LANGIT7.ID-Jakarta; Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan pentingnya nilai dasar kepribadian Muhammadiyah dalam mengelola Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Pesan itu ia sampaikan saat memberikan arahan dalam kegiatan Darul Arqom Badan Pembina Harian (BPH) Penyelenggara dan Direksi RS Muhammadiyah Aisyiyah se-Indonesia Batch ke-5.
Menurut Haedar, identitas Muhammadiyah tidak bisa dilepaskan dari nilai yang melandasi gerakannya. Nilai tersebut membentuk pola pikir hingga tindakan nyata, serta menjadi pedoman dalam mengaktualkan dakwah berkemajuan.
“Kalau kita bicara kepribadian Muhammadiyah itu tidak lepas dari value yang menjadi dasar berharga yang membentuk kepribadian dan di aktualisasikan dalam sistem, alam pikiran, kemudian sampai pada tindakan,” jelasnya dikutip dari situs Muhammadiyah, Rabu (1/10/2025).
Tauhid Sebagai Dasar Peradaban SosialDalam kesempatan itu, Haedar mengingatkan kembali bahwa fondasi dakwah Muhammadiyah berakar pada tauhid. Prinsip ini, kata dia, tidak hanya sebatas hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga berdampak langsung pada relasi sosial.
“Tauhid itu mengesakan Allah dan tidak menyekutukan-Nya. Tauhid di Muhammadiyah bukan sekadar hablum minallah saja, namun lebih dari itu, juga hablum minannas. Artinya, tauhid ini menjadi dasar dalam kita membangun peradaban sosial, dan menghadirkan kemaslahatan,” ungkapnya.
Peran Ijtihad dan TajdidHaedar juga mengingatkan agar Muhammadiyah tidak berhenti pada pola kerja rutin. Ia mendorong gerakan ini untuk terus menghidupkan ijtihad dan tajdid sebagai motor pembaruan, baik dalam pemikiran maupun praksis sosial. Dengan begitu, Muhammadiyah tetap relevan dalam merespons perubahan zaman.
Washatiyah dalam GerakanSelain itu, Haedar menekankan pentingnya sikap moderat atau washatiyah dalam setiap langkah Muhammadiyah. Prinsip ini berarti menjaga keseimbangan dalam beragama, tidak berlebihan ataupun mengurangi ajaran, sekaligus didasari ilmu dan pemahaman konteks.
“Beragama dalam Muhammadiyah itu adalah washatiyah atau tengahan, yang mana dalam melakukan gerakannya Muhammadiyah tidak boleh berlebih-lebihan dan tidak mengurang-ngurangkan. Dalam hal ini, maka penting bagi kita untuk memiliki ilmu dan mengetahui konteks atas berbagai macam hal,” ujar Haedar.
Muhammadiyah Sebagai Rahmat bagi SemestaDi penghujung pemaparannya, Haedar menegaskan bahwa keberadaan Muhammadiyah melalui AUM harus menghadirkan rahmat bagi seluruh kehidupan. Islam, menurutnya, tidak hanya berbicara hitam putih atau benar salah, tetapi juga bagaimana mengelola dunia dengan penuh kearifan dan keberadaban.
“Ada banyak dimensi dalam kehidupan kita yang menyangkut sistem kehidupan yang luas. Islam ini bukan sekadar hitam dan putih saja, benar dan salah saja, namun juga soal bagaimana kita mengelola dunia dengan penuh kebijakan dan keberadaban. Maka, kita harus memiliki ilmu itu supaya Muhammadiyah dapat terus kokoh menggerakkan Amal Usaha kita yang berkemajuan,” pesan Haedar.
(lam)