Budayawan: Islam dan Budaya Jawa Tidak Terpisahkan
Muhajirin
Kamis, 01 September 2022 - 14:06 WIB
Grebeg Suro, salah satu tradisi sedekah masyarakat Jawa di bulan Muharram (foto: Pesona Indonesia)
Islam dan budaya jawa seringkali dipertentangkan dan dianggap tidak berkaitan. Padahal banyak produk budaya yang merupakan manifestasi dari ajaran Islam seperti slametan hingga tradisi-tradisi menjelang Ramadhan.
“Relasi Islam dan Jawa itu sebenarnya satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Apa yang kita sangka sebagai kebudayaan Jawa hari ini sebenarnya, itu hampir semua sudah disofistikasi, bersentuhan, berinteraksi dengan Islam,” kata Budayawan Irfan Afifi kepada LANGIT7.ID, Selasa (30/8/2022).
Meski satu kesatuan, tapi Islam dan budaya Jawa tidak berbaur, sebab, berbaur berarti menghilangkan sifat asli. Sementara, budaya memiliki logika-logikanya sendiri. Islam pun tetap pada sifat keislamannya. Al-Qur’an tetap berbahasa Arab, tapi bukan berarti tidak boleh diterjemahkan atau ditafsirkan menurut sudut pandang dan bahasa Jawa.
“Sehingga kalau kita lihat, kejawaan dan Islam, tidak bisa terpisahkan,” kata Irfan Afifi.
Baca Juga:Budaya Bukan Sekadar Seni Tradisional tapi Sarana Mengasah Potensi Kemanusiaan Jadi Insan Kamil
Dia mencontohkan beberapa tradisi atau produk budaya Jawa yang sangat kental dengan nilai-nilai Islam seperti wayang dan gamelan. Ada pula tradisi Slametan, Kenduren, Grebeg Syuro, Grebeg Besar, hingga Grebeg Kecil.
Tradisi-tradisi tersebut mengambil landasan dari nilai-nilai Islam. Baik dari waktu pelaksanaan maupun motivasi pelaksanaan. Islam bersifat universal, sehingga setiap orang berhak mengamalkan nilai Islam di tengah masyarakat.
“Relasi Islam dan Jawa itu sebenarnya satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Apa yang kita sangka sebagai kebudayaan Jawa hari ini sebenarnya, itu hampir semua sudah disofistikasi, bersentuhan, berinteraksi dengan Islam,” kata Budayawan Irfan Afifi kepada LANGIT7.ID, Selasa (30/8/2022).
Meski satu kesatuan, tapi Islam dan budaya Jawa tidak berbaur, sebab, berbaur berarti menghilangkan sifat asli. Sementara, budaya memiliki logika-logikanya sendiri. Islam pun tetap pada sifat keislamannya. Al-Qur’an tetap berbahasa Arab, tapi bukan berarti tidak boleh diterjemahkan atau ditafsirkan menurut sudut pandang dan bahasa Jawa.
“Sehingga kalau kita lihat, kejawaan dan Islam, tidak bisa terpisahkan,” kata Irfan Afifi.
Baca Juga:Budaya Bukan Sekadar Seni Tradisional tapi Sarana Mengasah Potensi Kemanusiaan Jadi Insan Kamil
Dia mencontohkan beberapa tradisi atau produk budaya Jawa yang sangat kental dengan nilai-nilai Islam seperti wayang dan gamelan. Ada pula tradisi Slametan, Kenduren, Grebeg Syuro, Grebeg Besar, hingga Grebeg Kecil.
Tradisi-tradisi tersebut mengambil landasan dari nilai-nilai Islam. Baik dari waktu pelaksanaan maupun motivasi pelaksanaan. Islam bersifat universal, sehingga setiap orang berhak mengamalkan nilai Islam di tengah masyarakat.