LANGIT7.ID, Jakarta - Belakangan ini, banyak kejadian yang menimbulkan duka di Tanah Air. Mulai dari tewasnya 125 orang dalam Tragedi Kanjuruhan hingga meninggalnya tiga siswa di MTsN 19, Jakarta karena tertimpa tembok roboh akibat banjir.
Kepergian seseorang menimbulkan rasa sedih mendalam bagi yang ditinggalkan. Bahkan, rasa kehilangan berpotensi menjadi trauma.
Baca Juga: Psikis Terganggu, Rizky Billar Mangkir dari Pemeriksaan KDRTPsikolog di Pusat Kesehatan Perilaku Orang Dewasa, dari Klinik Cleveland, Kai-Rai M. Prewitt mengatakan, trauma disebabkan oleh tekananan emosional akibat melihat atau merasakan suatu kejadian buruk.
"Kami tahu bahwa orang-orang yang menyaksikan tragedi atau terus-menerus terpapar mendengar tentang dan/atau menanggapi situasi traumatis dapat terkena dampak. Karena internet dan media kita memiliki akses ke tragedi orang lain. Ketika seseorang mengalami trauma atau menyaksikannya, ada kemungkinan terkena dampak mental, fisik dan spiritual," ujar Prewitt seperti dilansir dari Health US News, Jumat (7/10/2022).
Menurut Prewitt, normal bagi orang untuk merasakan tekanan emosional setelah insiden yang menyebabkan kematian massal, seperti pengeboman, pemukulan, kecelakaan, dan sebagainya. Setelah menyaksikan atau mengalami insiden tersebut, seseorang akan merasakan tanda-tanda trauma, seperti kesulitan tidur, khawatir berlebih, merokok, menggunakan obat-obatan, hingga minum alkohol tanpa terkendali.
Orang yang mengalami trauma umumnya juga berperilaku maladaptif, seperi banyak menggunakan media sosial, tidur, bermain
game, dan sebagainya. Ini dilakukan untuk menghindari atau menangani trauma secara emosional.
Baca Juga: Berbahaya, Cedera Leher Akibat Trauma Bisa Sebabkan KelumpuhanStrategi penghindaran ini tampak positif seperti mengalihkan diri dalam pekerjaan profesional. Namun, faktanya ini hanya menghindari trauma sementara.
Seseorang yang traumanya tidak ditangani dengan tepat, berpotensi mengalami Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). PTSD merupakan gangguan yang ditandai dengan kegagalan untuk pulih sepenuhnya setelah mengalami atau menyaksikan peristiwa yang mengerikan.
Kondisi ini bisa berlangsung berbulan-bulan atau bertahun-tahun dengan dapat membawa kembali kenangan trauma disertai reaksi emosional serta fisik yang intens. Jika orang mengalami PTSD, emosi mereka cenderung tak terkendali. Penderita PTSD bisa saja berperilaku menyakiti tubuh, bahkan bunuh diri.
Cara Menghindari Potensi PTSDPertama, jika Anda mengalami trauma, lebih baik untuk meluapkan segala hal yang dirasakan kepada orang lain. Jangan pernah mengabaikan rasa sedih atau tekanan dalam hati.
Temui orang yang terpercaya untuk berbagi perasaan. Anda bisa meluapkan dengan kerabat, teman atau seseorang yang profesional dalam mengatasi kesehatan mental.
Hindari alkohol atau zat lain. Jangan pula membuat rencana apapun tentang masa depan. Tetap fokus pada masalah saat ini untuk mencari solusi.
Pastikan Anda cukup tidur dan mengonsumsi makanan sehat. Lakukan olahraga rutin agar kesehatan tubuh tetap terjaga.
Namun jika Anda menemukan seseorang yang mengalami PTSD, bantu mereka untuk sembuh. Beri mereka waktu dan ruang untuk bercerita. Bila tak bisa mengatasinya, bawa orang tersebut ke psikolog untuk mendapatkan bimbingan mental.
Baca Juga:
3 Cara Tetap Produktif agar Terhindar dari Gangguan Mental
Cegah Anak dari Sifat Tantrum, Ini Tips Pendidikan Keluarga(asf)