Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 12 Mei 2026
home sosok muslim detail berita

Pengalaman Guru Besar UIN saat Nyantri: Suka, Duka, dan Bersejarah

hasanah syakim Ahad, 23 Oktober 2022 - 07:01 WIB
Pengalaman Guru Besar UIN saat Nyantri: Suka, Duka, dan Bersejarah
Pengalaman Guru Besar UIN saat Nyantri: Suka, Duka, dan Bersejarah. Foto: LANGIT7.ID/Muhajirin.
LANGIT7.ID, Jakarta - Hari Santri Nasional (HSN) dimaknai sebagai bentuk pengakuan dan penghargaan negara terhadap para santri di nusantara yang berkontribusi dalam komitmen berbangsa dan bernegara. Hingga kini, banyak kalangan santri berkontribusi terutama pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pengalaman dan kesan juga diceritakan salah satu Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Murodi yang dahulu seorang santri di tahun 1970-an. Baginya, proses menimba ilmu di Pondok Pesantren menjadi momen suka, duka, dan bernilai sejarah.

Selain itu, di saat para santri sudah menjadi pengabdi dan penyebar ilmu, sementara ada kyai, ajengan dan para asatidz yang berjuang keras dan ikhlas mengajari para santri telah berpulang ke rahmatullah.

Baca Juga: Era Digital, Santri Harus Berpikir Seperti saat Belajar Hadits

"Suka, karena kita dipertemukan dengan kawan baru dari berbagai daerah di Tanah Air. Belajar bersama, bermain, dan bahkan tidur juga bersama dalam barak, kamar atau Kobong," kata Prof Murodi dalam keterangan tertulis, dikutip Ahad (23/10/2022).

Lebih lanjut, menurut dia, di Pesantren para santri akan digembeng supaya mandiri dan terus mencari serta belajar ilmu terutama ilmu agama untuk hidup mandiri di kemudian hari.

"Dukanya atau tidak enaknya saat tidak punya uang. Menunggu uang kiriman dari orang tua, lama enggak datang-datang, sedih memang, habis mau bagaimana lagi," ujarnya.

Apalagi di tahun itu, teknologi belum berkembang pesat seperti hari ini sehingga jangankan alat telekomunikasi, jasa penghantar surat atau kiriman lainnya pun belum tersedia.

"Termasuk wesel ke pesantren saya yang cukup terpencil di daerah Cijurai, Tegal Panjang, Sukaraja, Sukabumi, Jawa Barat. Akhirnya, untuk menyambung hidup makan seadanya bahkan seringnya, kami ngutang di warung Ceu Odah, Mang Afud dan lainnya," tuturnya mengenang pengalamannya.

Prof Murodi mengaku saat menjadi santri memang kondisinya terasa sulit sekali, bahkan dia harus rela memasak nasi sendiri, dengan menu yang ala kadarnya jauh dari kata mewah. Akan tetapi, tetap selalu ada kenikmatan yang dirasakan.

"Saat itu, memang terasa sulit sekali makan dan tidur ala kadarnya. Makan, masak nasi sendiri pakai kastrol, di pinggir kompor ditaruh ikan asin dan terasi. Nasi mateng, ikan dan terasi juga mateng," ujar dia.

"Diambil dan ditaruh di atas daun pisang atau piring kaleng. Meski panas langsung diembat dan dimakan, lauknya ikan asin dan terasi, semua itu terasa nikmat sekali," imbuhnya.

Baca Juga: Mahasiswi dari Pesantren Persis Jakarta Ini Berhasil Pertahankan Prestasi

Kendati demikian, Murodi merasa beruntung karena Pondok Pesantren tempat dirinya menimba ilmu ialah di pedesaan dan dekat dengan persawahan serta bukit yang punya banyak potensi, sehingga di sana dia kerap mencari bahan pangan untuk diolah sebagai masakan.

"Untungnya, Pondok Pesantren saya di pedesaan, dekat dengan persawahan yang dikelilingi bukit nan hijau. Untuk menambah gizi, kadang seminggu dua atau tiga kali saya mencari belut di malam hari, lumayan buat perbaikan gizi," ujarnya.

