home edukasi & pesantren

Pesantren Muhammadiyah Ini Mampu Hadapi Pandemi dengan Manfaatkan Teknologi

Jum'at, 13 Agustus 2021 - 10:30 WIB
ilustrasi Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta (foto: istimewa)
Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta melihat pandemi Covid-19 sebagai ujian yang membawa inspirasi untuk terus berkreasi dan inovatif. Madrasah Mu’allimin merupakan pesantren sekaligus lembaga kaderisasi ulama yang berada di bawah naungan PP Muhammadiyah. Pesantren ini didirikan langsung oleh Kiai Ahmad Dahlan pada 1918.

Sejak pertengahan Juni 2020, madrasah tersebut memulangkan semua santri yang berjumlah 1.475 orang. Pada awal tahun pelajaran 2021, Madrasah Mu’allimin mendatangkan santri secara bertahap, mulai dari 30 sampai 35 persen santri. Jika semua perangkat pendukung telah siap, maka semua santri akan diizinkan ke madrasah.

Madrasah ini tidak mendapat sokongan dana dari pemerintah. Hanya memanfaatkan iuran pendidikan (SPP). Namun menariknya, lembaga pendidikan tersebut tidak terpengaruh dampak pandemi. Ini karena Mu’allimin memiliki sistem manajemen operasional berbasis information technology (IT) yang mapan dan terus diperbaharui.

Direktur Madrasah Mu’allimin Yogyakarta, Aly Aulia, mengatakan, sistem manajemen tersebut mampu menekan angka santri yang putus sekolah, sehingga mampu menjamin keamanan dan kesejahteraan para tenaga pendidik serta pegawai.

“(Santri) drop out ada, tapi sangat sedikit karena kita bisa menerapkan dalam proses registrasi. Biasanya ada beberapa orang tua yang terbatas ekonomi, sehingga kemudian menunggak dan lain sebagainya, tapi kita punya jalan tengah. Ada dispensasi,” kata Aly, dikutip dari laman resmi Muhammadiyah.

Aly mengaku mendapat sedikit kendala saat pandemi Covid-19 pertama kali mewabah di Tanah Air. Namun madrasah tersebut berhasil membangun rekayasa sistem IT dan E-Learning yang terintegrasi dan tidak hanya mengangkut ketuntasan mata pelajaran, namun juga ketuntasan aktivitas harian dan peribadatan santri selama di rumah.

Melalui sistem IT itu, pengurus madrasah bisa mengetahui santri yang shalat berjamaah dan tidak. Selama pandemi, kata Aly, pengurus madrasah memastikan dan memprioritaskan aspek tenaga kependidikan agar tidak terpengaruh wabah. Dengan begitu, santri tidak lepas dari sistem madrasah, dan orang tua pun merasa tidak rugi membayar SPP.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
sekolah muhammadiyah pesantren muhammadiyah pandemi covid-19 teknologi digital
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya