LANGIT7.ID - Tak banyak pesantren yang membekali santri dengan ilmu dan
skill teknis, terlebih
skill yang dibutuhkan di era digital. Salah satunya adalah Pesantren Sintesa, sebuah pesantren yang terletak di pelosok desa di Magetan. Selain membina santri untuk menghafalkan Al-Qur’an para santri juga diajari secara intensif ilmu tentang
internet marketing atau
digital marketing.
Dikutip dari sintesa.net, Pesantren ini didirikan oleh Ibrahim Vatih, putra Kiai yang juga seorang
internet marketer yang berkeinginan membuat pesantren yang tidak hanya mempelajari ilmu agama. Tapi juga mendapatkan penghasilan dari internet seperti dirinya. Vatih sendiri merupakan ahli SEO dan
internet marketer yang mempunyai penghasilan 10 ribu US Dollar per bulan.
Pada Awalnya Vatih membuat pesantren di sebuah ruko di Yogyakarta. Kini, sudah mempunyai dua asrama bertingkat dua dan gratis bagi yang belajar di sana.
Pesantren ini menurut Sa’id Rosyadi, adik dari Ibrahim Vatih dimulai dari obrolan di warung makan. Saat itu, kakaknya Ibrahim Vatih mengungkapkan keinginannya untuk mendirikan pesantren bernama Sintesa.
Awal Mula Berdiri“Di malam itu, mas Vatih ngomong ke kita pertama kalinya tentang ide Sintesa. Paling ngomong doang, nggak bakal jalan. Lagian apaan tuh Sintesa, gak jelas banget namanya. Pesantren, kok, Sintesa?” kata Said melalui akun instagramnya.
Alasannya saat itu sebagai bentuk kepeduliannya terhadap generasi muda yang banyak menyia-nyiakan waktunya untuk hal-hal tidak bermanfaat.
“Banyak juga yang jiwa mudanya terpasung pekerjaan, sehingga bukan menjadi pemuda pekarya, tapi pemuda yang dikaryakan,” katanya saat itu.
Sa’id sempat tidak mempedulikan keinginan kakaknya itu. Ia baru sadar, ternyata kakaknya bersikeras untuk mendirikan Sintesa, hingga sempat mengobrol ke keluarga besar saat lebaran untuk membantunya merealisasikan pesantren yang masih di dalam mimpinya itu.
Namun, keluarga besarnya tidak percaya. Vatih dan istrinya akhirnya pulang ke kampung halamannya di Magetan. Meski demikian, Vatih masih bolak balik Magetan Jogja selama dua minggu sekali.
Sa’id sempat terkejut ternyata kakaknya telah mendirikan Pesaantren Sintesa di Yogyakarta secara diam-diam di sebuah ruko di sana. Bahkan ia baru mengetahui, Vatih sempat bilang ke abahnya, KH Riyadh Rosyad, kalau mau memakai gedung di depan rumah buat anak-anak santri Sintesa. Ayahnya akhirnya mengizinkan gedung tersebut dipakai.
Sebanyak sembilan orang santri angkatan pertama Pesantren Sintesa diboyong Vatih ke rumahnya di Magetan. Lalu Vatih memperkenalkan para santri tersebut kepada keluarganya.
Pesantren Sintesa kemudian lahir dengan tagline: Bersama Hijaukan Generasi Indonesia dan berdiri di atas asas Al-Qur’an surat Al-Qashash: 77.
Qur’an surat Al Qashas ayat 77 memiliki arti:
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
Menurut pakar tafsir abad 14 H Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir As-Sa’di, seorang muslim harus mencari pahala di sisi Allah dengan harta-hartanya, seperti menyedekahkannya sebagian dari rezeki itu di jalan Allah dan jangan hanya digunakan untuk memuaskan nafsu.
Maka Pesantren Sintesa berusaha mencetak muslim atau santri yang kaya yang bisa membelanjakan hartanya di jalan Allah.
Perkembangan Pesantren SintesaPerkembangan Pesantren Sintesa cukup pesat. Dimulai dari ruko, hingga punya rumah asrama di Magetan. Pada tahun 2016, Vatih bersama adik-adiknya mendirikan dua asrama di Desa Ngadirejo RT 04/02, Kec. Kawedanan, Kab. Magetan, Jawa Timur.
Fasilitas pun cukup lengkap untuk menunjang pendidikan santri, seperti internet kecepatan tinggi, makan tiga kali sehari, olahraga, hingga adanya ruang belajar khusus.
Melansir dari situsnya, kini Pesantren Sintesa mempunyai fokus dua bidang, yaitu menghafal Al-Qur’an dan Bisnis Online. Pada Al-Quran, Pesantren Sintesa spesifik fokus pada menghafal quran dengan target 2 juz setelah lulus dari pesantren. Sementara pada bisnis online, santri Sintesa mempelajari SEO, membuat
website, marketing melalui
facebook dan media sosial lain, serta
google adsense.
Syarat Jadi SantriUntuk menjadi santri Sintesa cukup mudah, yakni Pria Muslim dengan rentang usia 19-25 tahun. Mereka yang ingin belajar, harus siap di tinggal di asrama selama 1 tahun dan semuanya gratis.
Santri juga tidak diperbolehkan pulang dengan alasan apapun kecuali sakit parah atau kerabat terdekat meninggal dunia. Selain itu, tentu saja harus mempunyai laptop untuk belajar ilmu
internet marketing.
Selain program gratis, Pesantren Sintesa juga menyediakan program berbayar. Uang pendidikan nantinya diperuntukkan untuk membantu membiayai santri yang belajar di pesantren jugauntuk pengembangan dan perawatan pesantren.
Adapun program berbayar terdapat dua program untuk putra dan putri. Untuk putra, kuota tersedia untuk 20 santri dengan biaya Rp 7.5 juta. Sedangkan untuk putri, biayanya 3 juta rupiah dengan kuota 15 santri. Namun, selama pandemi Pesantren Sintesa tidak menerima pendaftaran.
Keberhasilan AlumniSalah satu alumni angkatan ke-4 Pesantren Sintesa bernama Fauzi mengungkapkan keberhasilannya setelah menjadi lulus. Sekarang, ia berhasil menyekolahkan istrinya hingga S2 dari hasil bisnis dengan internet marketing.
“Alhamdulillah, sekarang saya sudah menikah dan dapat menyekolahkan istri saya S2,” kata alumni asal Sidoarjo ini.
Sedangkan Fikri, alumni angkatan satu dari Pesantren Sintesa mengatakan ia sekarang lebih rajin beribadah. Mulai dari puasa senin-kamis sampai membaca dan menghafal Al-Qur’an.
“Sebelum masuk di Sintesa saya sempat lalai. Semenjak di Sintesa, saya jadi termotivasi untuk memperdalam ilmu agama. Apalagi di sini banyak yang mengingatkan,” katanya.
Hampir mayoritas alumni Pesantren Sintesa setelah lulus berhasil memiliki bisnis masing-masing dengan ilmu
internet marketing yang diberikan selama nyantri.
(jqf)