LANGIT7.ID, Jakarta - Pembajakan
buku menjadi masalah serius yang tak ada habisnya di Indonesia. Berbagai buku mengalami pembajakan mulai dari buku bersifat akademis sampai buku-buku sastra seperti novel. Berdasarkan data Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) pada tahun 2019, kerugian akibat pembajakan yang dialami 11 penerbit saja menyentuh angka Rp116 Miliar. Padahal ada ribuan penerbit di Indonesia.
Pembajakan buku sering disebut dengan istilah ‘KW’ kepanjangan dari
Kwalitas yang tak lain adalah barang tiruan atau imitasi. Buku KW ini tentu memiliki kualitas yang jauh berbeda dari buku asli. Sebenarnya, mengenal buku KW cukup mudah. Bisa dilihat dari lem yang digunakan, jilid mudah rusak, dan penggunaan kertas yang murah. Kualitas tulisan pun berasal dari
foto copy.
Penulis,
Jombang Santani Khairen (J.S Khairen) mengungkapkan, masalah pembajakan buku menjadi salah satu masalah serius yang diperhatikan para penulis. Terkhusus penulis sastra seperti novel.
Baca Juga: Mengenal Z-Library, Situs Penyedia Jutaan E-Book Gratis yang Diblokir FBI
J.S Khairen menyebut para penulis novel memiliki komunitas khusus. Di dalam komunitas itu sering terjadi obrolan mengenai pembajakan buku. Banyak cara yang dilakukan. Hal pertama tentu edukasi agar masyarakat mau membeli buku asli, karena secara tidak langsung sudah membantu industri buku di Tanah Air.
Setelah edukasi tidak mempan, atau tidak ramai alias viral, para penulis ini biasanya menulis artikel ‘marah-marah’. Mereka ingin memarahi masyarakat yang masih saja suka membeli buku-buku KW.
“Kami itu satu tempat diskusi. memang beda-beda cara merespon pembajakan buku. Ada yang memang marah-marah. Tapi seringnya edukasi. Tapi kalau edukasi tidak ada yang lihat, tidak rame. Giliran marah-marah, dibilang penulis kok marah-marah,” kata J.S Khairen dalam temu pembaca di acara Jakbook Perumda Pasar Jaya, Senen, Jakarta Pusat, Kamis sore (1/12/2022).
Di sisi lain, penerbit dan penulis juga sudah bekerjasama untuk melawan pembajakan ini. Para penulis menyiapkan naskah yang berkualitas, sehingga ada
value atau nilai lebih dari buku-buku
original.
Baca Juga: HAKI dalam Islam: Haram Dicuri, Wajib Dilindungi seperti Kepemilikan Benda Fisik
“Dari produknya dulu. Kalau produknya bagus, ceritanya oke, dan orang yang melihat kualitas pasti tidak akan pernah membeli novel bajakan. Berarti ada value dari buku itu. Ada memang pembaca setia yang selalu ada. Orang-orang seperti ini yang akan membantu memberantas pembajakan buku,” kata J.S Khairen.
Selain itu, penerbit biasanya menyelipkan satu kertas hitam bertulis tinta putih di dalam buku. Cara ini cukup efektif, sebab tulisan tidak akan tampak jika di-
foto copy. Biasanya ada beberapa lembar dalam buku. J.S Khairen sudah melakukan ini.
“Kemudian, di dalam buku itu ada halaman-halaman yang ditulis menggunakan kertas hitam dengan tulisan putih. Begitu di
foto-copy, tidak terlihat. Baca tuh buku (bajakan) tidak ada tulisan. Jadi, ujung-ujungnya beli lagi. Kasihan. Pokoknya ada halaman hitam, tulisannya putih. Di foto copy, jadi tidak ada. Jelek,” ujarnya.
Para penulis juga sering memberikan apresiasi kepada pembaca setia berupa tanda tangan dan
merchandise. Dengan begitu, pembaca merasa tertarik untuk membeli buku-buku original. Ini biasa dilakukan saat
pre-order.
Baca Juga: Ustadz Rahman: Ambil Hak Orang Lain Sama dengan Aniaya
“Jadi, mengakalinya dengan komunitas yang kuat. Saya punya grup telegram yang berisi 5.000-an orang. Isinya orang yang sudah baca buku saya minimal tiga judul. Mereka pembaca setia. Mereka itu sudah siap beli yang asli. Dan saya pun kayak teman dengan mereka,” kata J.S Khairen.
Para penerbit juga terus melakukan edukasi ke masyarakat. Sudah banyak penerbit yang bekerjasama dengan penyedia jasa jualan
online. Di sisi lain, ada beberapa penyedia jasa jualan online juga yang memiliki tim khusus melawan pembajakan.
“Selain itu, banyak pula
olshop yang yang membuat tim khusus memberantas buku-buku bajakan. Sekarang kan kalau mau jual buku online harus punya sertifikat dari penerbit. Jadi kalau
lu enggak punya, otomatis
lu dianggap bajakan. Jadi, penerbit itu sudah pintar juga,” tuturnya.
Baca Juga: Jatuh Bangun JS Khairen Jadi Novelis, Sempat Menulis Pakai Mesin Tik Jadul
J.S Khairen menjelaskan, maraknya pembajakan buku kerap terjadi karena harga lebih murah. Mereka tidak perlu membayar editor, royalti, hingga pembuat ilustrasi. Harga bisa 20%-30% di bawah harga buku asli.
Masalah ini pun terus diatasi beberapa penerbit. Misalnya, penerbit menyediakan e-book dengan harga yang lebih murah. Harga bisa bersaing dengan buku bajakan. Itu diharapkan masyarakat bisa beralih ke buku original.
“Nah, penerbit sudah ada yang berpikir, sepertinya kendalanya di edukasi, kedua memang ada jenis orang yang ingin bajakan harga murah. Makanya diterbitkan
e-book bisa didapatkan di
google play.
Google play kan harganya bisa 1/3. Tidak sama dengan bajakan,” ujar J.S Khairen.
(jqf)