Oleh: Umar Jahidin
LANGIT7.ID-Banyak orang yang saya jumpai tampak sederhana. Bahkan, dalam pandangan sepintas, terlihat seperti tidak tahu apa-apa.
Mereka tidak banyak bicara. Tidak gemar menonjolkan diri. Tidak sibuk memamerkan pencapaian. Namun diam-diam, mereka menyimpan pengetahuan. Ternyata mereka insan pembelajar sejati. Mereka terus bertumbuh walau dalam sunyi sekalipun.
Sebagian dari mereka juga ada yg terluka.
Bukan oleh pisau atau pedang. Bukan oleh benturan fisik. Tetapi oleh kata-kata. Oleh ejekan. Oleh cibiran. Oleh penilaian yang tergesa-gesa. Memang lukanya tidak berdarah, tetapi terasa sangat dalam.
Anehnya, orang- orang seperti ini tetap tenang. Tetap sabar. Seolah tdk ada masalah. Bagi saya, itu sangat luar biasa.
Saya sering bertanya dalam hati: dari mana datangnya ketenangan seperti itu? Ketenangan dan kesabaran tingkat dewa.
Saya juga mencoba cari jawabannya.
Ternyata jawabannya adalah puasa.
Tentu puasa yang sesungguhnya.
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa adalah latihan jiwa. Ia melatih kita untuk tidak bereaksi berlebihan. Ia mendidik kita agar tidak membalas setiap luka dengan amarah. Ia mengajarkan bahwa tidak semua hal perlu ditanggapi.
Dibulli Tambah Kuat, Dibenci Tapi MenangSuatu ketika — saya lupa persis tahunnya — saya menyaksikan sebuah perdebatan calon presiden dan wakil presiden di sebuah negeri tetangga. Sebut saja negeri itu: Konoha.
Ada seorang calon presiden yang tampak sederhana. Cara bicaranya biasa saja. Bahasa presentasinya tidak rumit. Bahkan dalam beberapa sesi debat, ia terlihat terpojok.
Lalu ia menutup salah satu jawabannya dengan kalimat yang mengundang perhatian:
"Menurut saya yang bodoh ini…"
Mendengar jawabsn seperti itu, sebagian orang mungkin tersenyum sinis. Sebagian menganggapp itu kelemahan. Sebagian lagi mungkin melihatnya sebagai ketidaksiapan secara akademik.
Tetapi saya menangkap sesuatu yang berbeda.
Kalimat itu bukan pengakuan ketidakmampuan. Itu adalah kerendahan hati yang sadar diri. Seolah ia ingin berkata: mungkin saya tidak fasih menyusun teori, mungkin saya tidak lincah merangkai istilah ilmiah, tetapi saya mengerti persoalan. Saya bisa membatin masalahnya. Dan saya akan mengerjakannya.
Memang akhirnya selalu ada perbedaan antara yang pandai menjelaskan dan mampu mengeksekusi.
Ada orang yang menang dalam perdebatan, tetapi kalah dalam tindakan.
Ada pula yang tampak kalah dalam debat, tetapi menang dalam kenyataan.
Saya teringat filosofi sederhana seorang pengusaha pejuang yg pernah saya tulis di media ini:
"Tidak ada yang tidak mungkin, kecuali takut memulai/ mengeksekusi".
Karena sesungguhnya orang-orang yang sering diremehkan justru biasanya terlatih menghadapi tekanan. Dan ujungn-ujungnya mereka selalu berhasil mencapai tujuan.
Yang pasti saat debat itu berakhir, saya berbisik pelan ke istri yg ikut nonton di samping saya: bahwa inilah Capres yg bakal menang jadi Presiden di negeri Konoha. Dan kemudian itu menjadi kenyataan.
Adab di Atas Ilmu: Catatan PenutupAkhir-akhir ini kita merasa prihatin.
Ruang-ruang publik dipenuhi hiruk-pikuk perdebatan. Satu persoalan dilihat dari berbagai perspektif, sesuai sudut pandang dan data masing-masing.
Perbedaan itu wajar. Bahkan sehat dalam sebuah negara demokrasi. Namun yang mengusik adalah cara menyampaikannya.
Ujung-ujungnya bukan lagi adu gagasan, tetapi saling menghujat.
Bukan lagi menguji argumentasi, tetapi saling membenci dan membully.
Dan itu terjadi dalam banyak hal.
Ada yang memperdebatkan soal ijazah: asli atau palsu, berikut turunannya — skripsi, KKN, transkrip nilai, hingga detail administratif lainnya. Ada pula yang mempersoalkan secara etik keputusan Mahkamah Konstitusi terkait batas usia pencalonan wakil presiden. Termasuk polemik penyetaraan ijazah SMA sebagai syarat administratif pencalonan.
Semua itu menurut saya boleh diperdebatkan.
Perbedaan cara pandang adalah keniscayaan. Data yang dimiliki tiap pihak bisa berbeda. Penafsiran terhadap aturan pun bisa beragam. Namun cara menyampaikan perbedaan — apalagi di hadapan publik luas — itulah yang seharusnya dijaga.
Kita tidak ingin ada yang terluka, walaupun ia salah.
Apalagi jika ia tidak salah.
Hukum harus berdiri tegak lurus, sekalipun langit runtuh. Tidak boleh tebang pilih. Tidak boleh berpihak kepada siapa pun, kecuali kepada kebenaran.
Tetapi dalam menegakkan kebenaran pun, adab tidak boleh ditanggalkan.
Karena tanpa adab, ilmu berubah menjadi kesombongan.
Tanpa adab, argumentasi berubah menjadi serangan.
Tanpa adab, kebenaran terasa seperti kebencian
Kita juga tidak menghendaki cacian terhadap tokoh tertentu justru menjadi keuntungan politis menjelang kontestasi pemilu. Kita ingin rakyat memilih dengan jernih. Bukan karena simpati kepada yang merasa dizalimi. Bukan pula karena benci yang dibangun secara emosional. Tetapi karena menilai kelayakan, kapasitas, dan integritas.
Negeri ini terlalu besar. Bukan negeri kecil.
Ia adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia. Demokrasi terbesar ketiga. Dan negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia dan sangat kompatibel dengan nilai-nilai universal demokrasi.
Last but not least, masa depan bangsa sebesar ini tidak boleh dipertaruhkan oleh perdebatan yang kehilsngan substansi, kehilangan kesantunan dan keadabannya. Wallahu a'alam bishawab. (Wakil Ketua Jaringan Saudagar Muhammadiyah dan CEO PT. ALVIN Group, tinggal di Tangerang,15 Feb 2026)
(lam)