Ustaz Suparman: Narasi Islamofobia Dapat Dipatahkan dengan Dua Hal
Hasanah syakim
Sabtu, 03 September 2022 - 11:34 WIB
Ilustrasi. Foto: LANGIT7/iStock
Ketua Bidang Agama Forum Koordinsi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Lampung, Ustaz Suparman Abdul Karim mengatakan ada dua hal yang dapat mematahkan narasi islamofobia.
Hal pertama, narasi islamofobia harus dipatahkan dengan kenyataannya bahwa mayoritas muslim tidak ada yang ketakutan terhadapIslam.
Baca juga: Orang Religius Tak Nasionalis, Ustadz Wijayanto: Salah Besar!
"Pada kenyataannya di negara yang mayoritas muslim ini tidak ada sama sekali orang yang ketakutan terhadap Islam. Bangsa kita yang mayoritas muslim ini hidup tenang-tenang saja, berislam dengan baik-baik saja," kata Ustaz Suparman dikutip Antara, Sabtu (3/9/2022).
Menurut Ustaz Suparman, islamofobia sejatinya adalah isu yang dikembangkan di negara Barat setelah runtuhnya Gedung World Trade Center (WTC) dan Pentagon.
Orang-orang nonmuslim yang mayoritas di Amerika Serikat belum paham betul sehingga menjadi ketakutan seolah-olah Islam mengajarkan radikalisme danterorisme.
"Kedua, pada kenyataannya yang terjadi ini adalah banyak yang mengajarkan ajaran radikal dan mengarah kepada aksi terorisme dan intoleransi tetapi membalutnya sebagai ajaran Islam. Ketika dikritik, mereka malah putar balikkan bahwa ini bentuk dari intoleransi dan islamofobia," terangnya.
Hal pertama, narasi islamofobia harus dipatahkan dengan kenyataannya bahwa mayoritas muslim tidak ada yang ketakutan terhadapIslam.
Baca juga: Orang Religius Tak Nasionalis, Ustadz Wijayanto: Salah Besar!
"Pada kenyataannya di negara yang mayoritas muslim ini tidak ada sama sekali orang yang ketakutan terhadap Islam. Bangsa kita yang mayoritas muslim ini hidup tenang-tenang saja, berislam dengan baik-baik saja," kata Ustaz Suparman dikutip Antara, Sabtu (3/9/2022).
Menurut Ustaz Suparman, islamofobia sejatinya adalah isu yang dikembangkan di negara Barat setelah runtuhnya Gedung World Trade Center (WTC) dan Pentagon.
Orang-orang nonmuslim yang mayoritas di Amerika Serikat belum paham betul sehingga menjadi ketakutan seolah-olah Islam mengajarkan radikalisme danterorisme.
"Kedua, pada kenyataannya yang terjadi ini adalah banyak yang mengajarkan ajaran radikal dan mengarah kepada aksi terorisme dan intoleransi tetapi membalutnya sebagai ajaran Islam. Ketika dikritik, mereka malah putar balikkan bahwa ini bentuk dari intoleransi dan islamofobia," terangnya.