LANGIT7.ID, Jakarta - Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan
gelombang panas atau heatwave akibat perubahan iklim, akan sering terjadi hingga 2060 mendatang.
Penyebab gelombang panas dikaitakan dengan karena aktivitas manusia yang menyebabkan
suhu di bumi meningkat.
Direktur kesehatan masyarakat dan lingkungan di WHO, Maria Neira menjelaskan, gelombang panas menjadu penutup atmosfer.
Baca Juga: Indonesia Tak Berpotensi Terjadi Gelombang Panas, Ini Penjelasan BMKGBerbagai polutan yang terjebak menurunkan kualitas udara sehingga berpotensi meningkatkan risiko kesehatan, terutama bagi orang-orang yang rentan seperti orang tua.
"Perubahan iklim mempengaruhi kesehatan manusia. Banyaknya polutan juga berdampak pada perjuangan untuk mencapai emisi nol karbon bersih dan transisi penting ke sumber energi yang bersih dan terbarukan," ujar Maria, melansir dari situs WMO, Ahad (24/7/2022).
Selain itu, Sekretaris Jenderal WMO, Petteri Taalas menjelaskan, aktivitas manusia yang menyebabkan tingginya polusi juga terus berpengaruh pada gletser atau bongkahan besar kristal es yang cair.
"Namun di masa depan, gelombang panas semacam ini akan menjadi sesuatu yang normal. Kita akan melihat [cuaca] ekstrem yang lebih panas," ucap Taalas.
Taalas pun mendesak semua pihak di seluruh dunia untuk membendung pertumbuhan emisi yang menghasilkan polusi, terutama di negara-negara besar Asia.
Hal tersebut guna mencegah terjadinya kembali gelombang panas pada 2003 di Eropa dengan suhu mencapai 48 derajat celcius yang menewaskan 70.000 jiwa.
(bal)