Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 18 April 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Sekolabilitas, Bantu Kaum Difabel Mendapat Pendidikan Layak

Muhajirin Rabu, 11 Agustus 2021 - 10:35 WIB
Sekolabilitas, Bantu Kaum Difabel Mendapat Pendidikan Layak
Ilustrasi anak difabel di sekolah (foto: langit7.id/istock)
LANGIT7.ID, Jakarta - Sampai saat ini masih banyak orang yang beranggapan bahwa para difabel tidak layak menempati posisi-posisi penting di tengah masyarakat. Pandangan itu membuat banyak kaum difabel tersingkirkan dari kehidupan sosial, padahal mereka memiliki kemampuan yang patut diperhitungkan.

Tantangan demi tantangan terus dihadapi agar bisa dianggap sejajar dengan orang yang normal. Salah satu tantangan itu datang dari dunia pendidikan. Kerap kaum difabel tak mendapatkan perlakuan setara dengan anak-anak normal pada umumnya.

Banyak sekolah umum di Indonesia tak menerima kaum difabel dengan sejuta alasan. Meski anak berkebutuhan khusus itu sebenarnya mampu dan lebih berprestasi dibanding anak-anak non difabel. Sebut saja Muhammad Zulfikar Rakhmat, seorang pria kelahiran Pati pada 10 April 1992.

Setelah menyelesaikan sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di Al-Azhar 14 Semarang, Fikar melanjutkan SMA dan S1 di Qatar dan lulus dengan banyak prestasi . Ia kemudian meneruskan S2 jurusan International Politics di The University of Manchester, Inggris dan berhasil menyelesaikan Ph.D di universitas yang sama.

Meski memiliki kebutuhan khusus, Fikar tak pernah surut semangat. Ia pernah menjabat sebagai Disability Consultant di Al Mansour Foundation Dubai, Research and Publication Manager di Muslim Disability Awareness UK, serta Kepala Divisi Penyandang Ketunaan PPI UK. Fikar juga menjadi jurnalis lepas yang telah sukses menerbitkan 300an artikel di media global dunia.

Tulisan Fikar tentang isu disabilitas membuat ia sering diundang sebagai pembicara di forum nasional dan internasional. Kisah perjuangan hidup Fikar sebagai seorang difabel telah tertuang dalam sebuah buku berjudul “Inilah Jihadku”. Pengalaman pahit ditolak banyak sekolah karena keterbatasannya membulatkan niatnya untuk menginisiasi Sekolabilitas.

Dalam mengembangkan Sekolabilitas, Fikar mengajak Filemon Yoga Adhisatya, pria kelahiran Klaten yang pernah mengenyam pendidikan di The University of Manchester, Inggris. Fikar mengajak Yoga merintis Sekolabilitas bukan tanpa alasan. Bagia Fikar, Yoga memiliki kepedulian sangat tinggi terhadap isu disabilitas.

Selain itu, Yoga dinilai memiliki pengalaman organisasi yang mumpuni. Sejak kuliah hingga sekarang berkarir profesional di salah satu perusahaan FMCG terbesar di Indonesia, Yoga aktif dalam beberapa organisasi sosial dan kemahasiswaan di antaranya sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Industri (HMTI) UAJY, Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Manchester, dan salah satu inisiator muda International Youth Conference on Tempe.

“Kalau cuma mengajak orang dan tidak punya pengalaman organisasi, itu tidak mudah. Saya melihat mas Yoga adalah orang yang cocok untuk diajak membangun sekolabilitas. Karena memang tidak mudah, apalagi relawan, tidak dibayar, itu kan salah satu hal yang tidak mudah,” kata Fikar melalui akun instagram @sekolabilitas.

Di sisi lain, Fikar melihat belum ada gebrakan organisasi yang berkaitan dengan disabilitas. Ia ingin mengisi kekosongan itu melalui sekolabilitas.

“Saya ingin mengubah stigma itu, bahwa sebenarnya orang orang yang tidak memiliki disabilitas atau normal, sebenarnya mereka punya kepedulian yang tinggi terhadap isu disabilitas,” ucap dia.

Sekolabilitas akhirnya resmi didirikan pada 2017. Fikar kemudian dibantu beberapa pendiri lain seperti Rinda Kurnia yang memperoleh gelar Sarjana Psikologi (S.Psi) di Universitas Indonesia pada tahun 2014. Kemudian, Rahma Yunaini mengambil S1 pendidikan luar biasa dan melanjutkan pendidikan Profesi Guru selama 1 tahun di UNY. Ada pula Aisyah Ardani adalah seorang penyandang disabilitas daksa yang terlahir dengan kondisi medis Spina Bifida.

