Pengalaman Guru Besar UIN saat Nyantri: Suka, Duka, dan Bersejarah
Hasanah syakim
Ahad, 23 Oktober 2022 - 07:01 WIB
Pengalaman Guru Besar UIN saat Nyantri: Suka, Duka, dan Bersejarah. Foto: LANGIT7.ID/Muhajirin.
Hari Santri Nasional (HSN) dimaknai sebagai bentuk pengakuan dan penghargaan negara terhadap para santri di nusantara yang berkontribusi dalam komitmen berbangsa dan bernegara. Hingga kini, banyak kalangan santri berkontribusi terutama pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pengalaman dan kesan juga diceritakan salah satu Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Murodi yang dahulu seorang santri di tahun 1970-an. Baginya, proses menimba ilmu di Pondok Pesantren menjadi momen suka, duka, dan bernilai sejarah.
Selain itu, di saat para santri sudah menjadi pengabdi dan penyebar ilmu, sementara ada kyai, ajengan dan para asatidz yang berjuang keras dan ikhlas mengajari para santri telah berpulang ke rahmatullah.
Baca Juga:Era Digital, Santri Harus Berpikir Seperti saat Belajar Hadits
"Suka, karena kita dipertemukan dengan kawan baru dari berbagai daerah di Tanah Air. Belajar bersama, bermain, dan bahkan tidur juga bersama dalam barak, kamar atau Kobong," kata Prof Murodi dalam keterangan tertulis, dikutip Ahad (23/10/2022).
Lebih lanjut, menurut dia, di Pesantren para santri akan digembeng supaya mandiri dan terus mencari serta belajar ilmu terutama ilmu agama untuk hidup mandiri di kemudian hari.
"Dukanya atau tidak enaknya saat tidak punya uang. Menunggu uang kiriman dari orang tua, lama enggak datang-datang, sedih memang, habis mau bagaimana lagi," ujarnya.
Pengalaman dan kesan juga diceritakan salah satu Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Murodi yang dahulu seorang santri di tahun 1970-an. Baginya, proses menimba ilmu di Pondok Pesantren menjadi momen suka, duka, dan bernilai sejarah.
Selain itu, di saat para santri sudah menjadi pengabdi dan penyebar ilmu, sementara ada kyai, ajengan dan para asatidz yang berjuang keras dan ikhlas mengajari para santri telah berpulang ke rahmatullah.
Baca Juga:Era Digital, Santri Harus Berpikir Seperti saat Belajar Hadits
"Suka, karena kita dipertemukan dengan kawan baru dari berbagai daerah di Tanah Air. Belajar bersama, bermain, dan bahkan tidur juga bersama dalam barak, kamar atau Kobong," kata Prof Murodi dalam keterangan tertulis, dikutip Ahad (23/10/2022).
Lebih lanjut, menurut dia, di Pesantren para santri akan digembeng supaya mandiri dan terus mencari serta belajar ilmu terutama ilmu agama untuk hidup mandiri di kemudian hari.
"Dukanya atau tidak enaknya saat tidak punya uang. Menunggu uang kiriman dari orang tua, lama enggak datang-datang, sedih memang, habis mau bagaimana lagi," ujarnya.