LANGIT7.ID - , Jakarta - Praktik
pemalsuan ijazah masih saja terjadi baik di daerah maupun kota besar. Padahal di
era digital seperti sekarang, ijazah bukanlah segala-galanya penentu masa depan. Lantas, mengapa orang Indonesia masih memalsukan ijazah?
Menurut
pemerhati pendidikan, Dr. Dirgantara Wicaksono penyebab masyarakat Indonesia masih melakukan praktik pemalsuan ijazah karena sistem di negara Indonesia masih melihat
legalitas daripada
kompetensi.
Baca juga: Nasihat Buya Yahya: Pekerjaan Tidak Harus Sesuai Ijazah"Jadi yang dilihat legalitasnya, dibandingkan kompetensi. Legalitasnya itu ya ijazah. Jadi kenapa masih ada? Karena untuk mendukung itu dalam administrasi. Apalagi dalam pemerintahan,
ijazah menjadi satu pokok kewajiban, kompetensinya nomor sekian yang penting ada ijazahnya," ujar Dirgantara atau akrab disapa Bombom kepada Langit7, Senin (10/10/2022).
Dia melanjutkan, di Indonesia orang yang memiliki ijazah tinggi dianggap paling keren dan hebat. Padahal, menurut Bombom tidak selalu demikian.
"Terkadang orang yang memiliki ijazah tinggi belum tentu mencerminkan kompetensinya, katanya.
Namun, lanjut pria yang mendapatkan gelar doktor di usia 28 tahun itu mengatakan, beberapa tempat yang menomorduakan ijazah malah memunculkan satu persepsi tertentu.
Baca juga: Ulama Mauritania: Menuntut Ilmu Harus Ikhlas, Bukan untuk Ijazah"Beberapa tempat yang melihat kemampuan atau kompetensi akan buat orang yang bergelar saja itu bisa tidak terpakai. Karena yang terpenting adalah dibalik gelar atau ijazah itu apa soft skill dan hard skill yang dimiliki untuk project yang sedang dibahas," pungkas pendiri dan pembina organisasi Backpacker Teaching Indonesia itu.
(est)