STID Mohammad Natsir Wisuda 91 Dai, Ini Pesan Ketum Dewan Da’wah
Ummu hani
Ahad, 23 Oktober 2022 - 16:15 WIB
STID Mohammad Natsir Wisuda 91 Dai, Ini Pesan Ketum Dewan Dawah. Foto: Bid Infokom Dewan Dawah..
Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir Sabtu (22/10/2022) menyelenggarakan wisuda yang ke-12 dengan 91 wisudawan dan wisudawati. Dalam kesempatan itu, Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Dr Adian Husaini berpesan kepada para wisudawan dan wisudawati.
Menurut dia, kalau sudah memilih jalan dakwah dan menamatkan diri di STID Mohammad Natsir maka sudah memilih jalan yang berbeda dari kebanyakan orang. “Untuk kalian yang wisuda hari ini harus bangga, karena meneruskan perjuangan para ulama dan santri dalam merebut kemerdekaan," katanya.
"Secara kebetulan hari ini 22 oktober adalah hari santri, ini berkaitan dengan keluarnya fatwa jihad dari Hasyim Asyari. Dengan intinya adalah mempertahankan kemerdakan dan melawan penjajah, siapa yang meninggal karena berjuang adalah mati syahid, siapa yang berkhianat dihukum mati,” imbuhnya.
Baca Juga:91 Tahun Syed Naquib Al-Attas, Bangun Kerangka Berpikir Islami Hadapi Modernisasi
Ia menambahkan jika hari santri dahulu adalah perjuangan melawan penjajah, melawan pesawat tempur, meriam senjata modern, maka berbeda dengan generasi hari ini. Perintah jihad ini tidak pernah berhenti dan harus dilanjutkan oleh para wisudawan dan wisudawati yang ada di STID Mohammad Natsir.
Sebab, kata Dr Adian, penjajahan di masa sekarang adalah pendidikan dan ini sama yang dilakukan oleh Snouck Hugronje waktu itu. Yaitu untuk melemahkan umat Islam adalah melepaskan umat dari agamanya dengan program sekulerisasi, liberasisasi yang bisa dicapai dengan pendidikan.
“Ini yang dilakukan oleh pendiri Dewan Dakwah, Mohammad Natsir. Ketika pemerintah membuka program transmigrasi dan dimanfaatkan oleh para misionaris untuk membuat sekolah dan berbagai program pendidikan untuk membuat umat Islam jauh dari agama,” katanya.
Menurut dia, kalau sudah memilih jalan dakwah dan menamatkan diri di STID Mohammad Natsir maka sudah memilih jalan yang berbeda dari kebanyakan orang. “Untuk kalian yang wisuda hari ini harus bangga, karena meneruskan perjuangan para ulama dan santri dalam merebut kemerdekaan," katanya.
"Secara kebetulan hari ini 22 oktober adalah hari santri, ini berkaitan dengan keluarnya fatwa jihad dari Hasyim Asyari. Dengan intinya adalah mempertahankan kemerdakan dan melawan penjajah, siapa yang meninggal karena berjuang adalah mati syahid, siapa yang berkhianat dihukum mati,” imbuhnya.
Baca Juga:91 Tahun Syed Naquib Al-Attas, Bangun Kerangka Berpikir Islami Hadapi Modernisasi
Ia menambahkan jika hari santri dahulu adalah perjuangan melawan penjajah, melawan pesawat tempur, meriam senjata modern, maka berbeda dengan generasi hari ini. Perintah jihad ini tidak pernah berhenti dan harus dilanjutkan oleh para wisudawan dan wisudawati yang ada di STID Mohammad Natsir.
Sebab, kata Dr Adian, penjajahan di masa sekarang adalah pendidikan dan ini sama yang dilakukan oleh Snouck Hugronje waktu itu. Yaitu untuk melemahkan umat Islam adalah melepaskan umat dari agamanya dengan program sekulerisasi, liberasisasi yang bisa dicapai dengan pendidikan.
“Ini yang dilakukan oleh pendiri Dewan Dakwah, Mohammad Natsir. Ketika pemerintah membuka program transmigrasi dan dimanfaatkan oleh para misionaris untuk membuat sekolah dan berbagai program pendidikan untuk membuat umat Islam jauh dari agama,” katanya.