Tanpa Dikordinir Baik, Relawan Juga Bisa Merepotkan di Lokasi Bencana
Garry Talentedo Kesawa
Jum'at, 09 September 2022 - 23:35 WIB
Kegiatan bedah buku dan diskusi tentang dinamika lembaga filantropi dan kerelawanan di Cafe Relawan, Bogor. (Foto: Istimewa)
Lembaga Penanggulangan Bencana Indonesia (PBI) menilai kebiasaan masyarakat yang sering menjadikan kawasan bencana sebagai tempat selfie sangat berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain. Hal tersebut dipastikan dapat mengganggu petugas penyelamatan dan tugas para relawan.
Namun, relawan juga dianggap bisa merepotkan saat proses evakuasi dan penyelamatan di lokasi bencana. Terlebih, relawan itu datang tanpa skill dan koordinasi dengan penanggungjawab penanggulangan bencana setempat.
Baca Juga:LPB MUI Harap FPRB DKI Mampu Meminimalisir Risiko Bencana di Ibu Kota
Ketua Squad PBI, Subur Rojinawi, mengatakan seorang relawan harus memahami etika, kearifan lokal dan memegang prinsip kerja sebagai relawan. Hal itu perlu diterapkan agar seorang relawan tidak menjadi benalu yang mengganggu upaya penyelamatan.
"Ada 5 prinsip kerja relawan. Di antaranya harus mandiri, profesional, sinergi, kolaborasi, dan akuntabel," kata Subur dalam diskusi bedah buku Pendar-Pendar Filantropi di Cafe Relawan Bogor, dikutip Jumat (9/9/2022).
Senada dengan hal tersebut, Internasional Trainner Voulenter Disaster, Ujang Lasmana, berharap agar relawan bisa lebih profesional dan mengasah skillnya agar tidak merepotkan di lapangan. Jika hal itu tidak dilakukan, maka relawan tersebut dianggap merepotkan.
"Seringkali kita jumpai di lokasi bencana, jumlah relawan lebih banyak dari jumlah korbannya. Ini akhirnya yang bikin repot siapa? Ya relawan itu sendiri," ujar relawan Palang Merah Indonesia tersebut.
Namun, relawan juga dianggap bisa merepotkan saat proses evakuasi dan penyelamatan di lokasi bencana. Terlebih, relawan itu datang tanpa skill dan koordinasi dengan penanggungjawab penanggulangan bencana setempat.
Baca Juga:LPB MUI Harap FPRB DKI Mampu Meminimalisir Risiko Bencana di Ibu Kota
Ketua Squad PBI, Subur Rojinawi, mengatakan seorang relawan harus memahami etika, kearifan lokal dan memegang prinsip kerja sebagai relawan. Hal itu perlu diterapkan agar seorang relawan tidak menjadi benalu yang mengganggu upaya penyelamatan.
"Ada 5 prinsip kerja relawan. Di antaranya harus mandiri, profesional, sinergi, kolaborasi, dan akuntabel," kata Subur dalam diskusi bedah buku Pendar-Pendar Filantropi di Cafe Relawan Bogor, dikutip Jumat (9/9/2022).
Senada dengan hal tersebut, Internasional Trainner Voulenter Disaster, Ujang Lasmana, berharap agar relawan bisa lebih profesional dan mengasah skillnya agar tidak merepotkan di lapangan. Jika hal itu tidak dilakukan, maka relawan tersebut dianggap merepotkan.
"Seringkali kita jumpai di lokasi bencana, jumlah relawan lebih banyak dari jumlah korbannya. Ini akhirnya yang bikin repot siapa? Ya relawan itu sendiri," ujar relawan Palang Merah Indonesia tersebut.