LANGIT7.ID, - Jakarta - Fenomena
burnout kerap ditemukan di berbagai kalangan, mulai dari pekerja hingga mahasiswa.
Burnout adalah kondisi kelelahan mental, fisik, dan emosional yang ekstrem.
Kondisi ini dapat menurunkan motivaso, kinerja, hingga memicu sikap negatif pada diri sendiri dan orang lain.
Menjelang
akhir tahun, isu burnout sering mencuat di kalangan pekerja dan mahasiswa. Tekanan target, tutup buku, hingga evaluasi menjadi penyebab seseorang mengalami burnout akhir tahun.
Baca juga: Islam Atasi Burnout: Ubah Pola Pikir Jadi Kerja Itu WisataPakar Psikologi Industri dan Organisasi Fakultas Psikologi
Universitas Gadjah Mada (UGM), Sumaryono mengatakan tidak semua kelelahan psikologis dapat serta-merta disebut burnout.
Menurutnya, penting untuk memahami perbedaan antara stres,
burnout, dan
depresi agar dapat merespons dengan tepat dan proporsional.
Ia menjelaskan bahwa burnout, stres, dan depresi merupakan tiga kondisi yang berbeda.
"Burnout merupakan kondisi yang lebih berat karena mencakup kelelahan fisik, emosional, dan mental secara bersamaan. Yang sering terjadi itu sebenarnya stres, bukan burnout. Karena Burnout itu cenderung lebih parah,” kata Maryono seperti dikutip dari laman UGM, Ahad (28/12/2025).
Lebih lanjut, ia menyoroti adanya kebiasaan penggunaan istilah burnout yang kurang tepat, khususnya di kalangan anak muda.
Sumaryono menyebut bahwa sedikit tekanan yang dialami dianggap sebagai burnout.
"Secara psikologis, burnout ditandai oleh rasa tidak berdaya yang dalam. Kalau sakit kepala atau pusing, itu tergolong stres. Burnout itu betul-betul merasa tidak mampu dan kelelahan berat untuk melakukan suatu aktivitas dan aktivitas-aktivitas lainnya,” ujarnya.
Sementara depresi, menurutnya, sudah masuk ke ranah klinis dan membutuhkan penanganan profesional yang lebih serius.
Baca juga: Stres dan Muak Berlebihan, Waspadai Sindrom BurnoutDalam dunia kerja dan akademik, ekspektasi karier dan produktivitas sangat dipengaruhi oleh persepsi individu.
Sumaryono mencontohkan bahwa stres dapat berubah menjadi proses adaptif ketika seseorang menemukan makna dari pekerjaannya.
Ia menekankan pentingnya peran mentor, baik Dosen Pembimbing Akademik maupun atasan di tempat kerja, untuk mendampingi anak muda melalui metode coaching.
“Komunikasi yang terbuka ini dinilai menjadi kunci agar tekanan tidak berkembang menjadi stres arah dan berpotensi menjadi burnout,” tuturnya.
Untuk mencegah burnout akhir tahun, Sumaryono membagikan langkah strategis realistis melalui metode CHANGE.
"Metode ini mencakup Challenge yang melihat hidup sebagai tantangan, Hope untuk tetap menjaga adanya harapan, Adaptation atau prinsip mengelola stres dan menetapkan prioritas, Network yang membangun jejaring untuk meminta pandangan dari mentor, hingga seseorang dan mencapai fase Growth dan Excellence," jelas Maryono.
Ia menegaskan bahwa stres tidak boleh diremehkan, tetapi juga tidak perlu dibesar-besarkan. Lewat pemahaman yang tepat, stres justru dapat menjadi energi pendorong untuk tetap mencapai produktivitas.
Baca juga: Psikolog Bagikan 5 Langkah Kelola Stres untuk Para Ayah(est)