Al-Quran sebagai Terapi Mental: Pesan Kiai Saad Ibrahim di Ngawi
tim langit 7Senin, 05 Januari 2026 - 10:26 WIB
LANGIT7.ID-Jakarta; Al-Qur’an memegang peran vital sebagai instrumen penyembuh gangguan jiwa dan penjaga kesehatan mental manusia. Prinsip ini menjadi poin utama yang ditekankan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Saad Ibrahim, saat mengisi Kajian Ahad Pagi di PDM Ngawi, Minggu (4/1).
Dalam acara bertajuk "Membumikan Risalah Islam Berkemajuan, Mencerahkan Ngawi Ramah" tersebut, Saad membedah fungsi Al-Qur’an yang melampaui sekadar teks suci. Menurutnya, wahyu Allah ini merupakan kompas hidup yang mengatur pola pikir dan tindakan, yang pada akhirnya menentukan kualitas kesehatan seseorang.
Berikut adalah poin-poin krusial yang disampaikan dalam kajian tersebut:
1. Koneksi Jiwa dan Fisik
Saad menekankan bahwa kesehatan raga berakar pada kondisi batin yang stabil. Ia memperingatkan dampak buruk penyakit hati terhadap metabolisme tubuh.
“Jangan dengki. Dengki akan menyebabkan jiwa kita terganggu, dan akibatnya fisik kita juga ikut terganggu,” tegasnya, dilansir dari situs Muhammadiyah, Senin (5/1/2026).
2. Perspektif Ibnu Sina dan Tauhid
Mengacu pada pemikiran Ibnu Sina, manusia secara fitrah lahir dalam kondisi sehat. Meski penyakit bisa datang karena berbagai faktor eksternal, Saad mengingatkan bahwa otoritas penyembuhan mutlak milik pencipta, sesuai QS Asy-Syu‘ara ayat 80.
“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku,” ujar Saad.
3. Konsep Syifa dalam Al-Qur’an
Saad memaparkan bahwa istilah syifa (penyembuh) disebutkan empat kali dalam Al-Qur’an, yakni pada surat Yunus: 57, An-Nahl: 69, Fushshilat: 44, dan Al-Isra: 82. Hal ini mempertegas identitas Al-Qur’an sebagai penawar medis spiritual.
“Salah satu sifat Al-Qur’an adalah sebagai basis penyembuhan bagi jiwa kita,” tambahnya.
4. Ikhtiar Melalui Tilawah
Sebagai penutup, jamaah diajak untuk merutinkan interaksi dengan Al-Qur’an secara berurutan dari awal hingga akhir mushaf. Baginya, aktivitas membaca Al-Qur’an memiliki energi penyembuh tersendiri bagi pembacanya, terlepas dari tingkat pemahaman terhadap artinya.
“Walaupun tidak paham maknanya, tidak apa-apa, karena itu sudah menjadi bagian dari proses penyembuhan,” pungkasnya.