LANGIT7.ID, Jakarta - Pemuda Islam harus mengambil peran dalam mengendalikan lalu-lintas informasi di media sosial. Hal tersebut semata-mata untuk mengimbangi pengguna
media sosial yang tak lagi mengutamakan adab.
Hal tersebut disampaikan langsung Rektor Universitas Ibnu Khaldum Musni Umar. Menurutnya, salah satu pemicu hilangnya adab di media sosial, yakni orientasi pengguna dunia maya bukan untuk menyampaikan kebenaran atau kebaikan. Media sosial digunakan untuk mendebat dan menjatuhkan yang tidak sepaham.
"Penting kita mendidik anak muda untuk berdakwah melalui media sosial. Ini yang kurang. Berdakwah itu bisa di media sosial. Anda sampaikan itu kebaikan ke publik agar terjadi perimbangan. Tugas kita dalam kerangka dakwah, kita menulis juga menyampaikan kebaikan. Kita bisa menulis adab-adab dalam beragama," kata Musni Umar kepada
Langit7.id, Selasa (6/7/2021).
Pemuda Islam, kata dia, bisa aktif menulis kutipan nasihat yang bersumber dari Alquran dan Hadis. Kutipan itu kemudian diunggah di media sosial. Dengan begitu, media sosial di Indonesia bisa diwarnai dengan nasihat-nasihat baik, terlebih umat Islam merupakan penduduk mayoritas di negeri ini.
"Jadi kesalahan kita sekarang ini karena tidak menggunakan media sosial untuk menyampaikan kebenaran. Misalnya tulis renungan pagi dengan mengutip dari Alquran dan hadis, lalu diunggah di media social," ucapnya.
Sosiolog itu mengatakan, pertempuran umat Islam saat ini, salah satunya, beralih ke dunia maya. Bukan lagi perang fisik seperti masa Rasulullah. Pemuda Islam dibutuhkan untuk menyebarkan adab-adab Islam ke dunia maya.
"Gunakan tangan untuk mengobarkan dakwah. Sebarkan ceramah-ceramah ke media sosial. Sekarang ini pertempuran kita adalah di dunia maya, dengan menyebarkan kebanaran di media sosial. Kelemahan kita di umat Islam, mayoritas tapi tidak menjadi pelaku, selalu menjadi konsumen," tuturnya.
Menurutnya, masih banyak orang beradab di negeri ini. Hanya saja, mereka tidak menggunakan media sosial sehingga jagad maya dipenuhi orang-orang yang menabrak batas-batas moral. "Saat ini, banyak orang beradab, hanya saja belum tampil di media sosial. Jadi yang terlihat itu ornag yang tidak beradab," ucapnya.
Pesantren Jadi SolusiMusni mengatakan, salah satu penyebab utama fenomena tersebut adalah pendidikan yang tidak merata. Masih banyak anak-anak Indonesia tidak mendapatkan pendidikan layak. Namun permasalahan tak sampai di situ, anak-anak yang belajar pun kurang mendapatkan pelajaran adab.
Salah satu solusi dari masalah ini adalah
pondok pesantren. Para pendidik di pondok pesantren harus menyampaikan kepada para santri bahwa zaman sangat cepat mengalami perubahan. Kebutuhan terhadap teknologi meningkat pesat. Berbagai kemudahan ditawarkan, tapi tidak dibarengi pendidikan untuk menyeimbangi perkembangan tersebut.
"Inilah pentingnya para ustaz bagaimana menyampaikan kepada para santri, bahwa kita telah hidup di era yang berubah sekali. Sebut saja gawai, sekarang semua orang bisa memakai itu, dan pengaruhnya sangat besar," ungkapnya.
Musni meminta para pemuda menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Setelah itu, ilmu yang didapatkan bisa disebarkan melalui media sosial. "Harus siap dengan tantangan
dakwah dalam semua kondisi. Jangan pernah merasa rendah. Kita tidak lagi berperang secara fisik, tapi perang di media sosial. Kita berdakwah di sana," tuturnya.
Dia mengingatkan, masa depan agama maupun banga berada di tangan pemuda. Selain kesadaran dari para pemuda, kaum tua juga perlu menyadari hal ini. Kaum tua harus memberikan pendidikan yang sesuai dengan tantangan zaman, agar para pemuda bisa bertahan di atas kebenaran dengan segala kondisi.
"Masa depan umat Islam sangat ditentukan oleh kaum muda, kalau kaum muda tidak memiliki ilmu, tidak memiliki semangat, nilai-nilai keimanan dan ketakwaan lemah, maka Islam akan lemah. Seperti gabaran Rasulullah, umat Islam seperti buih di lautan. Jangan terlalu mencintai dunia, takut mati, tapi tidak mau berjuang," ucapnya.
(asf)