Jangan Sepelekan Sirkulasi Rumah, Suaka Akhir Kala Pandemi
Ajeng ritzki
Rabu, 19 Januari 2022 - 12:50 WIB
Desain rumah dengan bukaan di setiap sisinya. Jangan menghabiskan lahan untuk bangunan, sediakan ruang terbuka untuk ventilasi udara. Foto: Langit7.id/Istock
Rumah bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah semesta mikro tempat aktivitas manusia dan keluarganya bermula. Keamanan, kenyamanan, kebersihan dan kesehatan harus hadir di sana.
Terlebih ketika pandemi, rumah menjadi tempat berlindung terakhir manusia. "Saat orang dipaksa untuk lebih lama tinggal di rumah dari biasanya, itu menunjukkan, sebenarnya rumah itu adalah sanctuary," kata Sekjen Ikatan Arsitektur Indonesia, cabang DKI Jakarta, Ariko Andikabina kepada Langit7.id pekan lalu.
Berfungsi sebagai suaka terakhir, imbuhnya, sudah seharusnya rumah dibangun untuk memenuhi syarat tersebut. "KIta (para arsitek-red) sejak dari bangku kuliah belajar bahwa salah satu yang utama dari rumah yakni penghawaan yang baik, dan itu harus alami," ujarnya.
"Rumah mesti didesain memiliki ventilasi silang. Aturan bahwa udara yang masuk harus bisa keluar itu baku. Udara sebisa mungkin tidak macet di dalam," tutur arsitek profesional yang berpraktik hampir 20 tahun itu. Bila dirancang seksama, rumah di lahan terbatas pun mampu memiliki sirkulasi udara sehat.
(Rumah di Batam rancangan Ariko Andikabina. Foto Worldarchitecture)
"Kita mesti menyadari sirkulasi udara secara alami lebih menyehatkan. Udara yang masuk diseleksi lalu dikeluargan lagi, justru penggunaan AC yang harus dibatasi," ujarnya. Apalagi kala pandemi disebabkan virus korona yang menyerang sistem pernafasan, yakni paru-paru.
Ia menyoroti penggunaan AC yang sudah menjadi budaya di masyarakat perkotaan Ariko juga menyayangkan perilaku menghabiskan lahan untuk bangunan rumah dan malah menggantungkan sirkulasi udara pada mesin pendingin udara.
Terlebih ketika pandemi, rumah menjadi tempat berlindung terakhir manusia. "Saat orang dipaksa untuk lebih lama tinggal di rumah dari biasanya, itu menunjukkan, sebenarnya rumah itu adalah sanctuary," kata Sekjen Ikatan Arsitektur Indonesia, cabang DKI Jakarta, Ariko Andikabina kepada Langit7.id pekan lalu.
Berfungsi sebagai suaka terakhir, imbuhnya, sudah seharusnya rumah dibangun untuk memenuhi syarat tersebut. "KIta (para arsitek-red) sejak dari bangku kuliah belajar bahwa salah satu yang utama dari rumah yakni penghawaan yang baik, dan itu harus alami," ujarnya.
"Rumah mesti didesain memiliki ventilasi silang. Aturan bahwa udara yang masuk harus bisa keluar itu baku. Udara sebisa mungkin tidak macet di dalam," tutur arsitek profesional yang berpraktik hampir 20 tahun itu. Bila dirancang seksama, rumah di lahan terbatas pun mampu memiliki sirkulasi udara sehat.
(Rumah di Batam rancangan Ariko Andikabina. Foto Worldarchitecture)
"Kita mesti menyadari sirkulasi udara secara alami lebih menyehatkan. Udara yang masuk diseleksi lalu dikeluargan lagi, justru penggunaan AC yang harus dibatasi," ujarnya. Apalagi kala pandemi disebabkan virus korona yang menyerang sistem pernafasan, yakni paru-paru.
Ia menyoroti penggunaan AC yang sudah menjadi budaya di masyarakat perkotaan Ariko juga menyayangkan perilaku menghabiskan lahan untuk bangunan rumah dan malah menggantungkan sirkulasi udara pada mesin pendingin udara.