Ini Alasan Orang Indonesia Masih Doyan Palsukan Ijazah
Fifiyanti Abdurahman
Senin, 10 Oktober 2022 - 14:28 WIB
Ilustrasi. Foto: LANGIT7/iStock
Praktik pemalsuan ijazah masih saja terjadi baik di daerah maupun kota besar. Padahal di era digital seperti sekarang, ijazah bukanlah segala-galanya penentu masa depan. Lantas, mengapa orang Indonesia masih memalsukan ijazah?
Menurut pemerhati pendidikan, Dr. Dirgantara Wicaksono penyebab masyarakat Indonesia masih melakukan praktik pemalsuan ijazah karena sistem di negara Indonesia masih melihat legalitas daripada kompetensi.
Baca juga: Nasihat Buya Yahya: Pekerjaan Tidak Harus Sesuai Ijazah
"Jadi yang dilihat legalitasnya, dibandingkan kompetensi. Legalitasnya itu ya ijazah. Jadi kenapa masih ada? Karena untuk mendukung itu dalam administrasi. Apalagi dalam pemerintahan, ijazah menjadi satu pokok kewajiban, kompetensinya nomor sekian yang penting ada ijazahnya," ujar Dirgantara atau akrab disapa Bombom kepada Langit7, Senin (10/10/2022).
Dia melanjutkan, di Indonesia orang yang memiliki ijazah tinggi dianggap paling keren dan hebat. Padahal, menurut Bombom tidak selalu demikian.
"Terkadang orang yang memiliki ijazah tinggi belum tentu mencerminkan kompetensinya, katanya.
Namun, lanjut pria yang mendapatkan gelar doktor di usia 28 tahun itu mengatakan, beberapa tempat yang menomorduakan ijazah malah memunculkan satu persepsi tertentu.
Menurut pemerhati pendidikan, Dr. Dirgantara Wicaksono penyebab masyarakat Indonesia masih melakukan praktik pemalsuan ijazah karena sistem di negara Indonesia masih melihat legalitas daripada kompetensi.
Baca juga: Nasihat Buya Yahya: Pekerjaan Tidak Harus Sesuai Ijazah
"Jadi yang dilihat legalitasnya, dibandingkan kompetensi. Legalitasnya itu ya ijazah. Jadi kenapa masih ada? Karena untuk mendukung itu dalam administrasi. Apalagi dalam pemerintahan, ijazah menjadi satu pokok kewajiban, kompetensinya nomor sekian yang penting ada ijazahnya," ujar Dirgantara atau akrab disapa Bombom kepada Langit7, Senin (10/10/2022).
Dia melanjutkan, di Indonesia orang yang memiliki ijazah tinggi dianggap paling keren dan hebat. Padahal, menurut Bombom tidak selalu demikian.
"Terkadang orang yang memiliki ijazah tinggi belum tentu mencerminkan kompetensinya, katanya.
Namun, lanjut pria yang mendapatkan gelar doktor di usia 28 tahun itu mengatakan, beberapa tempat yang menomorduakan ijazah malah memunculkan satu persepsi tertentu.