WMO Sebut Gelombang Panas Diprediksi Sering Terjadi hingga 2060
Ummu hani
Senin, 25 Juli 2022 - 06:40 WIB
WMO Sebut Gelombang Panas Diprediksi Sering Terjadi hingga 2060. (Foto: Pixabay).
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan gelombang panas atau heatwave akibat perubahan iklim, akan sering terjadi hingga 2060 mendatang.
Penyebab gelombang panas dikaitakan dengan karena aktivitas manusia yang menyebabkan suhu di bumi meningkat.
Direktur kesehatan masyarakat dan lingkungan di WHO, Maria Neira menjelaskan, gelombang panas menjadu penutup atmosfer.
Baca Juga: Indonesia Tak Berpotensi Terjadi Gelombang Panas, Ini Penjelasan BMKG
Berbagai polutan yang terjebak menurunkan kualitas udara sehingga berpotensi meningkatkan risiko kesehatan, terutama bagi orang-orang yang rentan seperti orang tua.
"Perubahan iklim mempengaruhi kesehatan manusia. Banyaknya polutan juga berdampak pada perjuangan untuk mencapai emisi nol karbon bersih dan transisi penting ke sumber energi yang bersih dan terbarukan," ujar Maria, melansir dari situs WMO, Ahad (24/7/2022).
Selain itu, Sekretaris Jenderal WMO, Petteri Taalas menjelaskan, aktivitas manusia yang menyebabkan tingginya polusi juga terus berpengaruh pada gletser atau bongkahan besar kristal es yang cair.
Penyebab gelombang panas dikaitakan dengan karena aktivitas manusia yang menyebabkan suhu di bumi meningkat.
Direktur kesehatan masyarakat dan lingkungan di WHO, Maria Neira menjelaskan, gelombang panas menjadu penutup atmosfer.
Baca Juga: Indonesia Tak Berpotensi Terjadi Gelombang Panas, Ini Penjelasan BMKG
Berbagai polutan yang terjebak menurunkan kualitas udara sehingga berpotensi meningkatkan risiko kesehatan, terutama bagi orang-orang yang rentan seperti orang tua.
"Perubahan iklim mempengaruhi kesehatan manusia. Banyaknya polutan juga berdampak pada perjuangan untuk mencapai emisi nol karbon bersih dan transisi penting ke sumber energi yang bersih dan terbarukan," ujar Maria, melansir dari situs WMO, Ahad (24/7/2022).
Selain itu, Sekretaris Jenderal WMO, Petteri Taalas menjelaskan, aktivitas manusia yang menyebabkan tingginya polusi juga terus berpengaruh pada gletser atau bongkahan besar kristal es yang cair.