Kenali Bahaya PTSD, Gangguan Mental Akibat Trauma Sebuah Peristiwa
Ummu hani
Jum'at, 07 Oktober 2022 - 19:35 WIB
Ilustrasi. (Foto: Langit7.id/iStock)
Belakangan ini, banyak kejadian yang menimbulkan duka di Tanah Air. Mulai dari tewasnya 125 orang dalam Tragedi Kanjuruhan hingga meninggalnya tiga siswa di MTsN 19, Jakarta karena tertimpa tembok roboh akibat banjir.
Kepergian seseorang menimbulkan rasa sedih mendalam bagi yang ditinggalkan. Bahkan, rasa kehilangan berpotensi menjadi trauma.
Baca Juga:Psikis Terganggu, Rizky Billar Mangkir dari Pemeriksaan KDRT
Psikolog di Pusat Kesehatan Perilaku Orang Dewasa, dari Klinik Cleveland, Kai-Rai M. Prewitt mengatakan, trauma disebabkan oleh tekananan emosional akibat melihat atau merasakan suatu kejadian buruk.
"Kami tahu bahwa orang-orang yang menyaksikan tragedi atau terus-menerus terpapar mendengar tentang dan/atau menanggapi situasi traumatis dapat terkena dampak. Karena internet dan media kita memiliki akses ke tragedi orang lain. Ketika seseorang mengalami trauma atau menyaksikannya, ada kemungkinan terkena dampak mental, fisik dan spiritual," ujar Prewitt seperti dilansir dari Health US News, Jumat (7/10/2022).
Menurut Prewitt, normal bagi orang untuk merasakan tekanan emosional setelah insiden yang menyebabkan kematian massal, seperti pengeboman, pemukulan, kecelakaan, dan sebagainya. Setelah menyaksikan atau mengalami insiden tersebut, seseorang akan merasakan tanda-tanda trauma,seperti kesulitan tidur, khawatir berlebih, merokok, menggunakan obat-obatan, hingga minum alkohol tanpa terkendali.
Orang yang mengalami trauma umumnya juga berperilaku maladaptif, seperi banyak menggunakan media sosial, tidur, bermain game, dan sebagainya. Ini dilakukan untuk menghindari atau menangani trauma secara emosional.
Kepergian seseorang menimbulkan rasa sedih mendalam bagi yang ditinggalkan. Bahkan, rasa kehilangan berpotensi menjadi trauma.
Baca Juga:Psikis Terganggu, Rizky Billar Mangkir dari Pemeriksaan KDRT
Psikolog di Pusat Kesehatan Perilaku Orang Dewasa, dari Klinik Cleveland, Kai-Rai M. Prewitt mengatakan, trauma disebabkan oleh tekananan emosional akibat melihat atau merasakan suatu kejadian buruk.
"Kami tahu bahwa orang-orang yang menyaksikan tragedi atau terus-menerus terpapar mendengar tentang dan/atau menanggapi situasi traumatis dapat terkena dampak. Karena internet dan media kita memiliki akses ke tragedi orang lain. Ketika seseorang mengalami trauma atau menyaksikannya, ada kemungkinan terkena dampak mental, fisik dan spiritual," ujar Prewitt seperti dilansir dari Health US News, Jumat (7/10/2022).
Menurut Prewitt, normal bagi orang untuk merasakan tekanan emosional setelah insiden yang menyebabkan kematian massal, seperti pengeboman, pemukulan, kecelakaan, dan sebagainya. Setelah menyaksikan atau mengalami insiden tersebut, seseorang akan merasakan tanda-tanda trauma,seperti kesulitan tidur, khawatir berlebih, merokok, menggunakan obat-obatan, hingga minum alkohol tanpa terkendali.
Orang yang mengalami trauma umumnya juga berperilaku maladaptif, seperi banyak menggunakan media sosial, tidur, bermain game, dan sebagainya. Ini dilakukan untuk menghindari atau menangani trauma secara emosional.