Survei: Masyarakat Lebih Takut Kenaikan Harga BBM Dibanding Lonjakan Utang Negara
Fajar adhitya
Ahad, 04 September 2022 - 20:03 WIB
ilustrasi (foto: LANGIT7.ID/ iStock)
Mayoritas masyarakat Indonesia tidak setuju dengan kebijakan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi menurut survei terbaru. Masyarakat menginginkan harga BBM tetap meski harga minyak dunia meninggi.
Hasil penjajakan Lembaga Survei Indonesia (LSI) merekam sebanyak 58,7 persen masyarakat berpendapat bahwa harga bahan bakar tidak dinaikkan. LSI mengajukan dua pertanyaan mengenai fluktuasi harga minyak mentah dunia dan dampaknya terhadap harga BBM dalam negeri.
Mayoritas menyatakan, meski harga bahan bakar dunia mengalami peningkatan, pemerintah harus berupaya agar harga bahan bakar tidak dinaikkan. Pemerintah diharapkan tetap menjaga kestabilan harga BBM termasuk jika harus menambah utang.
Baca juga: Kenaikan BBM Dinilai Berdampak ke Pertumbuhan Ekonomi
“Jadi kebijakan menaikkan harga BBM bukan kebijakan populer saya kira,” kata Direktur LSI, Djayadi Hanan dalam konferensi pers, Ahad (4/9/2022).
Djayadi menyatakan, kebijakan menaikkan harga BBM akan mempengaruhi kepuasan terhadap kinerja Presiden yang kini mengalami peningkatan (jadi 72,3%). Namun, apakah berdampak positif atau negatif baru bisa terbaca dalam survei berikutnya.
“Nanti kita lihat apakah kebijakan menaikkan harga BBM memiliki efek negatif terhadap kepuasan kinerja Presiden, baru bisa kita lihat beberapa waktu ke depan,” kata Djayadi.
Hasil penjajakan Lembaga Survei Indonesia (LSI) merekam sebanyak 58,7 persen masyarakat berpendapat bahwa harga bahan bakar tidak dinaikkan. LSI mengajukan dua pertanyaan mengenai fluktuasi harga minyak mentah dunia dan dampaknya terhadap harga BBM dalam negeri.
Mayoritas menyatakan, meski harga bahan bakar dunia mengalami peningkatan, pemerintah harus berupaya agar harga bahan bakar tidak dinaikkan. Pemerintah diharapkan tetap menjaga kestabilan harga BBM termasuk jika harus menambah utang.
Baca juga: Kenaikan BBM Dinilai Berdampak ke Pertumbuhan Ekonomi
“Jadi kebijakan menaikkan harga BBM bukan kebijakan populer saya kira,” kata Direktur LSI, Djayadi Hanan dalam konferensi pers, Ahad (4/9/2022).
Djayadi menyatakan, kebijakan menaikkan harga BBM akan mempengaruhi kepuasan terhadap kinerja Presiden yang kini mengalami peningkatan (jadi 72,3%). Namun, apakah berdampak positif atau negatif baru bisa terbaca dalam survei berikutnya.
“Nanti kita lihat apakah kebijakan menaikkan harga BBM memiliki efek negatif terhadap kepuasan kinerja Presiden, baru bisa kita lihat beberapa waktu ke depan,” kata Djayadi.