Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 25 April 2026
home masjid detail berita

Solusi Krisis Umat: Pentingnya Istikamah Memegang Akar Ajaran Islam

miftah yusufpati Sabtu, 25 April 2026 - 05:00 WIB
Solusi Krisis Umat: Pentingnya Istikamah Memegang Akar Ajaran Islam
Menggigit Sunnah dengan geraham berarti melakukan pengorbanan apa punharta, waktu, hingga reputasidemi mempertahankan integritas ajaran. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Dunia Islam hari ini barangkali sedang berada dalam salah satu titik nadir perselisihan yang paling kompleks. Dari mimbar ke mimbar, dari organisasi ke organisasi, klaim atas kebenaran sering kali justru menjadi pemicu keretakan yang lebih dalam. Dalam situasi yang penuh kabut ini, menengok kembali nasihat Nabi shallallahu alaihi wa sallam kepada Hudzaifah bin Al-Yaman menjadi sebuah kemendesakan intelektual.

Syaikh Salim bin Ied al-Hilali dalam kitabnya, Al-Qaulul Mubin Fii Jama’atil Muslimin, menawarkan sebuah interpretasi tajam mengenai jalan keluar dari problematika kronis umat ini.

Inti dari solusi tersebut terletak pada sebuah tamsil yang terlihat sederhana namun sarat beban: menggigit akar pohon. Dalam dialognya dengan Hudzaifah, Rasulullah memerintahkan umatnya untuk meninggalkan seluruh kelompok sempalan yang menyeru ke pintu neraka Jahanam, bahkan jika untuk mempertahankan prinsip itu seseorang harus menggigit akar pohon hingga ajal menjemput. Menurut Syaikh Salim, ini bukan sekadar perintah untuk menyendiri, melainkan sebuah instruksi strategis untuk kembali kepada fondasi yang paling dasar.

Makna pertama dari menggigit akar pohon adalah perintah untuk berpegang teguh pada Al-Quran dan Sunnah sesuai dengan pemahaman salafush shalih atau generasi awal Islam yang kredibel. Instruksi ini selaras dengan hadits Al-Irbadh bin Sariyah radhiyallahu anhu yang merekam peringatan Nabi tentang masa depan umat yang penuh perselisihan:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

Dan barangsiapa yang hidup di antara kalian maka dia akan melihat perselisihan yang banyak sekali. Maka wajib bagi kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin, gigitlah erat-erat dengan gigi geraham kalian. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Penggunaan diksi geraham dalam hadits Al-Irbadh dan akar pohon dalam hadits Hudzaifah bukanlah tanpa alasan. Secara fisiologis, geraham adalah gigi yang paling kuat cengkeramannya. Secara ekologis, akar adalah bagian tumbuhan yang paling tegar menahan guncangan. Syaikh Salim menginterpretasikan hal ini sebagai bentuk istiqomah atau keteguhan luar biasa di tengah hantaman badai fitnah.

Analisis Syaikh Salim menyentuh sisi eskatologis yang menarik. Ia menggambarkan Islam sebagai sebuah pohon yang sedang diguncang angin kencang. Angin ini begitu dahsyat hingga mampu merontokkan ranting, cabang, dan daun-daun—yang disimbolkan sebagai kelompok-kelompok yang hanya mengejar kepentingan sesaat atau ideologi sempalan. Yang tersisa hanyalah akar. Tugas setiap muslim adalah memegang erat akar tersebut karena dari sanalah kehidupan akan tumbuh kembali.

Namun, apakah ini berarti umat harus bersikap pasif? Syaikh Salim membantahnya. Meskipun seseorang diperintahkan menjauhi kelompok sesat, ia tetap memiliki kewajiban untuk menolong dan membantu kelompok yang berpegang teguh pada kebenaran. Kelompok ini dalam tradisi sirah disebut sebagai Thaifah Manshurah, sebuah entitas yang selalu tampak di atas kebenaran hingga akhir zaman, bahkan hingga konfrontasi puncak melawan Dajal.

Karya-karya ilmiah internasional yang membahas ketahanan komunitas beragama, seperti yang ditulis oleh sosiolog Peter L. Berger dalam The Sacred Canopy (1967), sering menyebutkan bahwa di tengah krisis identitas dan pluralitas pemikiran yang membingungkan, manusia cenderung kembali ke tradisi primordial yang paling otentik untuk bertahan hidup. Dalam konteks Islam, tradisi primordial itu adalah Manhaj Salaf. Syaikh Salim menegaskan bahwa keselamatan tidak akan ditemukan dalam eksperimen ideologi baru, melainkan pada kemurnian sumber yang telah teruji.

Jalan keluar dari problematika umat, dengan demikian, bukan terletak pada pembentukan lebih banyak partai atau organisasi politik, melainkan pada upaya pembersihan akal dan hati dari perkara-perkara baru dalam agama (bidah) yang menyesatkan. Menggigit Sunnah dengan geraham berarti melakukan pengorbanan apa pun—harta, waktu, hingga reputasi—demi mempertahankan integritas ajaran.

Pada akhirnya, solusi yang ditawarkan Syaikh Salim melalui hadits Hudzaifah dan Al-Irbadh adalah sebuah ajakan untuk melakukan purifikasi total. Di tengah dunia yang kian bising dengan seruan-seruan yang menjanjikan surga padahal menyeret ke neraka, kembali menjadi asing bersama kebenaran adalah pilihan yang jauh lebih rasional daripada larut dalam mayoritas yang tersesat. Inilah strategi bertahan yang paling mumpuni: tetap tegak di atas akar ketika dahan-dahan lain telah patah diterjang badai.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 25 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:14
Maghrib
17:51
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)