Kisah Al-Ghazali: Mundur sebagai Profesor dan Berkelana karena Batinnya Gelisah
Muhajirin
Selasa, 06 September 2022 - 21:26 WIB
Lukisan yang menggambarkan sosok Imam Al-Ghazali (foto: istimewa)
Abu Hamid Al-Ghazali merupakan tokoh intelektual muslim yang lahir pada 450 H di Thus yang berada di Iran hari ini. Dia lahir di tengah pergolakan internal umat Islam. Dinasti Saljuk dipimpin Tughril Bek yang menganut mazhab Hanafiyah menganggap lawan para pengikut Syafi'iyah dan Asy'ariyah.
Tughril bahkan beberapa kali melakukan persekusi dan memerintahkan mengutuk Asy'ariyah dari atas mimbar. Saat Al-Ghazali berusia lima tahun, Tughril meninggal dunia dan digantikan Alp Arslan. Wazir al-Kunduri pun diganti dengan Nizham al-Mulk.
Pada saat yang bersamaan, persekusi terhadap sarjana Asy'ariyah dinyatakan berakhir. Nizham al-Mulk mengambil jalan berbeda. Dia menilai paham kalam Asy'ariyah dan fikih Syafi'iyah sangat tepat membendung propaganda Dinasti Fathimiyah di Mesir.
Nizam al-Mulk lalu membangun sekolah-sekolah ideologis bernama Madrasah Nizhamiyah untuk memperkuat basis Sunni sebagai antisipasi terhadap penyebaran paham Syi'ah Bathiniyah.
Baca Juga: Ketika Imam Al-Ghazali Meruntuhkan Filsafat Aristoteles
Pada 461 H, saat berusia 11 tahun, Al-Ghazali masuk ke Madrasah Nizhamiyah di Naisabur dan berguru kepada Imam Haramain Al Juwaini. Dia banyak belajar tentang hukum, teologi, dan filsafat.
Tughril bahkan beberapa kali melakukan persekusi dan memerintahkan mengutuk Asy'ariyah dari atas mimbar. Saat Al-Ghazali berusia lima tahun, Tughril meninggal dunia dan digantikan Alp Arslan. Wazir al-Kunduri pun diganti dengan Nizham al-Mulk.
Pada saat yang bersamaan, persekusi terhadap sarjana Asy'ariyah dinyatakan berakhir. Nizham al-Mulk mengambil jalan berbeda. Dia menilai paham kalam Asy'ariyah dan fikih Syafi'iyah sangat tepat membendung propaganda Dinasti Fathimiyah di Mesir.
Nizam al-Mulk lalu membangun sekolah-sekolah ideologis bernama Madrasah Nizhamiyah untuk memperkuat basis Sunni sebagai antisipasi terhadap penyebaran paham Syi'ah Bathiniyah.
Baca Juga: Ketika Imam Al-Ghazali Meruntuhkan Filsafat Aristoteles
Pada 461 H, saat berusia 11 tahun, Al-Ghazali masuk ke Madrasah Nizhamiyah di Naisabur dan berguru kepada Imam Haramain Al Juwaini. Dia banyak belajar tentang hukum, teologi, dan filsafat.