LANGIT7.ID-Jakarta; PAM Jaya menyiapkan lompatan besar pembiayaan lewat penawaran saham perdana (IPO) guna mempercepat modernisasi layanan air di Jakarta. Direktur Utama PAM Jaya, Arief Nasrudin, menekankan bahwa langkah ini dirancang agar proyek-proyek masif—mulai dari penggantian jaringan pipa menua, digitalisasi hingga smart water—bisa dibiayai tanpa menunggu ruang fiskal APBD.
Arief memaparkan kesiapan perusahaan menuju perusahaan terbuka dimulai dari perapian internal menyeluruh. “Progres IPO saat ini sedang di perjalanan kita housekeeping," ujar dia di Balaikota DKI Jakarta, Jumat (19/9/2025).
Ia menjelaskan prosesnya meliputi audit legal, keuangan, dan operasional, sembari membenahi tata kelola agar kinerja transparan, akuntabel, dan kredibel di mata publik maupun calon investor.
Baca juga: Jakarta Hadapi Tantangan Berat: Air Baku Tercemar, Intrusi Laut, hingga Kebocoran PipaPrasyarat reguler juga sedang ditempuh. Arief menyebut perubahan bentuk badan hukum sebagai kunci sebelum menuju pasar modal. “Kalau Perseroda nya nggak berubah, badan hukumnya nggak berubah, saya nggak bisa IPO,” ujar dia.
Dengan demikian, alur transformasi diarahkan berurutan, yakni persiapan legal, penguatan tata kelola, barulah eksekusi IPO ketika semua kelengkapan korporasi terpenuhi.
Ia menegaskan IPO tak sama dengan menukar kendali kepada swasta. “Tbk itu bukan privatisasi secara quote unquote seolah olah dikuasai oleh swasta, bukan,” ujar dia
Dalam pandangannya, mekanisme pasar modal justru memperluas partisipasi publik dan mengubah beban pembiayaan tetap ala kredit menjadi skema yang menyebar ke pemegang saham. “IPO itu saya nggak terikat sebenarnya… IPO itu justru menggalang dana masyarakat gitu ya, membuat kita tuh bisa menghasilkan dividen yang akan diberikan kepada masyarakat.”
Kebutuhan dananya tidak kecil. Arief mengungkap 70% pipa eksisting sudah berumur di atas 20 tahun dengan ongkos pembaruan yang sangat besar. Penggantian pipa disebutnya bisa menelan hingga belasan triliun rupiah, sementara modernisasi sistem menuntut integrasi dari hulu ke hilir agar kebocoran teknis maupun administratif dapat ditekan.
Digitalisasi layanan berjalan paralel. Ia menyebut harmonisasi sistem tagihan dan pemantauan pemakaian pelanggan telah disiapkan agar pengalaman pengguna lebih rapi, efisien, dan real time. “Super apps itu semuanya link ke semua facility yang memang kita miliki. Salah satunya memang yang berhubungan dengan pelanggan, jadi termasuk salah satunya billing… nanti dengan kita punya smart water meter,” ujar dia.
Arief juga menggarisbawahi fungsi super apps untuk pengawasan lapangan oleh masyarakat. Aplikasi menerima laporan galian tak standar dan keluhan layanan, lalu otomatis masuk ke dasbor internal untuk ditindaklanjuti. Transparansi proses diharapkan mendorong kedisiplinan kontraktor sekaligus mempercepat respons teknis.
Di luar pembiayaan kreatif, PAM Jaya terus mengejar target cakupan. Penguatan infrastruktur produksi, distribusi, serta peremajaan pipa menjadi basis untuk menggenjot layanan air perpipaan agar merata dan stabil—khususnya di kantong-kantong warga yang selama ini paling terdampak pasokan tidak menentu.
Dengan rencana IPO, PAM Jaya memosisikan diri sebagai BUMD modern yang membuka ruang partisipasi publik dalam pembiayaan infrastruktur strategis. Arief menutup dengan menegaskan kembali arah besarnya: menjaga kendali pemerintah sekaligus memperluas akses pendanaan agar modernisasi air Jakarta tidak lagi tertunda.
(lam)