Sekolabilitas Ingin Penuhi Kebutuhan Pendidikan Kaum Difabel

Sekolabilitas hadir sebagai lilin harapan bagi anak bagi anak difabel dan anak berkebutuhan khusus (ABK) di Indonesia. Selama ini, hak-hak konstitusional mereka atas pendidikan yang berkualitas hanya sederet kalimat yang tertuang dalam undang-undang.

Sekolabilitas bertekad untuk turut ambil bagian dan berperan aktif dalam mewujudkan pendidikan Indonesia yang berpondasikan nilai-nilai inklusivitas, sesuai dengan amanat Undang-undang. Para pendiri sekolabilitas menyadari bahwa harapan menciptakan pendidikan yang adil dan inklusif harus disematkan pada setiap masyarakat. Berbagi tanggung jawab, mereka ingin mengawal janji konstitusi tersebut dengan terjun langsung pada akar masalah.

Sekolabilitas ingin agar anak difabel dan ABK di Tanah air mendapat perlakuan setara dengan anak-anak normal.

“Penyandang disabilitas masih dilihat sebelah mata, mereka masih dilihat dari apa yang mereka tidak bisa lakukan, daripada dilihat dari apa yang mereka bisa lakukan. Karena masih dilihat dari apa yang tidak bisa mereka lakukan, akhirnya banyak yang tidak diterima di sekolah sekolah umum,” kata Fikar. Menurut Fikar, anak difabel dan ABK harus dianggap setara, meskipun dengan cara yang berbeda. Di balik keterbatasan mereka, tersimpan potensi besar.

Tak Ingin Jadi Organisasi Permanen

Ada yang menarik dari Sekolabilitas ini. Para pendiri tidak berniat menjadikan Sekolabilitas sebuah organisasi yang akan bertahan selamanya. Justru, sejak ide awal tercetus, mereka berharap Sekolabilitas menjadi organisasi yang tercipta sementara. Ya, mereka ingin organisasi ini tidak berdiri lama. Mengapa demikian?

Hal itu karena mereka ingin misi Sekolabilitas segera terealisasi. Sekolabilitas tak lagi diperlukan ketika ketika hak-hak anak difabel dan ABK di Indonesia telah terintegrasi dan otomatis terpenuhi dalam sistem pendidikan tanpa perlu layanan advokasi atau bantuan apapun. Jika komitmen untuk mewujudkan hal di atas benar-benar dimaknai dan dijalankan dengan penuh amanah oleh pemerintah, para pendiri dengan senang hati siap menutup organisasi ini.

Arah Sekolabilitas

Sekolabilitas memiliki visi yakni memfasilitasi anak difabel dan anak berkebutuhan khusus (ABK) untuk mendapatkan hak konstitusional atas pendidikan berkualitas hingga terwujudnya Indonesia ramah difabel.

Misi mereka yakni Sekolabilitas ingin menjadi organisasi yang bergerak dalam perlindungan anak difabel dan ABK yang meliputi sarana aduan, pelaporan, dan pelayanan atas berbagai bentuk diskriminasi yang mereka alami dalam bidang pendidikan. Kemudian, menginisiasi terbentuknya pendataan terpadu dan sistem informasi yang terintegrasi guna memudahkan setiap anak difabel dan ABK memperoleh akses pendidikan berkualitas.

Sekolabilitas juga ingin memastikan setiap anak difabel dan ABK dapat mengenyam pendidikan formal melalui:

1. Advokasi kebijakan ramah difabel pada level pemerintah, sekolah, dan institusi terkait lainnya untuk mewujudkan pendidikan inklusif yang diamanatkan oleh undang-undang.

2. Memberikan pendampingan bagi anak difabel dan ABK mulai dari proses mencari, mendaftar, dan menegosiasi sekolah, disesuaikan dengan kebutuhan.

3. Mengakomodasi anak difabel dan ABK dengan kemandirian fisik dan psikologis melalui pendampingan berkala.

Sekolabilitas juga secara berkelanjutan memberikan sosialisasi dan edukasi publik tentang pentingnya peran serta setiap level masyarakat dalam menghapuskan diskriminasi dan mewujudkan pendidikan Indonesia yang inklusif.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 18 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)