalam menganalisa, manajemen uang yang benar, dan mengontrol psikologi. Manajemen uang penting, agar dana investasi yang dikeluarkan berasal dari dana dingin dan sesuai kebutuhan.
Mengontrol psikologi juga penting agar bisa menjaga portofolio atau investasi yang dilakukan bisa sampai pada tujuan. Tidak boleh mudah terpengaruh dengan omongan orang atau iming-iming di grup-grup telegram dan WA.
"Tetap fokus dengan analisis yang kita punya dan jiga mengontrol dari psikologi kita. Yang pasti mengerti bahwa investasi itu punya risiko, dan teman-teman harus siap dengan risikonya, dan harus disiplin dengan analisa yang sudah lakukan," kata Firman.
Jadi, kata dia, jika perusahaannya tidak prospektif lagi, atau salah masuk, mau tidak mau harus menjual saham dalam keadaan rugi. Namun jika harga sudah naik tapi belum mengenai
area taking profit atau harga wajar, lebih baik bersabar terlebih dahulu.
(jqf)