Sultan Hamid II, Zuriah Rasulullah SAW Perancang Garuda Pancasila
Muhajirin
Selasa, 17 Agustus 2021 - 11:12 WIB
Sultan Hamid II (foto: KITLV)
Siapa yang tak tahu burung berkalung perisai lambang negara yang merangkum lima dasar Pancasila? Lambang garuda itu dirancang oleh Habib Syarif Abdul Hamid Alkadrie. Putra sulung Sultan Pontianak, Sultan Syarif Muhammad Alkadrie.
Putra Mahkota Kesultanan Pontianak yang kemudian dipanggil Sultan Hamid II itu, lahir pada 12 Juli 1913. Dalam tubuhnya mengalir darah Indonesia-Arab, dan pernah diasuh oleh perempuan berkebangsaan Inggris.
Sultan Hamid II dibesarkan di lingkingan Istana Qadriyah Kesultanan Pontianak. Mengutip Deposit Pustaka Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pontianak, Kakek buyut beliau adalah ulama asal Tarim di Hadramaut, Yaman Selatan, yakni Habib Husein Al-Qodrie.
Syarif Abdul Hamid menempuh pendidikan dasari di Europeesche Lagere School (ELS) di Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. Pendidikan menengah di Hogereburgerschool (HBS) di Bandung satu tahun, Technische Hoogeschool (THS) Bandung tidak selesai, melanjutkan pendidikan militer di Koninklijke Militaire Academie (KMA) di Breda, Belanda sampai selesai dan meraih pangkat letnan pada kesatuan tentara Hindia Belanda.
Baca Juga: Habib Ali Kwitang, Ulama Penentu Tanggal Proklamasi Kemerdekaan
Masa Perjuangan
10 Maret 1942, Syarif Abdul Hamid mengalami peristiwa memilukan. Saat Jepang mengalahkan Belanda dan sekutunya, ia tertawan. Ia bebas saat Jepang menyerah kepada sekutu. Ketika ayahnya wafat akibat agresi Jepang pada 29 Oktober 1945, Syarif Abdul Hamid diangkat menjadi Sultan Pontianak menggantikan ayahnya dengan gelar Sultan Hamid II.
Putra Mahkota Kesultanan Pontianak yang kemudian dipanggil Sultan Hamid II itu, lahir pada 12 Juli 1913. Dalam tubuhnya mengalir darah Indonesia-Arab, dan pernah diasuh oleh perempuan berkebangsaan Inggris.
Sultan Hamid II dibesarkan di lingkingan Istana Qadriyah Kesultanan Pontianak. Mengutip Deposit Pustaka Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pontianak, Kakek buyut beliau adalah ulama asal Tarim di Hadramaut, Yaman Selatan, yakni Habib Husein Al-Qodrie.
Syarif Abdul Hamid menempuh pendidikan dasari di Europeesche Lagere School (ELS) di Sukabumi, Pontianak, Yogyakarta, dan Bandung. Pendidikan menengah di Hogereburgerschool (HBS) di Bandung satu tahun, Technische Hoogeschool (THS) Bandung tidak selesai, melanjutkan pendidikan militer di Koninklijke Militaire Academie (KMA) di Breda, Belanda sampai selesai dan meraih pangkat letnan pada kesatuan tentara Hindia Belanda.
Baca Juga: Habib Ali Kwitang, Ulama Penentu Tanggal Proklamasi Kemerdekaan
Masa Perjuangan
10 Maret 1942, Syarif Abdul Hamid mengalami peristiwa memilukan. Saat Jepang mengalahkan Belanda dan sekutunya, ia tertawan. Ia bebas saat Jepang menyerah kepada sekutu. Ketika ayahnya wafat akibat agresi Jepang pada 29 Oktober 1945, Syarif Abdul Hamid diangkat menjadi Sultan Pontianak menggantikan ayahnya dengan gelar Sultan Hamid II.