Teori Ibnu Khaldun: Politik Identitas Kunci Terbentuknya Sebuah Bangsa
Fajar adhitya
Ahad, 25 September 2022 - 19:02 WIB
Diskusi buku Politik Identitas: Dalam Perspektif Al-Quran dan Teori Modern di Hotel Alia, Cikini, Jakarta Selatan, Sabtu (24/9/2022). (Foto: Langit7.id/Suandri)
Penulis buku "Politik Identitas: Dalam Perspektif Al-Qur'an dan Teori Modern", Eman Sulaeman menjelaskan bahwa identitas adalah entitas yang melekat dalam diri manusia. Karena itu, identitas adalah keniscayaan, termasuk dalam urusan politik.
Merujuk teori Ashabiyah atau solidaritas sosialnya sosiolog Ibnu Khaldun, politik identitas merupakan kunci terbentuknya sebuah bangsa. Eman mencontohkan bagaimana sentimen identitas yang lekat dalam perjuangan kemerdekaan RI.
“Even kemerdekaan RI sejatinya kalau kita bawa sentimen identitas punya peran besar. Jadi kalau mengatakan jangan bawa politik identitas dalam dunia politik sebetulnya Indonesia tidak pernah merdeka kecuali ada politik identitas,” kata Eman dalam diskusi buku di Hotel Alia, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (24/9/2022).
Dalam bukunya, Eman menuliskan bahwa tolak ukur utama politik identitas dalam sejarah kemerdekaan RI bukan saja semangat nasionalisme, tapi juga agama.
Baca juga:Menjernihkan Makna dan Posisi Politik Identitas
Sejak periode prakemerdekaan sampai sekarang, sejarah mencatat banyak tokoh, komunitas, dan lembaga keagamaan yang berperan besar merebut kemerdekaan.
“Dahulu banyak tokoh pemuka agama, terutama para kiai di pesantren dan kampung-kampung mampu menggerakkan dan berjuang melawan penjajah dengan simbol spirit keagamaan; jihad fi sabilillah, dalam melawan penjajah,” tulis Eman Sulaeman.
Merujuk teori Ashabiyah atau solidaritas sosialnya sosiolog Ibnu Khaldun, politik identitas merupakan kunci terbentuknya sebuah bangsa. Eman mencontohkan bagaimana sentimen identitas yang lekat dalam perjuangan kemerdekaan RI.
“Even kemerdekaan RI sejatinya kalau kita bawa sentimen identitas punya peran besar. Jadi kalau mengatakan jangan bawa politik identitas dalam dunia politik sebetulnya Indonesia tidak pernah merdeka kecuali ada politik identitas,” kata Eman dalam diskusi buku di Hotel Alia, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (24/9/2022).
Dalam bukunya, Eman menuliskan bahwa tolak ukur utama politik identitas dalam sejarah kemerdekaan RI bukan saja semangat nasionalisme, tapi juga agama.
Baca juga:Menjernihkan Makna dan Posisi Politik Identitas
Sejak periode prakemerdekaan sampai sekarang, sejarah mencatat banyak tokoh, komunitas, dan lembaga keagamaan yang berperan besar merebut kemerdekaan.
“Dahulu banyak tokoh pemuka agama, terutama para kiai di pesantren dan kampung-kampung mampu menggerakkan dan berjuang melawan penjajah dengan simbol spirit keagamaan; jihad fi sabilillah, dalam melawan penjajah,” tulis Eman Sulaeman.