Penulis dan Penerbit Berjuang Lawan Pembajakan Buku yang Tak Ada Habisnya
Muhajirin
Kamis, 01 Desember 2022 - 19:40 WIB
Ilustrasi (foto: langit7.id/istock)
Pembajakan buku menjadi masalah serius yang tak ada habisnya di Indonesia. Berbagai buku mengalami pembajakan mulai dari buku bersifat akademis sampai buku-buku sastra seperti novel. Berdasarkan data Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) pada tahun 2019, kerugian akibat pembajakan yang dialami 11 penerbit saja menyentuh angka Rp116 Miliar. Padahal ada ribuan penerbit di Indonesia.
Pembajakan buku sering disebut dengan istilah ‘KW’ kepanjangan dari Kwalitas yang tak lain adalah barang tiruan atau imitasi. Buku KW ini tentu memiliki kualitas yang jauh berbeda dari buku asli. Sebenarnya, mengenal buku KW cukup mudah. Bisa dilihat dari lem yang digunakan, jilid mudah rusak, dan penggunaan kertas yang murah. Kualitas tulisan pun berasal dari foto copy.
Penulis, Jombang Santani Khairen (J.S Khairen) mengungkapkan, masalah pembajakan buku menjadi salah satu masalah serius yang diperhatikan para penulis. Terkhusus penulis sastra seperti novel.
Baca Juga:Mengenal Z-Library, Situs Penyedia Jutaan E-Book Gratis yang Diblokir FBI
J.S Khairen menyebut para penulis novel memiliki komunitas khusus. Di dalam komunitas itu sering terjadi obrolan mengenai pembajakan buku. Banyak cara yang dilakukan. Hal pertama tentu edukasi agar masyarakat mau membeli buku asli, karena secara tidak langsung sudah membantu industri buku di Tanah Air.
Setelah edukasi tidak mempan, atau tidak ramai alias viral, para penulis ini biasanya menulis artikel ‘marah-marah’. Mereka ingin memarahi masyarakat yang masih saja suka membeli buku-buku KW.
“Kami itu satu tempat diskusi. memang beda-beda cara merespon pembajakan buku. Ada yang memang marah-marah. Tapi seringnya edukasi. Tapi kalau edukasi tidak ada yang lihat, tidak rame. Giliran marah-marah, dibilang penulis kok marah-marah,” kata J.S Khairen dalam temu pembaca di acara Jakbook Perumda Pasar Jaya, Senen, Jakarta Pusat, Kamis sore (1/12/2022).
Pembajakan buku sering disebut dengan istilah ‘KW’ kepanjangan dari Kwalitas yang tak lain adalah barang tiruan atau imitasi. Buku KW ini tentu memiliki kualitas yang jauh berbeda dari buku asli. Sebenarnya, mengenal buku KW cukup mudah. Bisa dilihat dari lem yang digunakan, jilid mudah rusak, dan penggunaan kertas yang murah. Kualitas tulisan pun berasal dari foto copy.
Penulis, Jombang Santani Khairen (J.S Khairen) mengungkapkan, masalah pembajakan buku menjadi salah satu masalah serius yang diperhatikan para penulis. Terkhusus penulis sastra seperti novel.
Baca Juga:Mengenal Z-Library, Situs Penyedia Jutaan E-Book Gratis yang Diblokir FBI
J.S Khairen menyebut para penulis novel memiliki komunitas khusus. Di dalam komunitas itu sering terjadi obrolan mengenai pembajakan buku. Banyak cara yang dilakukan. Hal pertama tentu edukasi agar masyarakat mau membeli buku asli, karena secara tidak langsung sudah membantu industri buku di Tanah Air.
Setelah edukasi tidak mempan, atau tidak ramai alias viral, para penulis ini biasanya menulis artikel ‘marah-marah’. Mereka ingin memarahi masyarakat yang masih saja suka membeli buku-buku KW.
“Kami itu satu tempat diskusi. memang beda-beda cara merespon pembajakan buku. Ada yang memang marah-marah. Tapi seringnya edukasi. Tapi kalau edukasi tidak ada yang lihat, tidak rame. Giliran marah-marah, dibilang penulis kok marah-marah,” kata J.S Khairen dalam temu pembaca di acara Jakbook Perumda Pasar Jaya, Senen, Jakarta Pusat, Kamis sore (1/12/2022).