LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua Markaz Takwinil Ulama Mauritania, Syaikh Muhammad Al-Hasan Walad Ad-Dadau Asy-Syinqithi, mengingatkan para penuntut ilmu agar ikhlas hanya kepada Allah Ta'ala. Sebuah kesalahan besar jika niat menuntut ilmu hanya untuk mendapatkan ijazah semata.
"Menuntut Ilmu itu mengharapkan ridha Allah. Seseorang haruslah ikhlas di dalamnya, hanya kepada Allah, dan dengannya jangan menuntut dunia, jangan mengharap agar dipandang sebagai ulama, jangan mendebat orang bodoh, jangan mengharap agar mendapatkan ijazah, pekerjaan, maupun harta," kata Syaikh Hasan, dikutip
@manhaj.ahlussunnah, Senin (24/1/2022).
Jikapun mendapatkan gelar ataupun pekerjaan berkat ilmu yang dituntut, itu hanya bonus dari Allah Ta'ala. Allah berfirman:
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُ وَيَخْتَارُ ۗمَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ ۗسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
"Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka (manusia) tidak ada pilihan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan." (QS. Al-Qashash)
Secara spesifik, Syaikh Hasan mengingatkan para penuntut ilmu agar tidak belajar hanya karena ada ujian maupun mengejar ijazah. Penuntut ilmu tak boleh bersungguh-sungguh belajar saat memasuki masa-masa ujian.
"Akan tetapi, dari awal tahun (pembelajaran) bersungguh-sungguh berusaha memahami ilmu yang dipelajari, menghafalnya, dan berusaha keras, juga dengan mengamalkannya. Sebab, ilmu harus dibarengi dengan amal," ucapnya.
Pernyataan Syaikh Hasan ini sejalan dengan budaya ilmu pengetahuan di Mauritania. Di daerah tersebut, ketika anak beranjak 7 tahun ke atas, mereka pergi ke tempat para masyaikh belajar ilmu agama.
Namun, bukan di dalam kelas. Sebab, para masyaikh membuat tenda di tengah gurun. Di sana mereka melakukan proses belajar-mengajar.Saat syaikh meminta semua murid memperhatikan, tidak ada satu pun siswa berani menulis, membaca, apalagi bercanda. Semua akan fokus mendengarkan penjelasan syaikh.
Setelah mendengar penjelasan panjang lebar, baru mereka menulis. Tapi unik, mereka bukan menulis di atas kertas, tapi di batu, daun, kulit pohon atau sejenisnya. Mereka memang dilarang menggunakan kertas.
Setelah menulis semua penjelasan syaikh, tulisan itu diperlihatkan untuk dikoreksi. Jika ada kesalahan, sang syaikh akan membenarkan. Itu menunjukkan, syaikh juga menghafal apa yang telah diucapkan.
Ketika sudah ditulis dengan benar, syaikh meminta mereka menghapus catatan tersebut. Itu menunjukkan, semua catatan itu telah dihafal. Setelah itu, barulah syaikh melanjutkan pelajaran dengan metode serupa.
(jqf)