Media Sosial Harus Dijadikan Wadah Dakwah
Muhajirin
Selasa, 06 Juli 2021 - 18:13 WIB
Ilustrasi muslimah berselancar di dunia maya dengan penuh tanggung jawab dan beretika. Foto: Langit7.id/iStock
Pemuda Islam harus mengambil peran dalam mengendalikan lalu-lintas informasi di media sosial. Hal tersebut semata-mata untuk mengimbangi pengguna media sosial yang tak lagi mengutamakan adab.
Hal tersebut disampaikan langsung Rektor Universitas Ibnu Khaldum Musni Umar. Menurutnya, salah satu pemicu hilangnya adab di media sosial, yakni orientasi pengguna dunia maya bukan untuk menyampaikan kebenaran atau kebaikan. Media sosial digunakan untuk mendebat dan menjatuhkan yang tidak sepaham.
"Penting kita mendidik anak muda untuk berdakwah melalui media sosial. Ini yang kurang. Berdakwah itu bisa di media sosial. Anda sampaikan itu kebaikan ke publik agar terjadi perimbangan. Tugas kita dalam kerangka dakwah, kita menulis juga menyampaikan kebaikan. Kita bisa menulis adab-adab dalam beragama," kata Musni Umar kepada Langit7.id, Selasa (6/7/2021).
Pemuda Islam, kata dia, bisa aktif menulis kutipan nasihat yang bersumber dari Alquran dan Hadis. Kutipan itu kemudian diunggah di media sosial. Dengan begitu, media sosial di Indonesia bisa diwarnai dengan nasihat-nasihat baik, terlebih umat Islam merupakan penduduk mayoritas di negeri ini.
"Jadi kesalahan kita sekarang ini karena tidak menggunakan media sosial untuk menyampaikan kebenaran. Misalnya tulis renungan pagi dengan mengutip dari Alquran dan hadis, lalu diunggah di media social," ucapnya.
Sosiolog itu mengatakan, pertempuran umat Islam saat ini, salah satunya, beralih ke dunia maya. Bukan lagi perang fisik seperti masa Rasulullah. Pemuda Islam dibutuhkan untuk menyebarkan adab-adab Islam ke dunia maya.
"Gunakan tangan untuk mengobarkan dakwah. Sebarkan ceramah-ceramah ke media sosial. Sekarang ini pertempuran kita adalah di dunia maya, dengan menyebarkan kebanaran di media sosial. Kelemahan kita di umat Islam, mayoritas tapi tidak menjadi pelaku, selalu menjadi konsumen," tuturnya.
Hal tersebut disampaikan langsung Rektor Universitas Ibnu Khaldum Musni Umar. Menurutnya, salah satu pemicu hilangnya adab di media sosial, yakni orientasi pengguna dunia maya bukan untuk menyampaikan kebenaran atau kebaikan. Media sosial digunakan untuk mendebat dan menjatuhkan yang tidak sepaham.
"Penting kita mendidik anak muda untuk berdakwah melalui media sosial. Ini yang kurang. Berdakwah itu bisa di media sosial. Anda sampaikan itu kebaikan ke publik agar terjadi perimbangan. Tugas kita dalam kerangka dakwah, kita menulis juga menyampaikan kebaikan. Kita bisa menulis adab-adab dalam beragama," kata Musni Umar kepada Langit7.id, Selasa (6/7/2021).
Pemuda Islam, kata dia, bisa aktif menulis kutipan nasihat yang bersumber dari Alquran dan Hadis. Kutipan itu kemudian diunggah di media sosial. Dengan begitu, media sosial di Indonesia bisa diwarnai dengan nasihat-nasihat baik, terlebih umat Islam merupakan penduduk mayoritas di negeri ini.
"Jadi kesalahan kita sekarang ini karena tidak menggunakan media sosial untuk menyampaikan kebenaran. Misalnya tulis renungan pagi dengan mengutip dari Alquran dan hadis, lalu diunggah di media social," ucapnya.
Sosiolog itu mengatakan, pertempuran umat Islam saat ini, salah satunya, beralih ke dunia maya. Bukan lagi perang fisik seperti masa Rasulullah. Pemuda Islam dibutuhkan untuk menyebarkan adab-adab Islam ke dunia maya.
"Gunakan tangan untuk mengobarkan dakwah. Sebarkan ceramah-ceramah ke media sosial. Sekarang ini pertempuran kita adalah di dunia maya, dengan menyebarkan kebanaran di media sosial. Kelemahan kita di umat Islam, mayoritas tapi tidak menjadi pelaku, selalu menjadi konsumen," tuturnya.