LANGIT7.ID - Umat Islam di bumi Nusantara berutang budi kepada ulama keturunan Nabi Muhammad SAW. Terutama pada mereka yang sangat berjasa dalam membangun pendidikan Islam dan dalam menyebarkan ajaran Islam
Ahlussunnah wal Jama'ah ke penjuru dunia. Terlebih dalam mengkader para ulama yang kemudian berdakwah di bumi Nusantara hari ini.
Tidak hanya garis keturunan, mata rantai ilmu mereka juga terhubung dengan Nabi SAW. Sehingga, hingga saat ini umat Islam dapat meneguk air ilmu dari mereka. Tidak hanya pada awal penyebaran Islam, bahkan hingga saat ini jasa mereka sangat berharga.
Ada tiga ulama yang masih hidup dari kalangan Ahlul Bayt yang sangat berpengaruh dalam perkembangan pendidikan Islam. Mereka membentengi umat Islam dari keyakinan yang tidak sesuai dengan keyakinan Islam.
1. Syed Muhammad Naquib Al-AttasKiprah Syed Muhammad Naquib Al-Attas tidak bisa diragukan lagi, khususnya dalam dunia pemikiran Islam. di Malaysia, ia mendirikan sebuah institut pendidikan tinggi, Institut Internasional Pemikiran dan Peradaban Islam (ISTAC).
Dari lembaga ini, Syed Muhammad Naquib Al-Attas berhasil mendidik beberapa mahasiswa yang sangat terkenal dengan ilmunya seperti Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud, Prof. Khalif Muammar, Prof. Tatiana Denisova, Prof. dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, Prof. Muhammad Zainy, Associate Prof. Dr. Wan Suhaimi dan banyak lagi.
Syed Muhammad Naquib Al-Attas yang lahir pada 1931, adalah seorang filsuf Islam dengan pemikiran yang hebat. Pemikirannya cukup unik karena selain mendasarkan pada nilai-nilai yang terkandung dalam Islam, ia juga melakukan analisis bahasa dalam memahami perkembangan pendidikan Islam.
Konsep pendidikan Islam tidak pernah berhenti menjadi pembicaraan. Kontribusi Syed Naquib Al-Attas dalam dunia pendidikan Islam sangat besar. Ada tiga istilah dalam pendidikan menurut pandangannya, yaitu tarbiyah, ta'lim, dan ta'dib.
Namun, pemikiran Naquib Al-Attas tentang pendidikan Islam identik dengan ta'dib. Sebab dalam ta'dib, menurut dia, berarti ada pengajaran, ilmu, dan pendidikan dengan merumuskan kurikulum pendidikan Islam yang menggambarkan akhlak manusia dan hakikatnya.
Bila dirunut silsilah keluarganya, Al-Attas sampai kepada Rasulullah melalui Sayyidina Husein, cucu Nabi Muhammad. Nama lengkapnya Sayyid al-Habib, Prof. Syed Muhammad Naguib bin Syed Ali bin Abdullah bin Muhsin bin Muhammad bin Muhsin bin Husein bin al-Outub al-Habib Umar bin Abdurrahman al-Attas bin Agil bin Salim bin Abdullah bin Abdurraahman Assegaf bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi al-Ghuyyur bin Muhammad al-Fagih alMugaddam bin Ali bin Muhammad Sohib Mirbath bin Ali Khala Gasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa bin Muhammad anNagib bin Ali al-Uraidhi bin Jaafar as-Sadig bin Muhammad al-Bagir bin Ali Zainal Abiddin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib dan rekannya Fatimah al-Zahra, putri Nabi.
2. Al-Habib Umar Bin HafidzAl-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz lahir pada hari Senin, 27 Mei 1963. Ia adalah seorang ulama zaman modern. Dia tinggal di Tarim, Yaman. Di kota itu, dia membangun Darul Musthafa dan berbagai sekolah lain.
Dia sangat aktif dalam berdakwah. Setiap tahun, ia mengunjungi berbagai negara di dunia untuk menyebarkan ajaran Islam.
Madrasah Darul Musthafa sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Yaman. Melalui kajian ini banyak lahir ulama besar seperti Habib Ali Zainal Abidin alHamid, Habib Nael Ben Tahir, Syekh Abu Zaki al-Sanggafuri, Ustadz Ahmad Shadan, Ustaz Iqbal Zain dan asatizah lainnya.
Nama lengkapnya adalah al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafiz bin Abdullah bin Abu Bakar bin Aydrus bin Husin bin Syekh Abu Bakar bin Salim bin Abdullah bin Abdul Rahman bin Abdullah bin Syekh Abdul Rahman al-Saqaf bin Muhammad Maula al-Dawilah bin Ali Bin Alawi bin al-Faqih al-Muqadam Muhammad bin Ali bin Muhammad Sohib Mirbat bin Ali Khala' Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Imam al-Muhajir Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali al-Uraidi bin Jaafar al-Sadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abu Thalib dan Fatimah al-Zahra putri Nabi.
3. Syekh Ahmad Muhammad Al-TayyibProf. Dr. Syekh Ahmad Muhammad Al-Tayyib adalah Grand Syeikh ke-44 Al-Azhar As-Syarif. Ia telah menjadi Grand Syeikh sejak 2010 menggantikan Sheikh Muhammad Sayyid al-Thanthawy.
Ahmad al-Thayyib lahir di Qena, Mesir selatan pada tanggal 6 Januari 1946 M/3 Syafar 1365 H. Silsilahnya terhubung dengan Nabi Muhammad SAW melalui Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Dia memeluk mazhab aqidah Al-Asy'ari, mazhab fiqih Maliki, dan tarekat sufi Khalwati.
Beliau merupakan Profesor dalam bidang Aqidah Filsafat yang lancar berbahasa Prancis dan Inggris. Dia telah menerjemahkan banyak buku referensi berbahasa Prancis ke dalam bahasa Arab. Berkat kemahirannya dalam penguasaan bahasa, Ahmad al-Thayyib pernah bekerja sebagai dosen di Prancis selama masa penelitiannya.
Pengaruh ilmiah beliau sebagai intelektual terkemuka Ahlussunnah mencakup seluruh dunia. Beliau dikenal sebagai ulama moderat yang selalu menyerukan ukhuwah, persatuan dan tegas mengkritik Zionis Israel.
The Muslim 500: The World’s Most Influential Muslims menobatkan beliau sebagai muslim pertama yang paling berpengaruh di tahun 2017/2018. Beliau dikenal sebagai pembela Islam tradisional karena selalu menekankan misi untuk menghidupkan kajian Islam tradisional atau Turats. Beliau menekankan pentingnya tradisi pengajaran kitab klasik dan turats kepada mahasiswa Al-Azhar agar memiliki kedudukan yang kuat dan tidak mudah goyah dengan pengaruh buruk modernisasi.
Dia juga sebagai pemimpin Universitas Al-Azhar. Tak hanya memimpin, dia juga mengelola jaringan pendidikan Al-Azhar. Awalnya jaringan pendidikan Al-Azhar terdiri dari tiga fakultas di tahun 1950-an dan kini meningkat menjadi 72 fakultas.
Tercatat 300.000 mahasiswa dari berbagai negara, bila digabung dengan sekolah wakaf Al-Azhar, terdapat 2 juta siswa yang tengah menjalani pendidikan di bawah naungannya. Besarnya Al-Azhar membuat Syekh Ahmad Muhammad Al-Thayyib memiliki pengaruh luas dan kuat di Mesir dan dunia.
sumber: thepatriots.asia
(jqf)