LANGIT7.ID - , Jakarta -
Guru Besar Filologi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Oman Fathurahman mengatakan
era digital menjadi tantangan para santri menghadapi derasnya arus informasi.
Saat di mana informasi berasal dari sumber tidak primer, pengasuh Pondok Pesantren Al Hamidiyah di Sawangan, Depok, Jawa Barat ini berharap para santri bisa mengembalikan cara berpikir, bersikap, dan
berperilaku.
Baca juga: Menag: Saat Indonesia Memanggil, Santri Selalu Siap"Jadi dari sumber yang instan itu santri harus bisa mengembalikan cara berpikir, bersikap, dan berperilaku. Khususnya dalam merespon isu keagamaan dengan cara selalu melacak sumber informasi," kata Oman saat ditemui Langit7 di PPIM UIN Jakarta, beberapa waktu lalu.
Menurut penulis buku Filologi Indonesia Teori dan Metode ini, kondisi saat ini seperti halnya saat santri
belajar hadits. Di mana dalam hadits selalu melacak mulai dari
sanad, riwayat, hingga mencari siapa orang-orang yang meriwayatkan hadits tersebut.
"Nah, makanya dari situ mengapa ada hadits mutawatir, shahih, hasan, dhoif, atau bahkan ada hadits yang tertolak. Karena dalam tradisi Islam bagi para santri, satu informasi meski baik belum tentu itu hadits dari Nabi," jelasnya.
Lebih lanjut, Oman menegaskan bahwa melacak originalitas sebuah informasi itu penting. Kemudian, dalam konteks saat ini santri punya peran, serta tantangan.
"Untuk menerapkan cara berpikir, melacak keaslian sebuah informasi di era sekarang ini caranya sederhana. Ketika kita terima pesan misal di
Whatsapp atau di
media sosial, sebelum menyebarkan dilacak dulu ini benar tidak," pesannya.
Baca juga: Ciri Khas Santri Muhammadiyah, Modern dan Jarang Pakai SarungMenurutnya, santri punya kontribusi sangat besar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
"Jadi kalau perilaku
check and recheck itu sama seperti dalam tradisi hadist bagaimana melihat itu," tambah dia.
Selain itu, dosen yang menulis buku Ithãf al-dhaki: Tafsir Wahdatul Wujud bagi Muslim Nusantara ini berpesan agar dunia pesantren tetap mempertahankan jati diri kepesantrenannya. Namun, pada saat yang sama harus bisa beradaptasi dengan perubahan.
"Jika pesantren tidak mau berubah atau tidak mau beradaptasi dengan perubahan, maka dia akan tertinggal. Sebab, bagi para santri nilai-nilai yang tadi saya sebutkan itu harus menjadi bagian dari jati diri kita," ujar
mantan santri salaf di Tasikmalaya, Jawa Barat itu.
Selanjutnya, Oman meminta para santri saat ini memakai ilmu bukan hanya di pesantren saja. Namun, dipraktekkan saat sudah lulus dan bermasyarakat.
"Kalau santri sekarang berleha-leha dan mengikuti hawa nafsunya untuk bermain medsos, sama seperti yang bukan santri misalnya. Maka waktunya akan habis. Dan ketika nantinya dia membutuhkannya jati diri, serta karakter yang kuat untuk
survive kemudian hari mungkin dia tidak akan bertahan," ungkapnya.
Baca juga: Fishantren, Cara Berdayakan Santri Belajar Bisnis PerikananDia pun menekankan bahwa daya tahan, atau survival seorang santri di kemudian hari, ditentukan oleh sejauh mana nilai-nilai yang ada di dalam santri memiliki modal yang begitu kuat.
(est)