Solusi Jitu Rasulullah Atasi Krisis Ekonomi di Madinah
Muhajirin
Jum'at, 23 September 2022 - 15:24 WIB
ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
Rasulullah SAW dan para sahabat Muhajirin hijrah dari Makkah ke Madinah dalam keadaan miskin. Mereka tidak membawa harta apa-apa dari Makkah. Di sisi lain, kondisi ekonomi umat Islam di Madinah juga sangat bergantung kepada orang Yahudi yang menguasai pasar.
Pakar Sejarah Islam, Ustadz Budi Ashari, mengungkapkan, umat Islam di Madinah mengalami krisis ekonomi di Madinah selama tujuh tahun. Itu ditandai dengan kalimat Abdullah bin Umar.
“Abdullah bin Umar pernah berkata, setelah tahun tujuh hijriyah, selepas muslimin menang di perang Khaibar, beliau mengatakan, ‘sekarang baru bisa merasakan kenyang’,” kata Budi Ashari dalam webinar Sirah Nabawiyah yang diadakan Unida Gontor, Kamis (22/9/2022) malam.
Baca Juga: 3 Tantangan Ekonomi Umat Islam Awal Hijrah ke Madinah
Kalimat Abdullah bin Umar mungkin terdengar asing bagi masyarakat Indonesia yang memiliki tanah yang subur. Tapi, pada masa itu, sahabat yang tidak makan sampai tiga hari benar-benar tidak ada satupun makanan yang masuk ke dalam perut.
“Sahabat tiga hari di Perang Khandaq tidak kemasukan apapun di perutnya. Tidak ada betulan, bukan seperti kita,” kata Pendiri Kuttab Al-Fatih itu.
Pakar Sejarah Islam, Ustadz Budi Ashari, mengungkapkan, umat Islam di Madinah mengalami krisis ekonomi di Madinah selama tujuh tahun. Itu ditandai dengan kalimat Abdullah bin Umar.
“Abdullah bin Umar pernah berkata, setelah tahun tujuh hijriyah, selepas muslimin menang di perang Khaibar, beliau mengatakan, ‘sekarang baru bisa merasakan kenyang’,” kata Budi Ashari dalam webinar Sirah Nabawiyah yang diadakan Unida Gontor, Kamis (22/9/2022) malam.
Baca Juga: 3 Tantangan Ekonomi Umat Islam Awal Hijrah ke Madinah
Kalimat Abdullah bin Umar mungkin terdengar asing bagi masyarakat Indonesia yang memiliki tanah yang subur. Tapi, pada masa itu, sahabat yang tidak makan sampai tiga hari benar-benar tidak ada satupun makanan yang masuk ke dalam perut.
“Sahabat tiga hari di Perang Khandaq tidak kemasukan apapun di perutnya. Tidak ada betulan, bukan seperti kita,” kata Pendiri Kuttab Al-Fatih itu.