Kisah Faris, Sarjana Psikologi Jadi Petani Sayuran Hidroponik
Hasanah syakim
Ahad, 18 September 2022 - 12:30 WIB
Kisah Faris, Sarjana Psikologi Jadi Petani Sayuran Hidroponik. Foto: Langit7.id/iStock.
Faris seorang Sarjana Psikologi memilih menjadi petani sayuran hidroponik di Yogyakarta. Menurut dia, saat ini lahan pertanian di daerah tersebut mulai berkurang, terlebih dengan banyaknya bangunan termasuk perumahan.
"Menjadi seorang petani sayur merupakan peluang yang sangat besar. Awal mula saya bermain di hidroponik ini setelah melihat lahan persawahan semakin berkurang karena digantikan oleh bangunan-bangunan dan perumahan," kata Faris dalam akun YouTube CapCapung, dikutip Ahad (18/9/2022).
Faris berpikir jika kondisi terus terjadi, maka sawah akan terus berkurang serta harganya semakin mahal. Baginya menjadi seorang petani tak lepas dari tantangan termasuk orang tua yang menentang pilihan Faris.
"Saya berpikir kalau seperti, ini lahan sawah akan terus berkurang dan harganya akan semakin mahal. Tantangan menjadi seorang petani karena saya menganggap diri saya sebagai tukang sayur ya, itu hal pertama yang paling berkesan itu dari orang tua," ujarnya.
Faris melanjutkan, ketika dirinya memutuskan untuk bertani, orang tua marah karena latar belakang pendidikannya, yaitu Sarjana Psikologi dan saat ini tengah menempuh Magister Profesi Psikologi.
Baca Juga:Wapres Dorong Pesantren Lakukan Rekayasa Sistem Tanam Hidroponik
"Hal tersebut membuat orang tua saya cukup kecewa. Cukup lama perseteruan antara saya dengan bapak saya, hingga akhirnya dia bertanya 'jika kamu serius mendalami hidroponik, maka seriuslah'. Mungkin selama ini bapak salah menganggap remeh menjadi petani," kata Faris.
"Menjadi seorang petani sayur merupakan peluang yang sangat besar. Awal mula saya bermain di hidroponik ini setelah melihat lahan persawahan semakin berkurang karena digantikan oleh bangunan-bangunan dan perumahan," kata Faris dalam akun YouTube CapCapung, dikutip Ahad (18/9/2022).
Faris berpikir jika kondisi terus terjadi, maka sawah akan terus berkurang serta harganya semakin mahal. Baginya menjadi seorang petani tak lepas dari tantangan termasuk orang tua yang menentang pilihan Faris.
"Saya berpikir kalau seperti, ini lahan sawah akan terus berkurang dan harganya akan semakin mahal. Tantangan menjadi seorang petani karena saya menganggap diri saya sebagai tukang sayur ya, itu hal pertama yang paling berkesan itu dari orang tua," ujarnya.
Faris melanjutkan, ketika dirinya memutuskan untuk bertani, orang tua marah karena latar belakang pendidikannya, yaitu Sarjana Psikologi dan saat ini tengah menempuh Magister Profesi Psikologi.
Baca Juga:Wapres Dorong Pesantren Lakukan Rekayasa Sistem Tanam Hidroponik
"Hal tersebut membuat orang tua saya cukup kecewa. Cukup lama perseteruan antara saya dengan bapak saya, hingga akhirnya dia bertanya 'jika kamu serius mendalami hidroponik, maka seriuslah'. Mungkin selama ini bapak salah menganggap remeh menjadi petani," kata Faris.