LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua Umum PP Muhammadiyah,
Haedar Nashir, menjelaskan,
Muhammadiyah memiliki mekanisme tersendiri dalam pemilihan ketua umum. Pengurus pusat membentuk panitia pemilihan ketua umum yang bekerja menyeleksi para tokoh Muhammadiyah kurang lebih dua tahun sebelum
Muktamar.
Tahun ini, puluhan nama yang telah melewati tahap seleksi itu sudah disahkan sebanyak 39 orang melalui persidangan pada 5-6 November 2022 lalu. Selanjutnya, 39 calon pimpinan itu diseleksi lagi pada 19 November 2022 malam.
“Nanti, dalam hal pemilihan, 39 calon akan dipilih pada 19 November malam hari untuk dipilih 13 calon saja. 13 terpilih itulah yang nanti akan menjadi pimpinan pusat Muhammadiyah, dan memilih ketua Umum. Pemilihan ketua umum dibawa lagi ke Muktamar itu, di sidang pleno untuk disahkan,” kata Haedar Nashir dalam Konferensi Pers Jelang
Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan Aisyiyah secara daring, Rabu (16/11/2022).
Baca Juga: Din Syamsuddin Dorong Restrukturisasi Jajaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Haedar menjelaskan, Muktamar Muhammadiyah kali ini memang spesial karena ada dua tahap persidangan. Sidang pertama pembahasan materi sudah digelar pada 5-6 November 2022. Sidang itu digelar secara luring dan daring membahas seluruh materi Muktamar, kecuali pemilihan pimpinan.
Dengan begitu, PP Muhammadiyah memiliki jeda waktu untuk menerima masukan, tanggapan, dan kritikan sebelum Muktamar digelar. Anggota Muhammadiyah boleh memberikan masukan terhadap laporan Muhammadiyah-Aisyiyah, program, risalah Islam berkemajuan, risalah perempuan berkemajuan, serta isu-isu strategis keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan universal.
“Nanti, hasil dari pembahasan dan masukan itu, di Muktamar hanya dua hari sebenarnya kita tinggal sidang Pleno. Dalam sidang Pleno itulah, keputusan itu diambil. Jadi, hikmahnya Pandemi Covid-19 dan menggunakan IT, kita bisa membawa materi muktamar sudah dibahas lewat persidangan lalu nanti tinggal mengambil keputusan di Muktamar,” ujar Haedar.
Baca Juga: Haedar Nashir Digadang-gadang Maju Kembali dalam Muktamar
Sebelum Muktamar, pada 18 November 2022 nanti, Muhammadiyah akan menggelar Sidang Tanwir. Haedar menyebut Sidang Tanwir merupakan sidang tertinggi di bawah muktamar.
Sidang itu akan mengesahkan materi-materi persidangan 5-6 November 2022 dan mengesahkan calon-calon pimpinan yang sudah diseleksi oleh panitia pemilihan ketua umum.
“Baik materi maupun proses pemilihan muktamar memang sudah berjenjang dalam tempo 2 tahun sebelumnya, sudah mengalami proses seleksi. Maka, tidak akan ada tambahan di tengah jalan, siapapun dia, dan tidak memungkinkan ada intervensi dari dalam maupun luar, sehingga proses itu akan berjalan objektif,” kata Haedar.
(jqf)