LANGIT7.ID-Dalam perjalanan panjang hidup saya, kegiatan usaha dan aktivitas intelektual senantiasa berjalan berdampingan. Sejak masa Tsanawiyah dan PGA di Bima pada akhir 1970-an, saya sudah terbiasa mencari penghasilan sendiri. Saya berdagang buku-buku agama Islam yang saya ambil dari toko-toko buku di Bima, lalu menjualnya ke Labuan Bajo dan daerah sekitarnya. Setiap libur catur wulan, saya hampir selalu pulang pergi Bima–Labuan Bajo. Kadang dua hingga tiga kali dalam satu musim libur, tergantung panjang pendeknya waktu liburan yang tersedia.
Terkadang, dari hasil penjualan buku-buku tersebut, saya membeli kopi untuk dijual kembali ke Bima. Labuan Bajo dan wilayah Manggarai memang dikenal sebagai salah satu penghasil kopi terbaik di Indonesia. Saya belajar secara otodidak—tentang mutu kopi, cara menyimpannya, dan cara memasarkan kembali.
Kegiatan ini bukan semata-mata untuk menambah uang saku, tetapi juga bagian dari ikhtiar saya agar tetap bisa membaca dan memperluas ilmu pengetahuan, di luar pelajaran formal. Alhamdulillah, kebiasaan membaca yang tumbuh dari pengalaman berdagang itu sangat membantu saya ketika masuk dunia kampus pada tahun 1980-an.
Di sanalah saya menyadari, bahwa berdagang tidak harus menjadi penghalang bagi kegiatan intelektual. Justru, pengalaman praktis di lapangan memberi kedalaman tersendiri saat saya membaca buku, berdiskusi, atau mengikuti forum-forum ilmiah. Dunia usaha dan dunia gagasan dapat saling memperkaya, selama ada semangat belajar yang tulus dan kemauan menjaga integritas nilai.
Rindu Kegiatan IntelektualKini, setelah puluhan tahun berkecimpung dalam dunia usaha, saya kembali merasakan satu kerinduan yang tak bisa dipenuhi oleh grafik laba, ekspansi pasar, atau kesibukan rapat bisnis. Ada bagian jiwa yang rindu untuk merenung, berdialog, menulis, dan membangun makna. Rindu pada kegiatan intelektual yang memberi arah, bukan sekadar aktivitas.
Saya percaya, menjadi pengusaha bukan semata soal mengelola modal dan mencetak keuntungan. Lebih dari itu, bisnis harus menjadi jalan pengabdian—berkontribusi bagi bangsa, menciptakan lapangan kerja, mendorong keadilan sosial, dan memperkuat karakter masyarakat.
Karena itu, saya mulai mengatur ulang waktu. Saya kembali membuka buku-buku lama yang dulu pernah saya kagumi—karya Fazlur Rahman, Kemal Hassan, atau Nurcholish Madjid yang membahas pemikiran Islam secara kritis dan terbuka. Juga pemikiran masa depan ala Alvin Toffler dan Ziauddin Sardar yang mengajak kita membaca zaman dengan pandangan melampaui hari ini.
Oleh sebab itu, mungkin ke depan saya harus mulai lagi belajar menulis tentang ide-ide yang selama ini hanya mengendap dalam pikiran. Saya memang terbiasa berdialog dengan banyak kalangan, khususnya generesai muda—mendengar pertanyaan-pertanyaan polos tapi substantif dari mereka. Dan tak jarang saya dibuat tertegun oleh semangat belajar dan berkarya mereka.
Rindu ini tidak perlu ditekan. Justru harus disambut, dijaga, dan dikembangkan. Karena saya percaya, bila semakin banyak pengusaha yang merawat semangat intelektual, arah dunia usaha akan lebih jernih: mengurangi moral hazard, berpihak, bijak, dan bermakna.
Wallahu a'lam bishawab
Di tengah keheningan malam, Tangerang, 15 Oktober 2025 (Wakil Ketua Pimpinan Pusat Jaringan Saudagar Muhammadiyah)
(lam)