Sejarah Berdirinya Muhammadiyah Surakarta, Tuan Rumah Muktamar ke-48
Fifiyanti Abdurahman
Jum'at, 18 November 2022 - 13:15 WIB
Sejarah Muhammadiyah Surakarta. Foto: PWPM Jateng.
Setelah 37 tahun berlalu, Muhammadiyah Surakarta (Solo) kembali menjadi tuan Rumah Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan Aisyiyah pada Jumat-Minggu, 18-20 November 2022.
Dosen Universitas 'Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Iwan KC Setiawan mengungkapkan bahwa ini kali ketiga Solo menjadi tuan rumah penyelenggaraan Muktamar Muhammadiyah. Kali pertama digelar tahun 1929, kemudian tahun 1985, dan 2022.
Baca juga: 39 Calon Ketua Umum Melaju ke Muktamar 48 Muhammadiyah
Menurut Iwan, Solo memiliki catatan tersendiri dalam sejarah Muhammadiyah. Melalui laman Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Tengah, dikutip Jumat (18/11/2022), Iwan menuliskan pemerintah Hindia Belanda sempat melarang Muhammadiyah berdiri di luar Yogyakarta.
"Muhammadiyah Surakarta didirikan langsung oleh Kiai Dahlan, founder persyarikatan Muhammadiyah. Sehingga perjalanan Muhammadiyah Surakarta memiliki banyak warna yang tidak kalah dengan sejarah Muhammadiyah Yogyakarta," jelas Iwan.
Selain Kiai Dahlan, terdapat beberapa nama tokoh-tokoh Islam yang juga ikut terlibat dalam berdirinya Muhammadiyah Surakarta. Mereka adalah Haji Misbah, Kiai Muhtar Bukhori, Surono, penerbit AB Siti Syamsiah, Majalah ADIL, Majalah Al-Fatch yang memiliki kisah yang Panjang dan patut dituliskan.
Kemudian, ketika Surakarta di awal abad 20, berdiri Sarikat Dagang Islam (SDI) yang menjadi Sarikat Islam (IS), yakni organisasi yang kemudian menjadi partai yang dipimpin Haji Omar Said Tjokroaminoto, dimana juga memiliki andil dalam berdirinya Muhammadiyah di Surakarta.
Dosen Universitas 'Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Iwan KC Setiawan mengungkapkan bahwa ini kali ketiga Solo menjadi tuan rumah penyelenggaraan Muktamar Muhammadiyah. Kali pertama digelar tahun 1929, kemudian tahun 1985, dan 2022.
Baca juga: 39 Calon Ketua Umum Melaju ke Muktamar 48 Muhammadiyah
Menurut Iwan, Solo memiliki catatan tersendiri dalam sejarah Muhammadiyah. Melalui laman Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Jawa Tengah, dikutip Jumat (18/11/2022), Iwan menuliskan pemerintah Hindia Belanda sempat melarang Muhammadiyah berdiri di luar Yogyakarta.
"Muhammadiyah Surakarta didirikan langsung oleh Kiai Dahlan, founder persyarikatan Muhammadiyah. Sehingga perjalanan Muhammadiyah Surakarta memiliki banyak warna yang tidak kalah dengan sejarah Muhammadiyah Yogyakarta," jelas Iwan.
Selain Kiai Dahlan, terdapat beberapa nama tokoh-tokoh Islam yang juga ikut terlibat dalam berdirinya Muhammadiyah Surakarta. Mereka adalah Haji Misbah, Kiai Muhtar Bukhori, Surono, penerbit AB Siti Syamsiah, Majalah ADIL, Majalah Al-Fatch yang memiliki kisah yang Panjang dan patut dituliskan.
Kemudian, ketika Surakarta di awal abad 20, berdiri Sarikat Dagang Islam (SDI) yang menjadi Sarikat Islam (IS), yakni organisasi yang kemudian menjadi partai yang dipimpin Haji Omar Said Tjokroaminoto, dimana juga memiliki andil dalam berdirinya Muhammadiyah di Surakarta.