Cerminan Doa dan Harapan, Begini Anjuran Islam Beri Nama Anak
Fifiyanti Abdurahman
Sabtu, 06 Agustus 2022 - 07:00 WIB
Memberi nama pada anak dianjurkan yang mengandung arti baik. Foto: Langit7/iStock.
Nama adalah doa, begitu kiasan yang diketahui banyak orang. Ungkapan tersebut tidak salah, karena sebuah nama adalah cerminan dari doa dan harapanorang tua pada anaknya.
Islam menekankan pada umatnya untuk memberikan nama yang baik pada anak-anak mereka. Seperti diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa Nabi Muhammad SAW berkata, "Kamu akan dipanggil pada Hari Kebangkitan dengan namamu dan nama ayahmu, jadi milikilah nama yang baik." (HR.Abu Dawud).
Baca juga: Bolehkah Berkurban Atas Nama Anak yang Belum Akil Baligh?
Dalam memilih nama, ada pedoman tertentu yang harus diikutiseorangmuslim.
Hal pertama yang perlu menjadi perhatian adalah jangan memakai nama yang mengandung arti atau berkonotasi buruk. Ini untuk mencegah anak tidak membenci atau mempermalukannya.
Dalam hal ini, Nabi SAW mengubah nama-nama buruh sahabat menjadi baik. Misalnya, dia mengubah nama seseorang dari "Qalilah" (Sedikit) menjadi "Kathirah" (Banyak), dan nama orang lain dari "`Aasiyah" (Pendosa) menjadi "Jamilah" (Cantik), dan seterusnya.
Selanjutnya, seorang muslim tidak boleh menyebut nama putranya seperti, "`Abdul-Ka`abah", "`Abdun-Nabi", "`Abdul-Hussayn", dan nama-nama seperti itu yang menyiratkan `Ubudiyyah (pengabdian) kepada selain Allah.
Islam menekankan pada umatnya untuk memberikan nama yang baik pada anak-anak mereka. Seperti diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa Nabi Muhammad SAW berkata, "Kamu akan dipanggil pada Hari Kebangkitan dengan namamu dan nama ayahmu, jadi milikilah nama yang baik." (HR.Abu Dawud).
Baca juga: Bolehkah Berkurban Atas Nama Anak yang Belum Akil Baligh?
Dalam memilih nama, ada pedoman tertentu yang harus diikutiseorangmuslim.
Hal pertama yang perlu menjadi perhatian adalah jangan memakai nama yang mengandung arti atau berkonotasi buruk. Ini untuk mencegah anak tidak membenci atau mempermalukannya.
Dalam hal ini, Nabi SAW mengubah nama-nama buruh sahabat menjadi baik. Misalnya, dia mengubah nama seseorang dari "Qalilah" (Sedikit) menjadi "Kathirah" (Banyak), dan nama orang lain dari "`Aasiyah" (Pendosa) menjadi "Jamilah" (Cantik), dan seterusnya.
Selanjutnya, seorang muslim tidak boleh menyebut nama putranya seperti, "`Abdul-Ka`abah", "`Abdun-Nabi", "`Abdul-Hussayn", dan nama-nama seperti itu yang menyiratkan `Ubudiyyah (pengabdian) kepada selain Allah.