Tak hanya itu, dia juga membagikan kisah paling mengesankan saat menjadi santri, yaitu diundang tahlilan atau acara-acara keagamaan seperti maulud atau isra mi'raj oleh masyarakat sekitar.

"Hal yang paling menyenangkan kalau diundang tahlilan, acara maulud atau isra mi'raj oleh masyarakat. Kita ikut zikir bersama, mendengarkan ceramah, makan bersama, terkadang pulang dibungkusin buat dimakan lagi di kamar," katanya.

Selain makan, hal sederhana lain pun juga dirasakannya saat hendak tidur. Prof Murodi harus tidur di tas bale bambu atau papan kayu yang hanya beralaskan tikar, di tambah udara malam yang dingin di tengah perbukitan hingga gangguan serangga.

"Tidur tidak nyenyak, karena banyak Tumila, badan habis korengan karena selalu digaruk akibat gigitan tumila. Dan ini pasti dirasakan oleh para santri, tak jarang kita tidur tanpa pakai CD, cuma pakai sarung doang," tuturnya.

Selanjutnya, mandi juga menjadi perkara yang penuh pengalaman menarik sebab mengantri jadi ciri khas seorang santri saat akan mandi, dan bersiap untuk belajar.

"Hal menarik lainnya soal mandi. Kalau mau mandi, kita harus antri sebelum subuh, sekitar pukul 4.00 pagi, kita sudah dibangunin siap-siap pergi ke masjid untuk persiapan salat subuh berjama'ah. Sebelum itu, kita sudah mandi," ujarnya.

Dia mengaku pernah suatu ketika saat mandi dan berbarengan dengan bebek, hingga membuatnya gatal-gatal akibat ulah para bebek. "Kita mandi dari air saluran yang akan masuk ke kolam, bebek di saluran itu mencari makan, mandi dan buang kotoran. Jadi badan kita gatal-gatal karena bebek," katanya.

Kendati pedih belajar di pesantren akan tetapi semua itu menjadi pelaharan berharga serta momen penting dalam meniti kehidupan. Mulai dari belajar kitab kuning dan buku-buku klasik lainnya menjadi kegiatan rutin santri.

"Melalu metode sorogan, wetonan atau bandongan, kami belajar. Dan alhamdulillah, berkat bimbingan kyai atau ajengan serta para asatidz, ilmu itu kami peroleh," ujarnya.

Baca Juga: 9 Ciri Orang Tidak Dewasa Secara Emosional, Salah Satunya Agresif

Salah satu upaya untuk benar-benar memahami setiap materi dari kitab yang dikaji, dia dan beberapa kawan santri lainnya mengkaji ulang secara berkelompok materi yang diperoleh dari para pengajar tepat di malam hari. "Dan itu kami lakukan setelah pengajian malam, sekitar pukul 22-24 malam hari, sehingga kami betul-betul paham materi dari kitab yang kami kaji," katanya.

Dan nyatanya materi yang diajarkan selama di pesantren menjadi berguna saat melanjutkan pendidikan lebih lanjut. Semua yang ajarkan di lembaga pendidikan, sudah dipelajari di pesantren. "Jadi, gak mulai dari awal. Tinggal pendalaman saja," ujarnya.

Selama menjalani proses pendidikan, Prof Murodi mengatakan tidak ada bullying di mana santri memiliki posisi dan status yang sama. Bahkan, senioritas dan junioritas tidak ada saat dia di pesantren. "Bahkan, saling bantu dan mengingatkan. Jika kita punya masalah, baik masalah dalam bidang keuangan maupun materi pelajaran," katanya.

Tak lupa, di momen Hari Santri Nasional Prof Murodi memberikan ucapan terima kasihnya kepada kiayi dan para asatidz yang telah membimbing, mengarahkan dan menggemleng hingga menjadi manusia bermanfaat.

"Terima Kasih kyai atau ajengan dan para asatidz yang telah mengajari kami berbagai ilmu agama dengan penuh keikhlasan dan kesabaran. Mengajari kami kemandirian, kesabaran dan keikhlasan. Insya Allah, semua itu bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa," tuturnya.

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 12 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:48
Isya
18:59
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)