LANGIT7.ID, Jakarta - Mayoritas masyarakat Indonesia tidak setuju dengan kebijakan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi menurut survei terbaru. Masyarakat menginginkan harga BBM tetap meski harga minyak dunia meninggi.
Hasil penjajakan Lembaga Survei Indonesia (LSI) merekam sebanyak 58,7 persen masyarakat berpendapat bahwa harga bahan bakar tidak dinaikkan. LSI mengajukan dua pertanyaan mengenai fluktuasi harga minyak mentah dunia dan dampaknya terhadap harga BBM dalam negeri.
Mayoritas menyatakan, meski harga bahan bakar dunia mengalami peningkatan, pemerintah harus berupaya agar harga bahan bakar tidak dinaikkan. Pemerintah diharapkan tetap menjaga kestabilan harga BBM termasuk jika harus menambah utang.
Baca juga: Kenaikan BBM Dinilai Berdampak ke Pertumbuhan Ekonomi“Jadi kebijakan menaikkan harga
BBM bukan kebijakan populer saya kira,” kata Direktur LSI, Djayadi Hanan dalam konferensi pers, Ahad (4/9/2022).
Djayadi menyatakan, kebijakan menaikkan harga BBM akan mempengaruhi kepuasan terhadap kinerja Presiden yang kini mengalami peningkatan (jadi 72,3%). Namun, apakah berdampak positif atau negatif baru bisa terbaca dalam survei berikutnya.
“Nanti kita lihat apakah kebijakan menaikkan harga BBM memiliki efek negatif terhadap kepuasan kinerja Presiden, baru bisa kita lihat beberapa waktu ke depan,” kata Djayadi.
Masyarakat maupun pemerintah dihadapkan pada sejumlah pilihan yang cukup sulit. Sejumlah masalah ekonomi cukup menonjol dan terasa langsung di masyarakat seperti penurunan daya beli, kenaikan harga BBM, naiknya harga barang-barang kebutuhan pokok, dan sebagainya.
Di sisi lain pemerintah dihadapkan pada pilihan mengurangi beban APBN dengan mengurangi subsidi BBM. Pada saat yang sama juga harus menjaga daya beli masyarakat yang akan mengalami guncangan kalau subsidi BBM dikurangi atau dicabut.
Survei ini dilakukan pada 13 sampai 21 Agustus 2022. Populasi survei adalah seluruh warga negara Indonesia yang yang punya hak pilih dalam pemilihan umum, yakni mereka yang sudah berumur 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan.
Baca Juga: Komisi IX DPR Kritik Keputusan Pemerintah Naikkan Harga BBM Dari populasi itu dipilih secara random (multistage random sampling) 1220 responden. Margin of error dari ukuran sampel tersebut sebesar +/- 2.9% pada tingkat kepercayaan 95% (dengan asumsi simple random sampling).
Responden terpilih diwawancarai lewat tatap muka oleh pewawancara yang telah dilatih. Quality control terhadap hasil wawancara dilakukan secara random sebesar 20% dari total sampel oleh supervisor dengan kembali mendatangi responden terpilih (spot check).
Berikut catatan hasilnya:
Pertanyaan: Harga BBM Dinaikkan untuk Mengurangi Beban APBN VS Tidak Dinaikkan Meski Harus Menambah Utang. Di antara pendapat berikut mana yang lebih sesuai dengan pendapat Ibu/Bapak sendiri? (%)
26,5% responden menjawab: Karena harga bahan bakar dunia saat ini mengalami peningkatan, maka untuk mengurangi beban APBN sebaiknya harga bahan bakar juga dinaikkan.
58,7% responden menjawab: Meski harga bahan bakar dunia saat ini mengalami peningkatan, tapi pemerintah harus berupaya agar harga bahan bakar tidak dinaikkan, termasuk jika harus menambah utang.
14,8% menyatakan tidak tahu atau tidak menjawab.
(sof)