LANGIT7.ID, Jakarta - Salah satu ulama dan cendekiawan muslim yang berpengaruh di abad 21 adalah Syed Naquib Al-Attas. Zuriah Rasulullah yang bernama lengkap Prof. Dr. Syed Muhammad al Naquib bin Ali bin Abdullah bin Muhsin al Attas, lahir di Bogor tepat 91 tahun lalu pada 5 September 1931.
Al-Attas mendirikan
International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) di Malaysia pada 1987 dan melahirkan banyak pemikir dan cendekiawan muslim terkemuka dari berbagai negara, termasuk Indonesia.
Bagi murid-muridnya, Al-Attas adalah Al-Ghazali di era modern. Al-Ghazali menyaring derasnya arus filsafat Yunani ke dunia Islam dengan menghidupkan ilmu agama dan membangkitkan lesunya kondisi umat Islam. Sementara Al-Attas berperan besar membangun kerangka berpikir Islami untuk membendung pemikiran barat dalam ilmu pengetahuan modern.
Baca Juga: Ketika Imam Al-Ghazali Meruntuhkan Filsafat Aristoteles
Ketua Yayasan Bentala Tamaddun Nusantara, Ustadz Anton Ismunanto, mengungkapkan, Al-Attas adalah satu dari sedikit pemikir muslim yang menjawab berbagai persoalan yang dihasilkan modernisasi secara luas dalam konteks filsafat dan ilmu pengetahuan.
Al-Attas berhasil mengangkat kembali khazanah Islam tradisional menjadi kerangka keilmuan yang kokoh yang mampu menjawab tantangan modernisasi. Al-Attas mengisi kekosongan dari kalangan tradisional yang tidak cukup mampu menggunakan potensinya menjawab kemodernan tersebut.
"Nah, Prof Al-Attas bisa dibilang satu dari sedikit sekali pemikir yang mampu melakukannya. Tidak hanya melakukannya, tapi punya kerangka yang jelas yang mengagumkan. Memang, sebagian orang tidak segan untuk mengatakan bahwa Prof Al-Attas itu seorang pembaharu di bidang kajian kalam, teologi atau falsafah Islam," ujar Anton kepada LANGIT7.ID, Senin (5/9/2022).
Dalam ilmu syariat, Al-Attas bukan otoritas, tapi dalam konteks pemikiran Islam dia harus diakui. Dia mampu menunjukkan bahwa khazanah tradisional sangat kaya. Jika diibaratkan khazanah tradisional sebagai bahan mentah, dia menata sedemikian rupa menjadi sebuah kerangka baru.
Baca Juga: Tradisi Intelektual di Makkah dan Madinah, dari Al-Suffah Hingga Universitas
Diketahui, Al-Attas menggali dan mensintesiskan pemikiran para ulama kalam dan tasawuf seperti Imam Al-Ghazali, Ibnu Arabi hingga Hamzah Fansuri menjadi kerangka baru yang disebut sebagai Islamic Worldview.
Kerangka baru tersebut bisa dipakai sebagai alternatif menyelesaikan masalah-masalah yang ditimbulkan kemodernan itu. Sama halnya dalam konteks islamisasi sains. Al-Attas mampu memberikan kerangka bahwa sebelum produk-produk teknologi, seseorang harus membenahi cara pandangnya terlebih dahulu.
"Beliau menunjukkan bahwa banyak hal-hal yang kita anggap remeh itu ternyata tidak sederhana. Misalkan, anggapan kita soal manusia, ternyata berdampak ke mana-mana. Kaitannya tentang apa itu bahagia, kesenangan, apa itu kemajuan, itu kan ternyata signifikan sekali," ujar Anton.
Bagi orang yang tidak belajar filsafat, Al-Attas mungkin dianggap terlalu berlebihan dalam mendudukkan perkara-perkara yang kerap dianggap remeh tersebut. Tapi, bagi orang yang belajar filsafat, pemikiran Al-Attas sangat luar biasa.
Baca Juga: Budaya Ilmu Tinggi, Kunci Peradaban Islam Bisa Kuasai Dunia
"Kalau kita biarkan konsep-konsep asing itu beranak pinak dalam pikiran kita, itu mengubah betul cara pandang kita, dan turunannya terhadap sikap kita," tutur Anton.
Al-Attas mengingatkan dengan telaten perkara-perkara dasar yang berdampak signifikan tersebut. Memang banyak yang meremehkan Al-Attas, bahkan sampai dilabeli radikal.
Tapi orang Barat yang mengalami secara langsung dampak kemodernan itu akan mengagumi pemikiran Al-Attas. Anton mencontohkan Pendiri Zaytuna College di Amerika Serikat, Syaikh Hamzah Yusuf yang menemukan oase dalam pemikiran Al-Attas.
"Bukan oase yang melarikan diri ya, tapi oase yang rasional dalam makna positif, bisa memberikan alternatif yang meyakinkan sih menurut saya," ungkap Anton.
Baca Juga: Rektor Unida Gontor: Rusaknya Ilmu karena Terpisah dari Iman
Apa Dampak Pemikiran Al-Attas di Indonesia?
Di antara murid-murid Syed Naquib Al-Attas di Indonesia adalah Rektor Universitas Darussalam Gontor, Prof. Dr. KH. Hamid Fahmy Zarkasyi. Ada pula Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Dr Adian Husaini, dan masih banyak lagi.
Awalnya, pengaruh pemikiran Al-Attas di Indonesia memang belum terlalu luas. Salah satu penyebabnya, belum banyak murid Al-Attas yang bisa menjelaskan pemikirannya secara memadai.
Namun belakangan setelah muncul orang-orang yang belajar secara langsung kepada Al-Attas yang menunjukkan pikirannya berikut dampak-dampak yang ditimbulkan. Anton menilai, pemikiran Al-Attas menggiring seseorang melihat ulama-ulama klasik begitu berharga dan berwibawa.
"Ketika kalangan modernis meremehkannya, tradisionalis gagal menampakan kebesarannya, Al-Attas menunjukkan bahwa ulama-ulama kita itu gagah-gagah, dan beliau menambahkan itu juga ke diri beliau. Beliau tampak berwibawa," ucap Anton.
Baca Juga: Tiga Zuriah Nabi Paling Berjasa dalam Pendidikan Islam Hari Ini
Al-Attas juga memberikan penjelasan tentang tradisi intelektual Melayu seperti Hamzah Fansuri. Itu membuka wawasan masyarakat terkait peran dan kontribusi besar ulama-ulama Nusantara terhadap perkembangan Islam.
Maka itu, Anton berharap pemikiran Al-Attas banyak dikaji agar bisa dipahami secara luas oleh masyarakat. Namun, pemikiran Al-Attas harus ditafsirkan sesuai dengan maksud dan tujuan Al-Attas dalam membangun kerangka baru dalam khazanah pemikiran Islam.
"Tapi di satu sisi yang lain, kalau kemudian penafsiran pemikiran beliau tidak sesuai dengan yang beliau maksudkan, lalu menimbulkan kesalahpahaman, itu yang perlu diantisipasi," pungkas Anton.
(jqf)