Sekolabilitas, Bantu Kaum Difabel Mendapat Pendidikan Layak
Muhajirin
Rabu, 11 Agustus 2021 - 10:35 WIB
Ilustrasi anak difabel di sekolah (foto: langit7.id/istock)
Sampai saat ini masih banyak orang yang beranggapan bahwa para difabel tidak layak menempati posisi-posisi penting di tengah masyarakat. Pandangan itu membuat banyak kaum difabel tersingkirkan dari kehidupan sosial, padahal mereka memiliki kemampuan yang patut diperhitungkan.
Tantangan demi tantangan terus dihadapi agar bisa dianggap sejajar dengan orang yang normal. Salah satu tantangan itu datang dari dunia pendidikan. Kerap kaum difabel tak mendapatkan perlakuan setara dengan anak-anak normal pada umumnya.
Banyak sekolah umum di Indonesia tak menerima kaum difabel dengan sejuta alasan. Meski anak berkebutuhan khusus itu sebenarnya mampu dan lebih berprestasi dibanding anak-anak non difabel. Sebut saja Muhammad Zulfikar Rakhmat, seorang pria kelahiran Pati pada 10 April 1992.
Setelah menyelesaikan sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di Al-Azhar 14 Semarang, Fikar melanjutkan SMA dan S1 di Qatar dan lulus dengan banyak prestasi . Ia kemudian meneruskan S2 jurusan International Politics di The University of Manchester, Inggris dan berhasil menyelesaikan Ph.D di universitas yang sama.
Meski memiliki kebutuhan khusus, Fikar tak pernah surut semangat. Ia pernah menjabat sebagai Disability Consultant di Al Mansour Foundation Dubai, Research and Publication Manager di Muslim Disability Awareness UK, serta Kepala Divisi Penyandang Ketunaan PPI UK. Fikar juga menjadi jurnalis lepas yang telah sukses menerbitkan 300an artikel di media global dunia.
Tulisan Fikar tentang isu disabilitas membuat ia sering diundang sebagai pembicara di forum nasional dan internasional. Kisah perjuangan hidup Fikar sebagai seorang difabel telah tertuang dalam sebuah buku berjudul “Inilah Jihadku”. Pengalaman pahit ditolak banyak sekolah karena keterbatasannya membulatkan niatnya untuk menginisiasi Sekolabilitas.
Dalam mengembangkan Sekolabilitas, Fikar mengajak Filemon Yoga Adhisatya, pria kelahiran Klaten yang pernah mengenyam pendidikan di The University of Manchester, Inggris. Fikar mengajak Yoga merintis Sekolabilitas bukan tanpa alasan. Bagia Fikar, Yoga memiliki kepedulian sangat tinggi terhadap isu disabilitas.
Tantangan demi tantangan terus dihadapi agar bisa dianggap sejajar dengan orang yang normal. Salah satu tantangan itu datang dari dunia pendidikan. Kerap kaum difabel tak mendapatkan perlakuan setara dengan anak-anak normal pada umumnya.
Banyak sekolah umum di Indonesia tak menerima kaum difabel dengan sejuta alasan. Meski anak berkebutuhan khusus itu sebenarnya mampu dan lebih berprestasi dibanding anak-anak non difabel. Sebut saja Muhammad Zulfikar Rakhmat, seorang pria kelahiran Pati pada 10 April 1992.
Setelah menyelesaikan sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di Al-Azhar 14 Semarang, Fikar melanjutkan SMA dan S1 di Qatar dan lulus dengan banyak prestasi . Ia kemudian meneruskan S2 jurusan International Politics di The University of Manchester, Inggris dan berhasil menyelesaikan Ph.D di universitas yang sama.
Meski memiliki kebutuhan khusus, Fikar tak pernah surut semangat. Ia pernah menjabat sebagai Disability Consultant di Al Mansour Foundation Dubai, Research and Publication Manager di Muslim Disability Awareness UK, serta Kepala Divisi Penyandang Ketunaan PPI UK. Fikar juga menjadi jurnalis lepas yang telah sukses menerbitkan 300an artikel di media global dunia.
Tulisan Fikar tentang isu disabilitas membuat ia sering diundang sebagai pembicara di forum nasional dan internasional. Kisah perjuangan hidup Fikar sebagai seorang difabel telah tertuang dalam sebuah buku berjudul “Inilah Jihadku”. Pengalaman pahit ditolak banyak sekolah karena keterbatasannya membulatkan niatnya untuk menginisiasi Sekolabilitas.
Dalam mengembangkan Sekolabilitas, Fikar mengajak Filemon Yoga Adhisatya, pria kelahiran Klaten yang pernah mengenyam pendidikan di The University of Manchester, Inggris. Fikar mengajak Yoga merintis Sekolabilitas bukan tanpa alasan. Bagia Fikar, Yoga memiliki kepedulian sangat tinggi terhadap isu disabilitas.